Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen

Senin, 20 April 2026 - 09:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Talkshow & Bedah Buku

Peserta Talkshow & Bedah Buku "Menghidupkan Sejarah dan Memikat Penerbit" di Alliance Francaise Makassar (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Sejarah bukan saja sebagai ilmu dan informasi, juga pembelajaran yang dibahas di bangku sekolah dan ruang kuliah. Namun juga merupakan kepingan mosaik inspirasi yang menarik untuk dikembangkan sebagai karya fiksi, khususnya cerpen.

Materi sejarah sebagai sumber inspirasi penulisan cerpen ini dikemukakan oleh Adil Akbar, penulis buku “Secangkir Kopi yang Berkisah”, dalam Talkshow & Bedah Buku bertema “Menghidupkan Sejarah dan Memikat Penerbit” di Alliance Francaise Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Pantai Losari, Minggu, 19 April 2026.

“Saya menulis cerpen berlatar sejarah sebagai cara saya memikat siswa-siswa saya untuk mendalami sejarah,” ungkap Adil Akbar, yang berprofesi sebagai guru dan mengajar di SMKN 10 Makassar itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis yang merupakan alumni Pendidikan Sejarah UNM (2016), dan Magister Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2019) PPs UNM ini, mengaku banyak termotivasi oleh dosen-dosennya, di antaranya Suryadi Mappangara dan Alwy Rachman.

Lelaki kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 6 April 1993 ini memberi alasan, mengapa judul bukunya “Secangkir Kopi yang Berkisah”. Katanya, itu lantaran cerpen-cerpennya kebanyakan ditulis di warkop, di antara keramaian pengunjung.

“Cerpen-cerpen berlatar sejarah ini dihasilkan setelah saya membaca buku, dan melakukan riset,” kata empunya nama pena Adil Akbar Ilyas Ibrahim Husain itu, sembari menunjukkan buku-buku yang dimaksud.

Antologi cerpen “Secangkir Kopi yang Berkisah”, merupakan buku ketiganya. Sebelumnya, ia menerbitkan buku kumpulan cerpen “Seorang Lelaki yang Berkisah” (2021), dan “Hikayat dalam Secangkir Kopi” (2025).

Baca Juga :  Berpikir dari Masa Depan: Ketika Bisnis Diminta Menjadi Lebih dari Sekadar Untung

Kegiatan Talkshow & Bedah Buku ini dipandu oleh Oskar, dari Tim Diskusi Buku Bareng. Dua sahabatnya, Uni dan Yul juga hadir di antara peserta.

Selain itu, hadir pula antara lain Randy Prayuda (Médiathéque Alliance Francaise), Yudhistira Sukatanya (sutradara teater, sastrawan, dan budayawan), Dr Fadli Andi Natsif (akademisi UIN Alauddin, Makassar, dan penulis), Arif Sikki (guru dan penulis), serta sejumlah peserta dari komunitas literasi dan mahasiswa.

Adil Akbar. Proses kreatif penulisan buku terinspirasi dosen-dosennya saat S2, dan riset membaca banyak buku sejarah (Foto: ist/ceraken.id)

Setelah pengantar proses kreatif oleh menulis buku, dilanjutkan dengan bedah buku. Rusdin Tompo, penulis dan pegiat literasi, diberi kesempatan pertama. Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan ini memuji Adil Akbar yang punya idealisme dalam menulis cerpen.

“Latar belakang penulis akan ikut mempengaruhi motivasi dan sudut pandang karyanya,” kata Rusdin Tompo.

Menurutnya, cerpen-cerpen Adil Akbar ada yang berlatar sejarah, ada pula yang merupakan cerpen sejarah. Dalam cerpen-cerpennya, kata dia, penulis menyisipkan pesan multikulturalisme, yang menunjukkan bahwa dia menghargai perbedaan dan keragaman budaya.

Baca Juga :  Mengapa Kita Budak Algoritma?

Sementara Muhajir MA, pegiat literasi dan jurnalis, menilai unsur sejarah dalam cerpen-cerpen Adil Akbar, merupakan kekuatannya.

Disampaikan, dalam menulis cerpen sebagaimana dilakukan Adil Akbar, mesti lebih sabar. Tidak perlu tergesa-gesa. Walau dipahami, kadang, batasan jumlah kata yang ditentukan redaksi media, bisa jadi kendalanya.

“Bila saja karakter tokohnya bisa dihidupkan, maka cerpen yang dihasilkan akan jauh lebih menarik,” terang Muhajir yang mendaku mendalami filsafat itu.

Pembahas ketiga, yakni Ferdhiyadi, pegiat literasi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial-Hukum UNM, merupakan sahabat lama Adil Akbar, sehingga ia cukup mengenal baik penulis.

Ferdhi menyoroti tokoh-tokoh besar yang dihadirkan dalam cerpen-cerpen “Secangkir Kopi yang Berkisah”, yang berasal dari kalangan bangsawan, tokoh politik, atau petinggi militer.

“Sebenarnya menarik bila penulis lebih menonjolkan sudut pandang orang biasa dalam cerpennya. Karena selama ini suasana dan gejolak batin orang biasa jarang diungkap dalam cerpen berlatar sejarah,” papar Ferdhiyadi.

Usai pembahasan buku antologi cerpen, dilanjutkan dengan talkshow sekaitan dengan penerbitan buku yang naskahnya siap cetak. Sesi yang dibawakan oleh A Nursayyidatul Lutfiah dari Forum Lingkar Pena (FLP) sekaligus membuka kelas menulis bagi peserta yang hadir. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan rt

Berita Terkait

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius
Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak
Mengapa Kita Budak Algoritma?
Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa
Moment of Truth di Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone
Paradoks Hamlet dan Dilema Strategi: Ketika “Kejam” Menjadi Jalan Menuju Kebaikan
Berpikir dari Masa Depan: Ketika Bisnis Diminta Menjadi Lebih dari Sekadar Untung
Membaca Jejak Keterbukaan dr. Jack melalui Buku tentang RSUD NTB

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 09:02 WITA

Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen

Jumat, 17 April 2026 - 21:15 WITA

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Minggu, 5 April 2026 - 14:47 WITA

Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak

Sabtu, 4 April 2026 - 17:20 WITA

Mengapa Kita Budak Algoritma?

Senin, 30 Maret 2026 - 06:15 WITA

Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa

Berita Terbaru

Momentum ini seolah menjadi cermin kecil dari wajah Mataram yang sesungguhnya/ (Foto: tk=diskominfo/ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Mataram Tanpa Sekat: Merawat Kebersamaan dalam Keberagaman

Senin, 20 Apr 2026 - 10:00 WITA

Peserta Talkshow & Bedah Buku

BEDAH BUKU

Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen

Senin, 20 Apr 2026 - 09:02 WITA

Penulis dan Tim WRI  menyusuri Sungai Tallo menuju Pulau Lakkang (Foto: ist/ceraken.id)

OPINI

Isu Mobilitas Berkelanjutan di Dua Jalur ke Lakkang

Senin, 20 Apr 2026 - 07:23 WITA

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:20 WITA