CERAKEN.ID — Di tengah dunia yang semakin menempatkan uang sebagai ukuran utama keberhasilan, hadir sebuah buku yang menolak tunduk pada logika tersebut.
Menyembah Bendoro Cuan karya Isti Nugroho bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan jejak panjang pergulatan seorang aktivis demokrasi dan seniman yang selama puluhan tahun berusaha menjaga nyala idealisme di tengah perubahan sosial-politik Indonesia yang kian kapitalistik.
Buku yang diterbitkan Yayasan Budaya Guntur 49 pada September 2025 ini menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup Isti. Pada usia 65 tahun, ia merangkum pengalaman, gagasan, serta kegelisahan yang telah ditempanya selama 41 tahun berkecimpung dalam gerakan demokrasi dan 45 tahun menapaki dunia kesenian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan itu bukan tanpa luka. Ia pernah menjalani delapan tahun penjara pada masa Orde Baru atas tuduhan subversif. Namun pengalaman tersebut justru membentuk fondasi pemikiran yang terus hadir dalam tulisan-tulisannya.
Idealisme yang Menolak Pudar
Kurator buku, Indra Tranggono, melihat Isti sebagai figur yang tetap setia pada pandangan sosialis-demokratis di tengah dominasi cara pandang yang memuja keuntungan ekonomi. Menurutnya, pilihan ideologis itu tidak pernah luntur meski berada dalam posisi minoritas.
“Pilihan ini tak pernah luntur, walau ia menjadi minoritas, di tengah gempuran orientasi hidup yang menyembah cuan, uang dan keuntungan,” tulis Indra.
Dalam pembacaannya, Isti memandang politik bukan sekadar alat merebut kekuasaan, melainkan wahana untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Negara dipahami sebagai instrumen distribusi kesejahteraan yang harus bekerja secara adil, sementara masyarakat dan individu ditempatkan dalam hubungan yang saling menopang, bukan saling mengalahkan.
Gagasan semacam itu mungkin terdengar kuno di era ketika kompetisi ekonomi menjadi mantra pembangunan. Namun justru di situlah letak daya tarik buku ini. Ia menghadirkan suara yang jarang terdengar: suara yang mempertanyakan kembali arah perjalanan bangsa ketika pasar semakin menentukan hampir seluruh aspek kehidupan.
Bertemu Michael Sandel di Persimpangan Kritik
Pengantar yang ditulis Denny JA memberikan perspektif menarik tentang posisi pemikiran Isti. Ia menghubungkan esai-esai dalam buku ini dengan kritik filsuf Harvard, Michael J. Sandel, terhadap ekspansi pasar bebas.
Denny menyoroti pertanyaan mendasar yang diajukan Sandel dalam What Money Can Buy: The Moral Limits of Markets: apakah segala sesuatu boleh dibeli dengan uang?
Bagi Sandel, ketika uang mampu membeli hampir semua hal, dua persoalan muncul sekaligus: ketimpangan sosial yang semakin lebar dan korupsi moral yang mengubah makna berbagai nilai kemanusiaan menjadi transaksi ekonomi. Denny melihat kegelisahan yang sama hadir dalam tulisan-tulisan Isti.
“Di sinilah Sandel dan Isti bertemu, keduanya menggugat logika pasar yang kebablasan. Bedanya, Sandel menulis dari ruang seminar Harvard, Isti menulis dari jalanan Jakarta, penjara, pengalaman nyata menyaksikan demokrasi Indonesia dibajak oligarki,” tulis Denny.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa gagasan dalam buku ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan perdebatan global mengenai batas-batas pasar dan masa depan demokrasi. Namun Isti menghadirkannya melalui pengalaman Indonesia yang konkret dan sering kali getir.
Sastra sebagai Alat Membaca Kekuasaan
Menariknya, Menyembah Bendoro Cuan tidak hanya berisi esai politik. Terdapat 17 tulisan yang mencakup esai, cerpen, hingga naskah drama. Ragam bentuk ini membuat buku terasa lebih hidup dan tidak terjebak menjadi manifesto ideologis semata.
Dalam tangan Isti, sastra menjadi medium untuk membedah relasi kuasa yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Oligarki, ketimpangan sosial, dan kerakusan kapitalisme tidak selalu dibahas melalui bahasa teoritis, tetapi juga melalui kisah, dialog, dan metafora yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.
Gaya penulisannya yang disebut Denny JA sebagai “gado-gado” justru menjadi kekuatan. Pembaca tidak sedang diajak mengikuti kuliah politik, melainkan diajak memasuki ruang percakapan yang bergerak antara refleksi pribadi, kritik sosial, dan imajinasi artistik.
Melalui pendekatan itu, buku ini menunjukkan bahwa kesenian dan aktivisme bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya dapat menjadi sarana yang sama untuk mempertanyakan ketidakadilan dan membayangkan kemungkinan masyarakat yang lebih manusiawi.
Membaca, Berpikir, dan Berbuat
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya berbicara tentang kritik terhadap kapitalisme atau oligarki. Ia juga merupakan refleksi personal seorang manusia yang terus belajar memahami hidup.
Dalam catatan pembukanya, Isti mengaku tidak memiliki ambisi menjangkau langit. Ia hanya ingin mengkomunikasikan berbagai ide agar terjadi pertukaran gagasan yang memperkaya cara pandang terhadap realitas.
“Dalam usia yang terus bertambah menua, tiga hal yang selalu saya upayakan untuk dilakukan, yaitu bersyukur, berpikir, dan berbuat,” tulisnya.
Tiga kata itu menjadi semacam simpulan moral dari seluruh isi buku. Bersyukur menjaga manusia tetap rendah hati. Berpikir membuat akal tidak membeku. Berbuat mengubah gagasan menjadi tindakan yang berdampak bagi kehidupan bersama.
Mungkin karena itulah kemewahan yang dipilih Isti pada usia senjanya bukanlah akumulasi harta, melainkan kegiatan yang semakin langka di zaman serba cepat: membaca, berdiskusi, dan menulis.
Di tengah budaya yang kerap mengukur nilai seseorang dari jumlah keuntungan yang diperoleh, Menyembah Bendoro Cuan hadir sebagai pengingat bahwa masih ada manusia-manusia yang memilih jalan berbeda.
Mereka mungkin tidak memenangkan perlombaan mengumpulkan kekayaan, tetapi mereka menjaga sesuatu yang lebih sulit dipertahankan: keyakinan bahwa demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan tetap layak diperjuangkan. (aks)
Editor : ceraken editor































































