CERAKEN.ID — Dunia sains ternyata kerap hadir dalam keliaran imajinasi pelukis I Nyoman Sandiya. Setelah sebelumnya menghadirkan “Pale Blue Dot” yang meminjam perspektif astronomi tentang kecilnya bumi di semesta raya, kini lahir karya baru bertajuk “White Dophed”, akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter, tahun 2026.
Di tangan Sandiya, sains tidak berhenti sebagai pengetahuan dingin yang tersimpan di laboratorium atau buku astronomi. Ia menjelma bahasa batin, metafora sosial, sekaligus cermin bagi manusia modern yang mulai kehilangan pusat kehidupannya sendiri.
Lukisan itu didominasi warna biru yang pekat, seperti ruang kosmos yang tidak berbatas. Di tengah hamparan biru itu, sebuah lingkar putih menyala begitu kontras, menyerupai inti matahari yang memancar diam-diam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara warna merah hanya tampak sebagai pijaran kecil di sekelilingnya, namun justru menghadirkan tegangan visual yang kuat, terbuka terhadap banyak tafsir.
Matahari yang Tidak Pernah Memilih Siapa yang Disinari
Bagi Sandiya, inti matahari bukan sekadar objek astronomi. Ia adalah simbol tentang nilai dasar kehidupan manusia yang sering tidak terlihat namun menentukan segalanya.
“White Dophed dalam karya ini mengambil ide inti atau dasar dari matahari, dari warna keemasan atau kemerahan yang kita lihat dari bumi, ternyata intinya berwarna putih,” buka Sandiya.
Ia lalu menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah melihat inti matahari secara langsung. Jarak 150 juta kilometer dan lapisan gas yang menutupinya membuat manusia hanya mampu menangkap pantulan luarnya saja.
Namun justru dari inti yang tak terlihat itulah kehidupan di bumi bergantung.
“Kita tidak pernah melihat inti matahari secara langsung, 150 juta km jauhnya, tertutup lapisan gas. Tapi semua yang hidup di bumi bergantung sama energi yang keluar dari sana,” sambungnya.
Di titik itu, Sandiya menarik garis antara sains dan moralitas manusia. Baginya, inti matahari serupa dengan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kerja keras, dan gotong royong. Nilai-nilai itu tidak glamor, jarang dipamerkan, tetapi ketika hilang maka kehidupan sosial perlahan runtuh.
Matahari, dalam tafsirnya, juga menjadi lambang kemurahan dan ketulusan. Ia menyala selama 4,6 miliar tahun tanpa pernah memilih siapa yang akan disinari. Energinya mengalir tanpa meminta balasan.
Karena itu, Sandiya melihat matahari sebagai metafora bagi orang-orang sederhana yang bekerja di balik layar: petani yang tekun di sawah, atau mereka yang diam-diam membersihkan sampah plastik tanpa menunggu pujian.
Orbit Kehidupan dan Kekacauan Manusia Modern
Pada bagian putih di pusat lukisan, tampak tekstur menyerupai lintasan atau orbit. Detail ini bukan sekadar permainan visual, melainkan penegasan filosofis bahwa segala sesuatu memiliki jalurnya masing-masing.
Menurut Sandiya, planet harus bergerak sesuai orbitnya agar semesta tetap seimbang. Ketika keluar dari orbit, kehancuran menjadi akibat yang tak terhindarkan. Tafsir itu kemudian diperluas menjadi refleksi sosial dan politik.
Negara, menurutnya, telah memiliki falsafah hidup yang lahir dari alam dan lingkungan masyarakatnya. Manusia pun demikian, mempunyai orbit moral yang semestinya dijalani.
Namun ketika manusia dipenuhi hasrat menguasai, ego, dan kerakusan, orbit itu rusak. Dari sanalah perang, kerusakan lingkungan, hingga penderitaan lahir.
Dalam pembacaan itu, “White Dophed” menjadi kritik halus terhadap kehidupan modern yang sibuk mengejar pengakuan. Dunia hari ini, menurut Sandiya, semakin menjauh dari kerja-kerja sunyi yang justru menopang kehidupan.
“Kenapa ini penting buat cara hidup,” tanya Sandiya.
Lulusan IKIP Negeri Yogyakarta itu lalu menjawab sendiri pertanyaannya.
“Inti Matahari kerja pelan, panas, stabil, 4.6 miliar tahun tanpa henti dan tidak pamer. Inti tubuh manusia juga gitu, jantung kita sudah berdetak 2.5 miliar kali sejak kita lahir tanpa disuruh. Dan sangat bertolak belakang dengan kehidupan modern yang banyak isinya dengan ego, status, pengakuan.”
Pernyataan itu menjadikan lukisan ini tidak sekadar karya visual, melainkan semacam renungan eksistensial. Bahwa yang paling penting dalam kehidupan justru sering bekerja tanpa sorotan.
Putih yang Lahir dari Kematian Bintang
Judul “White Dophed” sendiri diambil dari istilah astronomi tentang fase bintang yang telah mati dan berubah menjadi inti putih yang sangat padat. Sandiya meminjam konsep itu untuk menjelaskan tentang kemurnian hati manusia.
“Itu inti matahari berwarna putih, terbuat dari matinya bintang yang sudah tidak bersinar lagi, mengembang jadi ‘raksasa merah’. Sangat berat dan padat satu sendok teh seberat 50 ton. Makanya saya sandingkan dengan intinya manusia berupa hati yang putih bersih bisa menyinari dan bermanfaat bagi kehidupan. Begitu inti filosofi ‘White Dophed’,” urai Sandiya menjawab rasa penasaran.
Dalam cara pandang itu, kematian sebuah bintang tidak dipahami sebagai akhir, melainkan proses menuju inti yang lebih murni. Sandiya seperti hendak mengatakan bahwa manusia pun memerlukan proses pengikisan ego agar menemukan cahaya terdalam dalam dirinya.
Secara filosofis, “White Dophed” memang berbicara tentang perbedaan antara apa yang tampak dan apa yang sesungguhnya. Mata manusia mungkin melihat matahari sebagai kuning keemasan atau merah membara, tetapi esensinya justru putih dan bersih.
Dari sana, karya ini mengingatkan bahwa kenyataan terdalam sering tersembunyi di balik permukaan yang kasatmata.
Melalui metafora matahari, orbit, dan inti bintang, Sandiya menghadirkan seni yang tidak berhenti sebagai objek estetis. Ia menjadi ruang dialog antara kosmos dan manusia, antara sains dan nurani.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh pencitraan, “White Dophed” seperti mengajak orang kembali mencari inti paling sederhana dalam hidup: ketulusan yang bekerja diam-diam, namun menopang seluruh kehidupan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































