Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

- Penulis

Sabtu, 30 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Reva Adhitama. "Let Me Play By Myself!", acrylic on canvas, 21 x 15 cm, 2026 (Foto: ist / ceraken.id)

Reva Adhitama. "Let Me Play By Myself!", acrylic on canvas, 21 x 15 cm, 2026 (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Jumat malam, 29 Mei 2026, pukul 22.52 Wita, sebuah pesan masuk dari Miftahul Reva Adhitama. Nama yang kini lebih dikenal publik seni sebagai “Pelukis Ikan” itu mengirimkan dokumentasi karya terbarunya.

Sebuah lukisan kecil berukuran 21 x 15 sentimeter, akrilik di atas kanvas, berjudul Let Me Play by Myself!. Di dalamnya hadir kembali karakter khas ciptaannya, Sun Noosea, seekor ikan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi medium refleksi, kritik, sekaligus autobiografi visual sang seniman.

Saat melihat karya tersebut, kesan pertama yang muncul adalah keberanian warna. Sapuan-sapuan cerah dan kontras menghadirkan energi yang berbeda dibanding karya-karya Sun Noosea sebelumnya.

Karakter itu tampak lebih muda, lebih lepas, bahkan lebih dekat dengan semangat generasi yang lahir dan tumbuh di era digital.

“Sun Noosea-nya lebih berani di sapuan warnanya. Kesannya malah anak Gen Z,” celetuk ceraken.id saat menanggapi karya tersebut.

Reva menjawab santai namun penuh makna, “Ya, fresh nuansa terkini hehe, Pop. Let me play by myself! Biarkan aku bermain sendiri!”

Manifesto Kesendirian yang Produktif

Kalimat “Biarkan aku bermain sendiri” bukanlah ungkapan kesepian. Ia lebih menyerupai manifesto kreatif. Sebuah pernyataan tentang keberanian untuk menempuh jalan yang dipilih sendiri, tanpa harus terus-menerus mengikuti arus kelompok atau keramaian yang sering kali bergerak tanpa arah.

Bagi Reva, bermain sendiri berarti menjalani seluruh proses secara utuh: dari niat, berpikir, merencanakan, mencari bahan, mengeksekusi gagasan, menyebarkan karya, menyusun strategi, hingga menikmati hasilnya. Baik hasil itu berupa keberuntungan maupun apa yang ia sebut sebagai “keberuntungan yang tertunda”.

Di tengah zaman yang memuja kolaborasi, jejaring, dan komunitas, pilihan untuk berjalan sendiri terdengar nyaris kontradiktif. Namun justru di sanalah letak kekuatan gagasan yang ditawarkan Reva.

Baca Juga :  Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Kesendirian tidak diposisikan sebagai penolakan terhadap orang lain, melainkan sebagai upaya menjaga kemurnian arah dan energi kreatif.

“Karena sering sekali ikan-ikan di luar sana bermain keroyokan, yang sebenarnya yang dikeroyok itu tidak ada, alias sekadar pergerakan kosong pelepas energi, lalu menguap, dan begitu terus polanya berulang-ulang sampai ikan-ikan itu mati,” ujarnya.

Metafora ikan yang digunakannya terasa tajam. Kerumunan sering kali bergerak begitu cepat, namun tidak selalu menuju sesuatu yang bermakna.

Banyak energi terbuang untuk mengikuti tren, bereaksi terhadap isu sesaat, atau sekadar menjadi bagian dari kebisingan kolektif yang segera dilupakan.

Inkkan Studio dan Permainan Bahasa

Pilihan sikap kreatif itu tidak lahir begitu saja. Ia berakar pada ruang yang dibangun Reva sendiri, yakni Inkkan Studio. Nama tersebut berasal dari permainan kata yang sederhana tetapi cerdas. “Ink” berarti tinta, lalu disambungkan dengan “kan” sehingga terdengar seperti kata “ikan”.

Namun bagi Reva, “kan” bukan sekadar bunyi tambahan. Kata itu menyimpan banyak kemungkinan. Ia bisa menjadi penegasan, pertanyaan, candaan, bahkan sindiran. Sebuah elemen bahasa yang cair dan terbuka terhadap berbagai tafsir.

Di sinilah tampak bagaimana cara berpikir sang seniman bekerja. Ia tidak hanya mengolah warna dan bentuk, tetapi juga memainkan bahasa sebagai bagian dari proses penciptaan.

Keseriusan dan kelakar berjalan berdampingan. Kedalaman makna tidak menghilangkan ruang untuk bermain.

Karakter Sun Noosea lahir dari semangat yang sama. Ia adalah ikan yang berenang di antara berbagai kemungkinan makna. Kadang lucu, kadang satir, kadang filosofis.

Dalam karya terbaru ini, Sun Noosea tampil sebagai sosok yang memilih jalur independen di tengah lautan yang ramai.

Baca Juga :  Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Pilihan itu terasa semakin relevan ketika dikaitkan dengan perjalanan hidup Reva sendiri. Sebelum dikenal sebagai pelukis, ia pernah bekerja sebagai juru masak dan bahkan memiliki cita-cita menjadi seorang celebrity chef.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatifnya tidak tumbuh dari satu disiplin semata, melainkan dari keberanian menjelajahi berbagai dunia.

Semangat Gen Z dalam Tubuh Seekor Ikan

Menariknya, meskipun Reva bukan bagian dari Generasi Z, karya Let Me Play by Myself! justru memancarkan banyak karakter yang identik dengan generasi tersebut. Warna-warna berani, kebebasan berekspresi, keberanian membangun identitas personal, hingga kecenderungan untuk menciptakan jalur sendiri merupakan ciri yang sangat dekat dengan semangat Gen Z.

Generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 tumbuh sebagai generasi digital native. Mereka terbiasa dengan internet, bergerak cepat dalam arus informasi, dan memiliki kecenderungan kuat untuk membangun identitas yang autentik.

Mereka juga dikenal kritis terhadap lingkungan sosial serta lebih memilih fleksibilitas dibanding pola-pola yang kaku.

Dalam konteks itu, Sun Noosea tampak seperti representasi simbolik dari semangat tersebut. Ia tidak menolak komunitas, tetapi tidak ingin kehilangan dirinya di dalam kerumunan. Ia memilih berenang dengan ritmenya sendiri.

Barangkali itulah pesan paling penting dari karya kecil berukuran 21 x 15 sentimeter ini. Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini, tren, algoritma, dan dorongan untuk selalu terlihat bersama kelompok tertentu, masih ada nilai yang layak dirayakan: keberanian untuk mendengarkan suara diri sendiri.

Melalui Let Me Play by Myself!, Reva Adhitama seolah mengingatkan bahwa terkadang perjalanan terjauh justru dimulai ketika seekor ikan memutuskan berenang sendirian. Bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk menemukan arah yang benar-benar miliknya. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA