CERAKEN.ID — Buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dijilid rapi. Ia adalah ruang penyimpanan ingatan, tempat sejarah bertahan dari lupa dan gagasan tetap hidup melintasi generasi. Dalam dunia kesenian, buku bahkan menjadi medium penting untuk merekam dinamika pemikiran, perdebatan, dan cita-cita para pelaku budaya.
Kesadaran itulah yang mendorong buku Kamar Pertemuan Seniman didonasikan ke Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas), agar dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, dan kalangan akademisi yang ingin memahami perjalanan kesenian Sulawesi Selatan.
Donasi buku tersebut diserahkan oleh Rusdin Tompo kepada Anshar Saud, dosen Fakultas Farmasi sekaligus Sekretaris Perpustakaan Unhas, pada 20 Mei 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rusdin Tompo merupakan editor buku yang diterbitkan De La Macca pada April 2026 bersama Dr. Nurlina Sjahrir. Penyerahan itu berlangsung bertepatan dengan Pekan Literasi Buku yang diselenggarakan Perpustakaan Unhas dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional 2026.
Menemukan Kembali Arsip yang Terlupakan
Ketertarikan Rusdin Tompo terhadap naskah Kamar Pertemuan Seniman bermula ketika Goenawan Monoharto memperlihatkan fotokopi naskah berjudul Memorie dari Benteng Udjung Pandang, 29 Djuni 1969: KAMAR PERTEMUAN SENIMAN. Setelah membaca sekilas isi dokumen tersebut, Rusdin langsung mengusulkan agar naskah itu diterbitkan.
Keputusan tersebut tidak lahir tanpa pertimbangan. Ia terlebih dahulu memastikan bahwa dokumen berharga itu belum pernah diterbitkan sebelumnya. Setelah diyakini sebagai arsip yang belum pernah hadir dalam bentuk buku, keduanya sepakat untuk menerbitkannya.
Dalam pengantar buku, Rusdin menjelaskan alasan di balik antusiasmenya. “Naskah itu merekam pertukaran ide, gagasan, dan visi tokoh-tokoh Sulawesi Selatan yang kita kenal sebagai intelektual, seniman, budayawan, dan wartawan kawakan,” tulisnya.
Bagi Rusdin, dokumen itu bukan sekadar arsip sejarah. Ia adalah rekaman penting mengenai bagaimana para pemikir dan pelaku kebudayaan pada masanya merumuskan arah perkembangan seni dan kebudayaan di Sulawesi Selatan.
Forum yang Melahirkan Gagasan Besar

Isi buku membawa pembaca kembali ke tahun 1969, ketika sejumlah tokoh berkumpul di kawasan Benteng Ujung Pandang untuk membahas masa depan kesenian daerah. Di dalam naskah setebal sekitar 40 lembar itu, tercatat sambutan dari Gubernur Sulawesi Selatan Achmad Lamo dan Wali Kota Makassar HM Daeng Patompo.
Daeng Patompo bahkan menempatkan kebudayaan sebagai salah satu pilar utama pembangunan kota. Dalam sambutannya, ia mencanangkan Makassar sebagai kota budaya yang berkembang bersama sektor perdagangan dan industri.
Forum tersebut menghadirkan panelis terkemuka seperti Mattulada, Hamzah Daeng Mangemba, Henk Rondonuwu, dan Arsal Alhabsi. Diskusi semakin kaya karena ditanggapi secara tertulis oleh sejumlah tokoh, antara lain Andi Abubakar Punagi, M. Riza, Ali Walangadi, Anwar Hafid, Hisbuldin Patunru, Husni Djamaluddin, Manshoer Manaungi, dan A. Moein MG.
Keistimewaan forum ini terletak pada dokumentasinya. Seluruh tanggapan tertulis dihimpun menjadi satu kesatuan dokumen, sehingga pembaca masa kini dapat mengikuti secara utuh alur perdebatan dan pertukaran gagasan yang terjadi lebih dari setengah abad lalu.
Perupa Ali Walangadi mencatat bahwa kegiatan tersebut tidak diprakarsai oleh organisasi kesenian ataupun lembaga pemerintah, melainkan oleh perseorangan. Sementara itu, Manshoer Manaungi memberikan penghargaan kepada Moh. Anis sebagai penggagas kegiatan tersebut dengan mengutip Al-Ghazali, “Sesuatu yang bermutu tinggi lagi mulia, panjang jalannya, sukar menempuhnya, dan banyak rintangannya.”
Dari Ruang Diskusi Menjadi Lembaga Kesenian
Salah satu nilai penting buku ini adalah kemampuannya menjelaskan asal-usul lahirnya Dewan Kesenian Makassar (DKM). Melalui berbagai pandangan yang termuat dalam dokumen, pembaca dapat memahami situasi kesenian Sulawesi Selatan pada masa itu, ketika kelompok-kelompok seni masih berada dalam suasana friksi dan kompetisi yang dipengaruhi afiliasi politik.
Dari ruang diskusi itulah muncul kesadaran akan pentingnya sebuah lembaga kesenian yang lebih otonom. Beberapa bulan kemudian, tepat pada 25 Juli 1969, Dewan Kesenian Makassar resmi berdiri. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam sejarah perkembangan seni dan budaya di daerah tersebut.
Nama-nama seperti Hamzah Daeng Mangemba, Mattulada, Ali Walangadi, Rahman Arge, Arsal Alhabsi, Husni Djamaluddin, Aspar Paturusi, Andi Hisbuldin Patunru, Sakka Ali Jatimayu, M. Saleh Mallombasi, dan Ichsan Saleh tercatat sebagai penandatangan pembentukan DKM. Dari deretan tokoh itu, Aspar Paturusi menjadi satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup hingga kini.
Donasi buku Kamar Pertemuan Seniman ke Perpustakaan Unhas pada akhirnya bukan sekadar penambahan koleksi bacaan. Ia merupakan upaya merawat memori kolektif kebudayaan Sulawesi Selatan.
Melalui buku itu, generasi hari ini dan masa depan dapat menelusuri jejak pemikiran para pendahulu, memahami bagaimana gagasan-gagasan besar lahir, serta menyadari bahwa kemajuan kebudayaan selalu berawal dari ruang-ruang pertemuan yang memberi tempat bagi dialog dan pertukaran pikiran. (*)
Editor : ceraken editor































































