Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Suasana temaram menyelimuti ruang pertunjukan malam itu. Lengking penembang membuka panggung dengan nada yang nyaris purba, seakan membangunkan kesadaran bahwa musik tradisi tak pernah benar-benar mati.

Di sela denting saron, gelegar gong, lirih suling, dan denyut gitar bass, para pemusik muda mencoba menyusun bahasa bunyi yang lahir dari keberagaman Nusa Tenggara Barat.

Mereka tidak memainkan musik tradisi secara utuh, namun juga tidak sepenuhnya bergerak ke wilayah musik modern. Yang mereka lakukan adalah merajut keduanya menjadi lanskap bunyi baru: etnik, kontemporer, sekaligus reflektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di panggung bertajuk “Swara Loka Karsa” itu, musik menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia berubah menjadi ruang pertemuan budaya, tempat bunyi-bunyi Sasak, Samawa, dan Mbojo saling berdialog tanpa saling meniadakan.

Seluruh proses kreatif tersebut lahir dari workshop seni pertunjukan yang digagas Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan menghadirkan I Wayan Ary Wijaya sebagai pemateri musik.

Bagi Ary Palawara, panggilan akrabnya, keterlibatannya dalam workshop ini bukan untuk menggurui peserta. Ia datang dengan semangat berbagi pengalaman kreatif yang selama ini ditempuhnya di Bali.

Pengalaman itu tumbuh dari kebiasaan bereksperimen, mencampur berbagai aliran musik, dan keberanian melawan rasa takut dalam proses penciptaan.

“Saya diundang sebagai pemateri awalnya adalah ingin meregenerasi komposer dan koreografer bersama Dr Alfiyanto. Jadi saya hanya berbagi bukan mengajari, berbagi bagaimana saya berpengalaman di Bali, di mana musik kontemporer saya berkembang dengan sendirinya, dengan landasan saya lebih senang bereksperimen,” ujarnya pada Sabtu siang, 16 Mei 2026.

Kalimat itu seperti menjelaskan roh utama workshop ini: keberanian mencoba. Dalam dunia penciptaan seni, rasa takut sering menjadi penghalang terbesar. Banyak pemusik memiliki kemampuan memainkan instrumen, tetapi tidak semua berani menciptakan komposisi sendiri. Ketakutan muncul karena mereka tidak tahu harus memulai dari mana.

Ary memahami kegelisahan itu karena ia sendiri pernah mengalaminya.

“Saya pun dulu seperti itu, namun saya tantang jiwa saya sendiri, melawan rasa takut,” katanya.

Ketika Musik Tidak Lagi Sekadar Bunyi

Dalam workshop tersebut, Ary Wijaya tidak hanya berbicara soal teknik memainkan alat musik. Ia mengajak peserta memahami musik sebagai pengalaman rasa, pengalaman tubuh, sekaligus pengalaman intelektual.

Menurutnya, penciptaan musik membutuhkan keberanian untuk meresapi pengetahuan secara luas.

“Yang penting adalah, pertama, adalah keilmuan, bagaimana kita meresapi ilmu-ilmu musik, bukan hanya karawitan, bahannya harus banyak, dan pementasan-pementasan itu modal investasi jiwa,” ungkapnya.

Istilah “investasi jiwa” terdengar puitis, tetapi justru di situlah letak kedalaman pandangannya. Musik bukan sekadar keterampilan teknis yang selesai dipelajari lewat notasi atau teori.

Ia membutuhkan pengalaman panjang: mendengar, menyaksikan pertunjukan, berjumpa dengan seniman lain, hingga memahami suasana emosional yang lahir dari bunyi.

Ary kemudian menggunakan metafora yang sederhana namun kuat: merajut benang menjadi baju. Menurutnya, seorang komposer harus memahami musik yang disukai secara mendalam, bukan hanya menikmatinya sebagai pendengar pasif.

Baca Juga :  Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan

“Misalnya saya senang aliran ini, maka pelajarilah musik itu, jangan didengar,” katanya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa penciptaan musik membutuhkan proses pembongkaran. Seorang pemusik harus masuk ke dalam struktur bunyi, memahami semiotiknya, mengenali teknik permainan, hingga membaca karakter setiap instrumen.

Di titik ini, Ary mulai memperkenalkan salah satu aspek penting dalam komposisi musik: warna suara.

“Warna suara itu penting, bukan hanya teknik kerumitan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bagaimana frekuensi bunyi memiliki karakter yang berbeda-beda. Gitar bass, misalnya, memiliki spektrum bunyi low, middle, dan high yang menciptakan nuansa tertentu. Bahkan dalam gamelan yang secara kategori sama, perbedaan alat pukul dapat menghasilkan warna suara yang berbeda pula.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa musik bukan hanya soal nada yang tepat atau permainan yang rumit. Yang lebih penting adalah bagaimana bunyi mampu membangun suasana ilustratif dan menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton.

Karena itu, seorang komposer harus memahami hubungan antara alat musik, pemain, dan komposisi. Musik lahir bukan hanya dari alat, tetapi juga dari cara manusia memperlakukannya.

“Ketika anda mengkomposisi sesuatu anda harus tahu warna suara terlebih dahulu,” ujarnya.

Eksperimen, Kolaborasi, dan Keberanian

Semangat eksperimen menjadi inti proses kreatif yang dibangun dalam workshop “Swara Loka Karsa”. Ary memperkenalkan berbagai pendekatan musikal kepada peserta: mulai dari improvisasi berbasis napas atau freemath, pendekatan dramatik, meditatif, hingga konsep unism yang menekankan kebersamaan dalam kompleksitas bunyi.

Ia juga menekankan pentingnya kerja kolektif dalam seni pertunjukan. Musik, terutama ketika berhadapan dengan tari, tidak bisa bergerak secara egois. Komposer harus memahami ritme gerak penari, memahami sukat, dan membangun keseimbangan bersama.

“Ini keseimbangan banget, kita tahu teknik, kita berhadap dengan penari, tidak bisa ego sentris,” katanya.

Pandangan itu terasa relevan dalam konteks seni pertunjukan kontemporer yang semakin menuntut kolaborasi lintas disiplin. Musik tidak lagi berdiri sendiri sebagai pengiring tari.

Sebaliknya, ia menjadi bagian dari tubuh pertunjukan secara keseluruhan. Bunyi dan gerak saling memengaruhi, saling memberi ruang, sekaligus saling menegosiasikan ritme.

Di dalam workshop singkat tersebut, peserta diberi kebebasan menentukan judul karya dan mengembangkan melodi sendiri. Ary hanya memberi dasar-dasar teknik penciptaan, sementara pengembangan artistik sepenuhnya diserahkan kepada peserta.

“Para peserta yang menentukan judul, harus murni dari mereka. Saya kasih melodi, jangan mentah menggunakan melodi saya, tapi peserta harus mengembangkannya dengan beberapa teknik,” jelasnya.

Pendekatan ini memperlihatkan pentingnya regenerasi dalam dunia seni. Seorang mentor bukan pencipta tunggal yang mendikte hasil akhir, melainkan fasilitator yang membuka ruang tumbuh bagi kreativitas peserta.

Ary melihat potensi besar dalam diri para peserta workshop di NTB. Menurutnya, kekayaan unsur etnik di daerah ini merupakan modal artistik yang luar biasa untuk melahirkan karya-karya baru.

“Saya melihat para peserta sangat mempunyai potensi yang luar biasa, karena banyaknya unsur etnik yang bisa digabung,” katanya.

Ia bahkan menilai kemampuan teknis peserta sebenarnya tidak jauh berbeda dengan musisi di Bali. Yang mereka perlukan hanyalah arah, keberanian, dan ruang eksplorasi yang lebih panjang.

Baca Juga :  Menari dari Rumah yang Retak

“Pemainnya sudah mempunyai skill rata-rata sama dengan di Bali, tinggal diarahkan saja, apalagi mereka ini guru dan komposer,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap minimnya ruang penciptaan di daerah. Selama ini, banyak seniman lokal memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan karya secara berkelanjutan.

Swara yang Menyatukan Pulau

Puncak dari seluruh proses workshop itu hadir dalam pementasan musik berdurasi 13 menit 9 detik bertajuk “Swara Loka Karsa”. Pertunjukan tersebut bukan hanya demonstrasi kemampuan musikal peserta, melainkan simbol tentang bagaimana keberagaman budaya dapat dirajut menjadi harmoni bersama.

Ary menyebut pertunjukan itu sebagai “simfoni kolaborasi musik yang merayakan harmoni di tengah kemajemukan Nusa Tenggara Barat.”

Di bawah identitas NTB sebagai “Pulau Seribu Masjid”, pertunjukan tersebut mencoba merepresentasikan kehendak masyarakat untuk hidup berdampingan dalam kedamaian. Unsur budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo dilebur dalam aransemen modern-etnik yang membentuk satu kesatuan musikal.

Bunyi-bunyi tradisional tidak diperlakukan sebagai ornamen folklor semata. Sebaliknya, ia diposisikan sebagai identitas bunyi yang hidup dan mampu berdialog dengan instrumen modern seperti keyboard, drum set, dan gitar bass.

Sebanyak tiga gendang beleq, saron, kantil, reyong, gong, kempul, suling, hingga rincik menjadi tubuh utama pertunjukan. Instrumen-instrumen itu menghadirkan lanskap suara yang berlapis: kadang ritmis dan eksplosif, kadang lirih dan meditatif.

Melalui komposisi tersebut, penonton diajak merasakan bahwa perbedaan ritme dan dialek budaya bukanlah ancaman. Justru dari perbedaan itulah lahir harmoni.

“Swara Loka Karsa hadir untuk menyatukan hati masyarakat NTB, mengingatkan bahwa di tengah perbedaan geografis dan budaya, mereka adalah satu kesatuan utuh yang kokoh dan gemilang,” ujar Ary.

Pernyataan itu terasa penting di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh identitas, kepentingan, dan polarisasi sosial. Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik.

Di balik seluruh keterbatasan waktu workshop, Ary tetap melihat proses tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Ia merasa diterima hangat oleh para seniman NTB dari berbagai genre musik dan latar budaya.

“Yang paling utama adalah ketika seniman bertemu seniman terjadilah pembahasan sebuah komposisi, bercengkrama dengan nada-nada dan kami akhirnya melahirkan sebuah karya,” katanya.

Barangkali di situlah makna terdalam “Swara Loka Karsa” berada. Bukan semata pada hasil pertunjukan, melainkan pada proses perjumpaan antarseniman, pertukaran gagasan, dan keberanian untuk menciptakan sesuatu bersama-sama.

Sebab pada akhirnya, seni selalu lahir dari manusia yang bersedia mendengarkan satu sama lain: mendengarkan bunyi, mendengarkan tubuh, dan mendengarkan denyut kebudayaan yang terus bergerak mengikuti zaman. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”
Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta
Menari dari Rumah yang Retak
Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa
Merawat Tradisi, Merayakan Masa Depan lewat Musik Swara Loka Karsa
Menjaga Akar, Menembus Dunia dalam Swara Loka Karsa
Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan
Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:59 WITA

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:14 WITA

Menari dari Rumah yang Retak

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:22 WITA

Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA