CERAKEN.ID — Di tengah riuh kreativitas Pekan Teater Pelajar (PTP) ke-5 Tahun 2026, suara Nopyastuty Ade Katutari terdengar berbeda. Tidak meledak-ledak, tidak pula dipenuhi istilah artistik yang rumit.
Namun dari kesederhanaan tuturannya dalam Sarasehan Teater Sasentra Ummat di Wisma Dua Taman Budaya NTB, Sabtu (23/5), tersimpan satu hal penting: teater bukan sekadar soal pertunjukan, melainkan tentang daya tahan hidup.
Nopyastuty, Pembina Teater Sinar SMAN 1 Narmada, berbicara bukan hanya sebagai pelatih, tetapi sebagai perempuan yang selama bertahun-tahun menjaga api teater tetap menyala di tengah peran domestik, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Keberhasilan saya di teater itu ketika saya bisa mempertahankan eksistensi saya sebagai seorang pembina, sebagai seorang pelatih,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang telah dua dekade hidup bersama panggung.
Menjaga Panggung di Tengah Kehidupan Rumah Tangga
Nopyastuty tidak menutupi kenyataan bahwa jalan berkesenian bagi perempuan sering kali lebih rumit. Ia adalah seorang guru, istri, sekaligus ibu dari tiga anak yang masih kecil. Anak bungsunya bahkan baru berusia dua setengah tahun.
Namun di tengah situasi itu, ia tetap memilih bertahan di dunia teater.
“Bahkan saya pernah mengambil piala itu sampai membawa momongan saya ke atas panggung,” katanya sambil disambut perhatian peserta sarasehan.
Cerita itu bukan sekadar nostalgia pribadi. Nopyastuty sedang menunjukkan bahwa perempuan tetap memiliki ruang untuk berkarya tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Ia juga menggambarkan bagaimana proses teater membutuhkan waktu dan kesungguhan yang panjang. Sebuah pertunjukan, menurutnya, tidak mungkin lahir hanya dalam satu atau dua minggu latihan.
“Saya menggarap paling tidak tiga bulan,” tuturnya.
Bagi Nopyastuty, proses membaca, membedah, dan memahami naskah merupakan setengah dari perjalanan teater itu sendiri. Lakon tidak cukup berhenti sebagai teks sastra. Ia baru benar-benar hidup ketika dilakoni di atas panggung.
Teater yang Mulai Membumi di NTB
Perjalanan panjang Nopyastuty di dunia teater membuatnya menyaksikan perubahan besar perkembangan teater pelajar di NTB. Ia mengingat masa ketika hanya sedikit sekolah memiliki sanggar teater dan mampu mengikuti festival.
Kini, situasinya berubah.
“Kalau dulu yang ikut festival hanya beberapa sekolah saja yang punya sanggar teater. Tapi sekarang wah sudah banyak, sudah macam-macam namanya dan itu membuat saya sangat bahagia,” ujarnya.
Kebahagiaan itu bukan terutama karena trofi atau penghargaan. Baginya, keberhasilan terbesar adalah ketika teater mulai diterima sebagai bagian penting dari ruang pendidikan dan kebudayaan di NTB.
Ia menyebut kondisi itu sebagai bentuk “dakwah teater” yang akhirnya sampai kepada generasi muda.
“Artinya teater sudah dapat kita bumikan di NTB,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teater pelajar kini tidak lagi berdiri sebagai kegiatan pinggiran di sekolah. Ia mulai menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, keberanian, dan kesadaran kolektif anak muda.
Belajar Hidup dari Teater
Di hadapan peserta sarasehan, Nopyastuty kemudian mengajukan pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya didapat dari proses berteater?
Jawaban peserta bermunculan: percaya diri, keberanian, disiplin, tanggung jawab, konsistensi, kerja sama, hingga fokus.
Nopyastuty menyimak satu per satu jawaban itu dengan antusias. Baginya, semua hal tersebut jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan akting.
“Teater itu, bagi saya bukan hanya belajar akting. Akting itu hanya sebagian kecil dari teater, tapi lebih luasnya kalian akan belajar hidup di teater,” ujarnya.
Di titik ini, teater dipahami bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi ruang pembentukan karakter. Latihan tubuh melatih disiplin. Kerja ensemble melatih tanggung jawab.
Proses membaca naskah melatih kepekaan berpikir. Bahkan keberanian berdiri di panggung menjadi latihan mental menghadapi kehidupan sehari-hari.
“Itulah karakter,” kata Nopyastuty menegaskan.
Menurutnya, karakter inilah yang nantinya akan menentukan masa depan seseorang, bukan semata nilai akademik di sekolah.
Fokus sebagai Jalan Menjadi Ahli
Salah satu bagian paling menarik dari pernyataan Nopyastuty adalah ketika ia berbicara tentang fokus. Ia mengingatkan para pelajar bahwa tidak mungkin seseorang menguasai semua bidang sekaligus.
“Yang namanya ahli itu satu,” katanya.
Karena itu, teater mengajarkan pentingnya kesungguhan dalam menekuni satu jalan. Ketika seseorang benar-benar memfokuskan diri pada proses, maka keahlian perlahan akan terbentuk.
Pesan itu terasa penting di tengah generasi muda yang hidup di era serba cepat dan mudah terdistraksi. Nopyastuty justru mengajak peserta memahami proses sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan.
Dari panggung teater, para pelajar tidak hanya belajar memainkan tokoh, tetapi juga belajar memainkan peran hidup mereka sendiri.
Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari teater yang dimaksud Nopyastuty: sebuah ruang kecil yang diam-diam membentuk manusia agar lebih utuh. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































