Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

- Penulis

Rabu, 8 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ridwan Mappa (berdiri tiga dari kanan) bersama narasumber Rusdin Tompo (baju batik, di belakang) dan peserta Co-Creation Inklusif yang diadakan di Sekretariat Yayasan PerDIK (foto: ist/ceraken.id)

Ridwan Mappa (berdiri tiga dari kanan) bersama narasumber Rusdin Tompo (baju batik, di belakang) dan peserta Co-Creation Inklusif yang diadakan di Sekretariat Yayasan PerDIK (foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pelestarian sejarah dan budaya Sulawesi Selatan perlu didorong lebih inklusif dan dapat diakses oleh semua kalangan, khususnya ragam disabilitas. Pemikiran ini jadi dasar penyelenggaraan kegiatan Workshop Co-Creation Inklusif bertema “Menjalin Risalah, Menjaga Warisan, Mengukir Hikayat yang Inklusif bagi Semua”.

Workshop diadakan pada Sabtu-Minggu (4-5/4/2026), di Sekretariat Yayasan PerDIK, Perumahan Villa Permata Harapan Blok B/10, Jalan Daeng Tata Raya, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

“Workshop ini merupakan bagian dari pengembangan Program Riwayat, sebuah inisiatif platform budaya inklusif yang mengedepankan partisipasi aktif disabilitas dalam proses penciptaan konten sejarah dan budaya,” jelas Ridwan Mappa, selaku penanggung jawab program.

Pria yang akrab disapa Daeng Maliq itu menambahkan, Workshop Co-Creation Inklusif didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana. Menurutnya, dukungan yang diberikan sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Co-Creation merupakan kolaborasi aktif dan setara antara pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan nilai, ide, dan produk baru.

Workshop ini, menghadirkan dua narasumber, yakni Edy Thamrin dan Rusdin Tompo.

Eddy Thamrin, yang populer dengan nama Yudhistira Sukatanya, merupakan budayawan, sastrawan, dan sutradara teater.

Seniman yang mengakrabi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan itu, banyak memberikan pengayaan perspektif, dan pemetaan potensi konten budaya dengan perspektif inklusif sejak tahap ide.

Sementara Rusdin Tompo, seorang penulis buku, trainer/pembicara seminar, pegiat literasi, dan pernah menjadi jurnalis radio, berbagi pengalaman bagaimana mengolah ide menjadi karya yang komunikatif, inklusif, dan kontekstual.

Baca Juga :  Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Penerjemah bahasa isyarat hadir dalam Workshop Co-Creation Inklusif (foto: ist/ceraken.id)

“Saya senang diajak berkolaborasi dalam Co-Creation Inklusif ini, sebagai bentuk dukungan terhadap Program Riwayat,” kata Rusdin Tompo antusias.

Dalam kerangka acuan kegiatan Co-Creation Inklusif disebutkan bahwa Sulawesi Selatan adalah ruang ingatan yang luas. Di dalamnya tersimpan jejak kerajaan, suara laut para pelaut, kisah perlawanan, hingga tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, sayangnya, kekayaan ini tidak selalu dapat dijangkau oleh semua orang secara setara.

“Bagi ragam disabilitas, akses terhadap pengetahuan sejarah dan budaya masih sering terhalang. Informasi yang tersedia belum sepenuhnya ramah. Banyak yang bergantung pada visual tanpa alternatif, banyak yang tidak menyediakan narasi audio, banyak pula yang menggunakan bahasa yang sulit dipahami,” papar Ridwan Mappa.

Akibatnya, kata dia, sejarah dan budaya yang seharusnya menjadi milik bersama justru terasa jauh bagi sebagian orang. Pengalaman ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah kenyataan kolektif.

Dikemukakan, banyak penyandang disabilitas tumbuh tanpa akses yang memadai terhadap cerita tentang tanahnya sendiri.

Padahal, mengenal sejarah dan budaya bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru. Informasi kini dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Teks, audio, visual, dan kombinasi di antaranya dapat dirancang agar lebih adaptif.

Baca Juga :  Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Sejarah dan budaya bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat. (Foto: ist/ceraken.id)

Workshop Co-Creation Inklusif ini dirancang sebagai ruang bersama untuk memulai proses tersebut. Ruang untuk belajar, berbagi, dan mencipta.

Peserta yang merupakan kolaborator dari berbagai ragam disabilitas, meliputi disabilitas netra, disabilitas tuli atau pendengaran, disabilitas fisik, disabilitas psikososial, dan disabilitas intelektual, diajak menggali sejarah, mengenali warisan, lalu mengolahnya menjadi bentuk cerita yang baru.

Yakni, cerita yang lebih terbuka. Cerita yang lebih ramah. Juga cerita yang dapat diakses oleh semua.

“Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali disabilitas dengan warisan budayanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, pendekatan Co-Creation Inklusif menjadi penting,” imbuh Ridwan Mappa.

Sehingga, kata dia, disabilitas tidak lagi ditempatkan sebagai penerima informasi semata, tetapi sebagai subjek yang aktif mencipta, menafsirkan, dan menyampaikan ulang cerita.

Dengan melibatkan ragam disabilitas secara langsung, konten yang dihasilkan tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih adil dan representatif.

Harapannya, bakal lahir konten-konten budaya yang tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih inklusif.

“Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja,” pungkas Ridwan Mappa. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan rt

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA