Dari Singularitas Menuju Kemanusiaan: Big Bang dalam Imajinasi I Nyoman Sandiya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Big Bang bukan sekadar cerita tentang masa lalu alam semesta. Ia menjadi refleksi tentang tanggung jawab manusia hari ini (Foto: ist / ceraken.id)

Big Bang bukan sekadar cerita tentang masa lalu alam semesta. Ia menjadi refleksi tentang tanggung jawab manusia hari ini (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Keliaran kreatif perupa dan pendidik I Nyoman Sandiya tampaknya belum menemukan batasnya.

Setelah menghadirkan Pale Blue Dot yang mengajak penonton menengok kerendahan hati manusia di tengah keluasan kosmos, lalu White Dophed yang menelisik inti energi dan kelahiran unsur-unsur semesta, kini ia melengkapi semacam trilogi artistiknya melalui karya berjudul “Big Bang”.

Sebuah lukisan cat akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter yang dikerjakan pada 2026, menghadirkan ledakan merah menyala yang dilingkari warna biru di atas hamparan putih dominan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Visual itu segera menghadirkan kesan dramatis tentang sebuah permulaan, tentang momen ketika segala sesuatu yang kini ada bermula dari satu titik yang tak terbayangkan.

Sains sebagai Sumber Imajinasi Artistik

Tidak banyak perupa yang menjadikan kosmologi modern sebagai ruang bermain gagasan. Namun bagi Sandiya, dunia sains bukan sekadar kumpulan rumus dan teori, melainkan sumber metafora yang kaya untuk membaca kehidupan manusia.

Dalam penjelasan karyanya, ia menempatkan teori Big Bang sebagai titik tolak permenungan. Menurutnya, alam semesta lahir sekitar 13,8 miliar tahun lalu dari keadaan yang sangat padat dan panas. Dari peristiwa itulah ruang, waktu, energi, dan materi mulai hadir.

“Awal dari semua yang ada di alam semesta ini dari sudut pandang pengetahuan yang tentu ada kaitannya dengan kehidupan religi,” ujarnya.

Pernyataan itu menarik karena menunjukkan bahwa Sandiya tidak sedang mempertentangkan sains dan spiritualitas. Sebaliknya, ia mempertemukan keduanya dalam satu ruang refleksi.

Pengetahuan ilmiah menjadi jalan untuk memahami keajaiban penciptaan, sementara seni menjadi medium untuk menerjemahkan kekaguman itu ke dalam bahasa visual.

Dominasi warna putih pada kanvas dapat dibaca sebagai ruang tanpa batas, sebuah kekosongan yang belum terisi bentuk. Di tengahnya, ledakan merah yang dilingkari biru tampil sebagai simbol energi purba yang memulai seluruh sejarah kosmos.

Bukan ilustrasi ilmiah yang kaku, melainkan interpretasi puitik atas gagasan besar yang telah mengubah cara manusia memahami asal-usul semesta.

Dari Ledakan Kosmik ke Kelahiran Matahari

Menariknya, karya ini tidak berhenti pada momen Big Bang semata. Penjelasan Sandiya bergerak lebih jauh menuju kelahiran Matahari, bintang yang memungkinkan kehidupan di Bumi muncul.

Baca Juga :  Nopyastuty dan Panggung Ketahanan: Teater sebagai Sekolah Karakter di NTB

Ia mengingatkan bahwa Matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu dari awan gas hidrogen dan helium, unsur-unsur ringan yang merupakan warisan langsung dari Big Bang. Ketika gravitasi mengumpulkan gas-gas tersebut, suhu dan tekanan meningkat hingga memicu reaksi fusi nuklir.

“Tanpa Big Bang tidak ada hidrogen, tanpa hidrogen tidak ada bahan bakar buat Matahari. Matahari itu mesin fusi yang jalan menggunakan hukum fisika yang sama yang lahir waktu Big Bang,” jelasnya.

Penjelasan ini memperlihatkan kesinambungan gagasan yang sebelumnya hadir dalam karya White Dophed. Jika karya terdahulu berbicara tentang inti energi dan proses pembentukan unsur-unsur di dalam bintang, maka Big Bang bergerak lebih jauh ke akar mula segala proses tersebut.

Dalam kosmologi modern, unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen, besi, hingga emas memang tidak lahir pada saat Big Bang. Unsur-unsur itu dibentuk di dalam bintang-bintang yang hidup dan mati jauh sebelum Matahari terbentuk.

Dengan demikian, tubuh manusia, tanah yang diinjak, pohon yang tumbuh di pantai, semuanya merupakan warisan dari generasi bintang yang telah lama musnah.

Sains menyebutnya sebagai proses evolusi kosmik. Sandiya menerjemahkannya menjadi narasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mengembang Seperti Alam Semesta

Pada titik inilah karya Big Bang menemukan makna filosofisnya. Bagi Sandiya, teori kosmologi bukan hanya penjelasan tentang masa lalu alam semesta, tetapi juga cermin bagi perjalanan manusia.

“Dari judul karya Big Bang ini dapat belajar tentang alam semesta saja dapat muncul dari kosong, masa depan kita yang sekarang ini berantakan juga dapat berubah jadi sesuatu yang lebih baik,” tambahnya.

Kalimat tersebut menjadi jantung pesan karya ini. Ledakan kosmik yang melahirkan galaksi-galaksi bukan lagi sekadar peristiwa astronomi, melainkan simbol harapan.

Jika dari kekosongan dapat lahir bintang, planet, dan kehidupan, maka dari keterpurukan manusia pun selalu terbuka kemungkinan untuk memulai kembali.

Sandiya kemudian menarik analogi yang lebih jauh. Alam semesta hingga hari ini terus mengembang. Galaksi-galaksi bergerak saling menjauh, menunjukkan bahwa proses yang dimulai 13,8 miliar tahun lalu belum selesai.

Baca Juga :  Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

“Makna hidup juga gitu, diam sama dengan mati. Walaupun pelan sekali, kita harus terus mengembang, belajar hal baru, maafkan orang, tanam benih kebaikan,” ungkapnya.

Di tangan seorang perupa, teori ekspansi alam semesta berubah menjadi nasihat kehidupan. Perkembangan diri, pembelajaran, dan tindakan baik dipandang sebagai bentuk “pengembangan” manusia di tengah semesta yang terus bergerak.

Menjadi Jembatan Energi Kehidupan

Kekuatan utama karya Big Bang terletak pada kemampuannya menghubungkan tiga wilayah yang sering dianggap terpisah: seni, sains, dan spiritualitas. Lukisan ini tidak berusaha mengajarkan kosmologi secara akademis, tetapi meminjam temuan-temuan ilmiah untuk memperkaya perenungan tentang keberadaan manusia.

Di tengah berbagai perdebatan mengenai asal-usul kehidupan, Sandiya memilih jalan yang lebih sederhana: mengagumi kenyataan bahwa manusia merupakan bagian dari sejarah kosmik yang sangat panjang.

“Kita tidak dapat terpisah dari alam semesta, karena kita bagian dari ledakan paling besar sepanjang sejarah,” kata Sandiya.

Karena itu, bagi Sandiya, manusia bukan penghuni yang terpisah dari semesta. Kita adalah bagian dari proses yang sama. Atom-atom dalam tubuh kita pernah menjadi bagian dari bintang-bintang purba. Energi yang menggerakkan kehidupan hari ini adalah kelanjutan dari energi yang telah hadir sejak awal kosmos.

Maka Big Bang akhirnya bukan sekadar cerita tentang masa lalu alam semesta. Ia menjadi refleksi tentang tanggung jawab manusia hari ini. Sebagaimana alam semesta terus bergerak dan mencipta kemungkinan-kemungkinan baru, manusia pun ditantang untuk terus berkarya dan memberi manfaat.

“Tugas kita jadi jembatan menggunakan energi dari Big Bang buat berkarya untuk bermanfaat buat orang lain,” tegas Sandiya.

Di atas kanvas putih yang luas itu, ledakan merah yang menyala akhirnya bukan hanya lambang kelahiran galaksi.

Ia menjelma simbol kehidupan itu sendiri: bahwa setiap awal selalu menyimpan kemungkinan, setiap kekosongan menyimpan potensi, dan setiap manusia membawa serpihan energi semesta yang dapat diubah menjadi karya, pengetahuan, dan kebaikan bagi sesama. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menari Rahmat, Merawat Harmoni
White Dophed: Ketika Inti Matahari Menjadi Cermin Kehidupan
Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Nopyastuty dan Panggung Ketahanan: Teater sebagai Sekolah Karakter di NTB
Bangket Gunung Pengsong: Jejak Pertama I Nyoman Sandiya Membaca Lombok
Membongkar Batas Panggung: PTP ke-5 dan Lahirnya Imajinasi Baru Teater Pelajar NTB
Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB
Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:03 WITA

Dari Singularitas Menuju Kemanusiaan: Big Bang dalam Imajinasi I Nyoman Sandiya

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:48 WITA

Menari Rahmat, Merawat Harmoni

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:00 WITA

White Dophed: Ketika Inti Matahari Menjadi Cermin Kehidupan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:53 WITA

Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:00 WITA

Nopyastuty dan Panggung Ketahanan: Teater sebagai Sekolah Karakter di NTB

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA