Oleh: Sigit Susanto*
CERAKEN.ID — Suatu sore motor kami usai dari pantai Senggigi, memasuki jalan kampung yang berseberangan dari pantai Senggigi.
Sepertinya tak seimbang, jika ke Senggigi hanya mendatangi pantainya. Warga Senggigi yang tinggal di kampung perlu didatangi.
Kesan pertama memasuki desa Senggigi, usai melewati masjid di tepi jalan, langsung jalan beraspal itu meliuk-liuk dan sungai kecil selalu berada di kiri jalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami tertumbuk banyak pohon aren yang tumbuh di tepi sungai maupun di kebun tepi jalan. Pohon aren terlihat liar, tak tersentuh tangan. Terbukti dari ranting-rantingnya yang tumbang dan kering dibiarkan menjuntai ke bawah secara alami.
Setelah belokan ke kiri dan masih di tepi sungai, lalu belok ke kanan, aspal habis, diganti jalan tanah. Saya dan Claudia saling menatap, wajah pucat. Kami tahu di jalan tanah itu masih ada bekas roda motor, tetapi menanjak.
Orang yang berdiri di dekat jalan memberitahu, masih bisa jalan terus, tapi buruk kondisinya. Hitung-hitung kami pilih kembali saja.
Tiba-tiba saya teringat kenalan penjual novel bekas bahasa Inggris bernama Mas Ramli. Nah, Claudia setuju, jika kami mampir ke rumah Mas Ramli yang ia juga kenal. Bahkan saya mengenal Mas Ramli sejak 10 tahun silam. Dulu dia punya kios di dekat losmen Sonya dan Pondok Shinta, di jalan raya Senggigi.
Novel-novel bekas bahasa Inggris itu ia dapatkan dari para turis yang menjualnya atau dari room-boy hotel.
Bapak di tepi jalan itu saya tanya, apakah tahu rumah Mas Ramli di Senggigi? Ia dengan ringan tangan memberitahu, agar kami kembali ke jalan semula dan sebelum tikungan ke kanan, ada jembatan kecil melintasi sungai, kami harus menyeberang.
“Baik, Pak. Terima kasih,” kata saya dan kami pamit.
Motor menderu pelan dan ada jembatan kurus masuk dusun kecil, saya tak berani masuk jembatan itu. Motor sedikit melaju dan usai di tikungan, kami bertanya anak muda di tepi jalan.
Anak muda itu tak tahu dan ia tanya ibunya. Dari dalam rumah yang gelap, Si Ibu mengeluarkan suara lewat jendela, sebuah petunjuk tanpa saya lihat sosok ibu itu. Intinya, saya harus kembali ke arah semula kami datang dan masuk jembatan kecil tadi.
Kembali ke jalur semula dan dengan tekat bulat akan bertemu teman lama. Motor kami menginjakkan jembatan yang sepertinya darurat itu.
Jembatan tamat, ada dua nenek di teras samping kanan, saya ulurkan tanya, “Bu, ingin tanya, rumah Pak Ramli di mana, ya?”
Dua perempuan tua itu telunjuknya mengacung ke seberang kanan pada gang sempit yang hanya cukup untuk papasan dua motor.
Dengan penuh keyakinan, kami berdua memasuki gang itu dan terlihat rumah-rumah warga yang rapi dan ada pekarangan. Kami berhenti, karena di samping kanan ada seorang bapak menanyakan tujuan kami.
Setelah tahu kami mencari rumah Mas Ramli, dia bilang, “Itu di depan rumah Pak Ramli. Tapi dia tidak di rumah.”
Setidaknya legalah, karena rumah sudah ditemukan. Rumahnya bagus, tertata rapi, tampak ada dua kamar di depan. Dugaan saya, itu disewakan untuk turis. Di pekarangan ada berugaq dan pohon rindang. Beberapa burung kecil di sangkar menggantung di pohon.
Secara iseng saya kirim berita lewat Whatsapp ke Mas Ramli.
“Mas Ramli, kami sudah di rumah kamu. Tapi Mas Ramli tak ada. Rupanya kamu punya banyak burung kecil di sangkar depan rumah ya?”
Ia lekas membalas, “Oh, ya Mas, memang kami sedang jualan di pantai. Burung itu memang kesukaan saya. Saya segera pulang.”
Kami masih penasaran di depan rumah. Tuan rumah tak ada, akan masuk pekarangan juga kurang sopan. Tetapi karena tetangga tadi meyakinkan kami, bahwa ini rumah Mas Ramli, maka kami mencoba duduk di burkaq, karena kebetulan pintu gerbangnya sedikit terbuka.
Tak lama, seorang ibu datang dan memasuki pekarangan rumah.
“Mencari siapa, Pak?”
“Mas Ramli, Bu. Kami sudah berteman,” jawab saya pendek.
“Oh,” sambutnya ramah.
Kami dengan senang menaruh pantat di lantai kayu burkaq yang khas Lombok dan selalu saya sukai. Terutama bentuknya yang mirip lumbung padi di Bali.
Saya dan Claudia bercakap-cakap bahasa Jerman dan saling rasan-rasan, betapa Mas Ramli mengalami kesulitan menjual novel-novel bekas, mengingat sekarang turis-turis membawa ipad, kindel, untuk baca buku lewat e-book.
Ibu Ramli mendekat dan menanyakan, “Coba lihat No HP Pak Ramli yang tadi dihubungi?”
Sungguh di luar dugaan saya. Ia menanyakan no HP Mas Ramli yang baru saya kontak. Setelah ia melihat No HP, berkata, “Bukan, No suami saya, ini, Pak.”
Dek. Astaga!.
Ia masih menetaskan kebimbangan, “Bapak kenal Pak Ramli di mana?”
Saya jelaskan, sejak dulu kami menginap di losmen Sonya dan Pondok Shinta di Senggigi, Mas Ramli jualan buku di kiosnya. Tapi sekarang kios bukunya sudah tutup. Ia buka kios di dekat dermaga Senggigi.
“Oh, itu Pak Ramli buku, kalau suami saya ini Ramli pulsa HP. Ia jualan pulsa.”
Diam-diam saya mengubur rasa malu dengan memberi kabar dari Whatsapp kepada nama Ramli yang kami cari. Ia bergegas meninggalkan pantai dan akan menjemput kami.
Ketika kami akan undur diri, Pak Ramli, suaminya Mbak yang di depan saya datang. Suaminya agak heran melihat kami datang dan istrinya segera menjelaskan, kami salah mencari nama Ramli.
Sang suami dengan ramah menyalami kami, sambil menekankan, bahwa di kampung Senggigi ada tiga orang bernama sama; Ramli.
Kami meninggalkan rumah Pak Ramli dan menuju Mas Ramli yang sudah saling janjian. Setelah lewat kuburan, kami membelok kanan dan menanjak. Di tengah jalan kampung berpapasan dengan Mas Ramli buku dan kami berdua dikawal menuju rumahnya.
Benar, di depan rumahnya terdapat beberapa burung pleci di sangkar. Ia menambahkan, namanya disebut Lek Ramli atau sering dipanggil Pak Lek saja.
Apakah cerita sampai di sini? Belum.
Suatu saat kami sedang berada di Swiss ingin membayar gaji tukang yang sedang renovasi rumah kami di Sandik. Saya kirimkan pesan ke No HP tukang,
“Tolong perincian minggu ini, Mas Ramli, gaji karyawan dan belanja material?”
Pesan saya kesasar ke No Whatsapp Ramli Senggigi. Ia bingung dan langsung bertanya, “Gaji apa dan belanja material apa, Pak?”
Waduuh, salah kirim, karena tukang yang sedang merenovasi rumah di Sandik juga bernama Ramli. Di ponsel saya ada dua nama Ramli, Ramli Buku dan Ramli Tukang.
Sejak kejadian tersebut, nama Ramli Buku, saya ganti Putra Senggigi, seperti nama jukungnya tertulis Putra Senggigi. Karena Ramli Buku punya jukung yang sering mengantar turis ke Gili. Syukurlah, sejak nama diubah, aman sampai sekarang.(*)
*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.
Editor : ceraken editor































































