Merajut Masa Depan dari Kuala Lumpur: Sains, Kolaborasi, dan Harapan Global

- Penulis

Sabtu, 14 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ilmu pengetahuan adalah bahasa universal (Foto: ist/ceraken.id)

Ilmu pengetahuan adalah bahasa universal (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Konferensi ilmiah kerap dipahami sekadar sebagai forum akademik yang dipenuhi presentasi makalah dan diskusi metodologi. Namun sejatinya, konferensi adalah ruang perjumpaan gagasan yang melampaui batas geografi, disiplin ilmu, bahkan generasi.

Itulah yang tercermin dalam International Conference on Science, Technology, Education, and Tourism (ICSTET) yang akan digelar di Kuala Lumpur pada 3–5 Juli 2026. Ada pun Abstract Submission telah dimulai pada 1 Februari dan berakhir hingga 15 Maret 2026.

Forum ini menghadirkan panggung dialog bagi para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan pemikir dari berbagai negara untuk merajut percakapan tentang masa depan yang berkelanjutan.

Dari isu energi terbarukan hingga transformasi digital, dari pendidikan inklusif hingga pariwisata berkelanjutan, ICSTET memosisikan ilmu pengetahuan sebagai jembatan peradaban yang mempertemukan harapan dan tindakan.

Dalam ruang pertemuan seperti ini, gagasan tidak berhenti pada konsep, tetapi bergerak menuju kemungkinan kolaborasi nyata. Sebab sains menjadi bermakna ketika pengetahuan melintasi batas negara dan menjelma menjadi kerja sama lintas komunitas global.

Baca Juga :  Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif

Kehadiran para keynote speakers dari beragam latar belakang; akademisi, pejabat publik, hingga pemimpin institusi, menunjukkan bahwa masa depan tidak pernah dibangun oleh satu disiplin saja.

Ketika sains bertemu kebijakan, dan teknologi berdialog dengan nilai-nilai kemanusiaan, lahirlah pendekatan yang lebih utuh dalam menjawab tantangan dunia. Pada titik itulah konferensi ilmiah berubah dari sekadar forum presentasi menjadi ruang sintesis, tempat berbagai pengalaman dan perspektif saling memperkaya.

Lebih jauh, ICSTET menyoroti keterkaitan yang semakin erat antara inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan sosial. Diskusi mengenai kecerdasan buatan, perubahan iklim, keamanan siber, hingga ketahanan pangan memperlihatkan bahwa masa depan dunia akan sangat ditentukan oleh kemampuan manusia mengintegrasikan teknologi dengan etika serta kebijaksanaan ekologis.

Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan tidak hanya berfungsi mencari kebenaran, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan di planet ini.

Baca Juga :  Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Yang tak kalah menarik, konferensi ini juga membuka ruang bagi peneliti muda dan komunitas akademik regional untuk terlibat dalam percakapan global. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kesempatan semacam ini memungkinkan gagasan lokal menemukan resonansinya di panggung internasional.

Pengetahuan tidak lagi bergerak dari pusat menuju pinggiran, melainkan mengalir timbal balik dalam jejaring kolaborasi global yang semakin dinamis.

Pada akhirnya, ICSTET bukan sekadar agenda akademik tahunan, melainkan cerminan semangat zaman yang menuntut kolaborasi lintas batas. Di ruang-ruang diskusi seperti inilah masa depan mulai dirancang; melalui dialog, penelitian, dan keberanian membayangkan dunia yang lebih baik.

Dari Kuala Lumpur, para peserta membawa pulang satu pesan sederhana namun kuat: ilmu pengetahuan adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan menuntun umat manusia menuju kemajuan bersama.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan aph

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA