Menari dari Rumah yang Retak

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak mengejar parade gerak yang rumit dan spektakuler. Ia lebih menekankan kesadaran emosi (Foto:  aks / ceraken,id(

Tidak mengejar parade gerak yang rumit dan spektakuler. Ia lebih menekankan kesadaran emosi (Foto: aks / ceraken,id(

CERAKEN.ID — Di ruang pertunjukan yang tidak terlalu megah itu, tubuh-tubuh muda bergerak perlahan. Tidak ada dentuman musik yang hingar. Tidak ada atraksi gerak yang memaksa penonton terpukau oleh teknik akrobatik. Yang hadir justru sesuatu yang lebih sunyi dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan tentang keluarga.

Tubuh para penari bergerak seperti sedang mengingat rumah. Mengingat ibu yang setiap hari bekerja tanpa henti. Mengingat ayah yang perlahan tenggelam dalam kesibukan.

Mengingat anak-anak yang tumbuh bersama layar digital dan percakapan yang semakin jarang. Gerak-gerak itu tampak sederhana, tetapi menyimpan luka emosional yang tidak selalu mudah diucapkan dengan kata-kata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari ruang pencarian itulah Workshop Seni Pertunjukan “Swara Loka Karsa” yang digagas Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat menemukan denyut artistiknya. Program ini bukan sekadar pelatihan tari biasa.

Ia menjelma menjadi ruang belajar tentang tubuh, emosi, relasi sosial, sekaligus keberanian membaca kehidupan melalui seni pertunjukan.

Di bawah pendampingan Dr. Alfiyanto, para peserta tidak diarahkan untuk sekadar menghafal koreografi. Mereka justru diajak memahami bahwa tari kontemporer adalah ruang dialog antara tubuh dan pengalaman hidup.

Tubuh bukan hanya alat reproduksi gerak, melainkan medium untuk menerjemahkan keresahan manusia modern.

“Pada dasarnya kegiatan ini sangat luar biasa, karena Taman Budaya Provinsi NTB berani memilih event salah satunya tentang tari kontemporer,” ujar Alfiyanto pada Sabtu siang, 16 Mei 2026.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna penting. Di banyak daerah, tari kontemporer masih kerap dipandang asing, bahkan dianggap terlalu bebas dan jauh dari akar budaya lokal.

Padahal, di tangan koreografer yang memahami tubuh dan ruang sosialnya, tari kontemporer justru mampu menjadi medium refleksi paling jujur tentang kehidupan manusia hari ini.

Workshop “Swara Loka Karsa” mencoba membongkar anggapan tersebut. Tari kontemporer tidak hadir sebagai seni yang meninggalkan tradisi, melainkan sebagai cara baru membaca kenyataan sosial yang sedang berubah.

Tubuh sebagai Ruang Pencarian

Bagi Alfiyanto, keberhasilan workshop tidak diukur dari semegah apa hasil pertunjukan yang dipentaskan. Yang jauh lebih penting adalah proses pencarian yang dialami peserta selama workshop berlangsung.

Karena itu, sejak awal ia tidak memaksa para peserta mengejar bentuk gerak tertentu. Mereka justru dirangsang untuk berani mengeksplorasi pengalaman personal masing-masing, mencari sumber emosi dari kehidupan sehari-hari, lalu menerjemahkannya menjadi bahasa tubuh.

“Tujuan akhir dari kegiatan ini bukan dilihat dari hasil karyanya, tapi yang paling penting adalah prosesnya. Nah di dalam proses ini, saya mencoba memantik keberanian daya kreatif setiap peserta. Mereka bebas untuk bereksplorasi, dirangsang untuk mencari dan menemukan,” katanya.

Pendekatan semacam itu terasa penting di tengah kecenderungan sebagian pembelajaran tari yang masih menempatkan tubuh sekadar sebagai alat hafalan gerak.

Tubuh sering kali hanya dituntut presisi, keseragaman, dan ketepatan hitungan. Dalam workshop ini, tubuh justru diperlakukan sebagai ruang pengalaman yang menyimpan memori, tekanan emosional, hingga relasi sosial.

Karena itulah Alfiyanto tidak mengejar parade gerak yang rumit dan spektakuler. Ia lebih menekankan kesadaran emosi.

“Saat ini mereka memahami bahwa tari itu bukan parade gerak, tapi bagaimana emosi bisa menjadi sebuah ekspresi,” ungkapnya.

Dari titik itulah para peserta mulai memahami bahwa tari kontemporer tidak harus meninggalkan akar kehidupan lokal. Pengalaman tentang keluarga, hubungan orang tua dan anak, bahasa keseharian, hingga persoalan domestik justru dapat menjadi sumber penciptaan artistik yang kuat.

Baca Juga :  Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Workshop ini menggunakan pendekatan Penciptaan Relasi Artistik, sebuah metode yang menempatkan makna sebagai pusat penciptaan karya.

Dalam pendekatan tersebut, kesamaan gerak bukan persoalan utama. Gerak yang sama bisa melahirkan tafsir berbeda tergantung konteks tubuh, ruang, waktu, dan emosi yang melatarinya.

Karena itu, repetisi atau pengulangan gerak yang muncul dalam karya-karya peserta bukanlah tanda kemiskinan eksplorasi. Justru dari pengulangan itulah lahir simbol tentang rutinitas, tekanan psikologis, kebiasaan keluarga, hingga hubungan emosional yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Gerak sederhana berubah menjadi tafsir sosial yang reflektif. Tubuh tidak lagi sekadar bergerak, tetapi berbicara.

Keluarga dalam Tubuh yang Bergerak

Ada alasan mengapa tema keluarga dipilih dalam workshop ini. Waktu pelatihan yang relatif singkat membuat Alfiyanto memilih persoalan yang paling dekat dengan kehidupan peserta agar mereka lebih mudah menyelami pengalaman emosional yang hendak diterjemahkan ke atas panggung.

“Untuk pementasan nanti malam, saya membantu memilihkan tema yang simple dan sederhana, yaitu persoalan keluarga, rumah tangga, dengan tujuan agar semua penari atau peserta bisa memahami, merasakan, dan memaknai,” jelasnya.

Keluarga memang menjadi ruang pertama manusia belajar tentang cinta, perhatian, kehilangan, kemarahan, hingga keterasingan. Dari keluarga pula seseorang mengenal pelukan sekaligus tekanan emosional.

Ketika hubungan keluarga retak, tubuh manusia sering menyimpan bekas luka yang panjang.

Tema itulah yang kemudian diterjemahkan dalam tiga karya pertunjukan: “Ini Mami Papi”, “Aku dan Emak”, dan “Tiang”.

Karya pertama, “Ini Mami Papi”, menghadirkan potret kecemasan keluarga modern yang semakin kehilangan ruang komunikasi. Sapaan “Mami” dan “Papi” tidak lagi sekadar panggilan akrab, melainkan gema hubungan yang perlahan menjauh.

Tubuh para penari bergerak di antara keinginan untuk saling mendekat dan kenyataan yang terus menciptakan jarak. Ada tangan yang mencoba meraih tetapi gagal menyentuh.

Ada langkah yang mendekat lalu kembali menjauh. Ada tubuh yang sibuk dengan dirinya sendiri di tengah ruang rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Karya ini terasa dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini. Banyak keluarga hidup dalam satu rumah, tetapi berada di dunia masing-masing.

Cahaya layar digital menggantikan percakapan. Kesibukan menggantikan kehangatan. Orang tua cemas terhadap anak-anaknya, sementara anak merasa tidak lagi dipahami.

Kegelisahan berbeda hadir dalam karya kedua, “Aku dan Emak”. Pertunjukan ini membawa penonton masuk ke ruang domestik yang selama ini sering dianggap biasa: dapur, sumur, dan pekerjaan rumah tangga.

Di ruang itulah tubuh seorang ibu bekerja tanpa banyak suara. Gerak repetitif yang dilakukan para penari menggambarkan rutinitas yang nyaris tidak pernah selesai.

Ada langkah berat yang terus berjalan. Ada tubuh yang bergerak tanpa jeda, seolah menggambarkan beban panjang yang dipikul seorang ibu demi menjaga kehidupan keluarganya.

Namun karya ini tidak menghadirkan sosok emak sebagai figur sentimental semata. Ia hadir sebagai manusia yang kuat, tegas, dan terus bertahan dalam tekanan hidup sehari-hari.

Penonton melihat bagaimana cinta kadang tidak hadir dalam kata-kata lembut, melainkan dalam disiplin, pengorbanan, dan ketahanan menjalani kehidupan.

Sementara itu, karya ketiga berjudul “Tiang” menjadi refleksi paling gelisah di antara semuanya. Karya ini berbicara tentang anak yang kehilangan arah akibat minim perhatian emosional dari keluarga.

“Tiang adalah aku.”

Kalimat pendek itu menjadi pengakuan personal sekaligus metafora sosial. Tiang adalah penyangga bangunan agar tidak runtuh. Namun bagaimana jika penyangga itu sendiri rapuh?

Baca Juga :  Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

Melalui tubuh yang bergerak dalam ketegangan dan kelelahan, karya ini memperlihatkan pergulatan batin seorang anak yang sedang mencari jati dirinya. Ia ingin bertahan, ingin diakui, tetapi kehilangan pegangan emosional.

Gerak yang berulang terasa seperti siklus tekanan psikologis yang tidak pernah selesai. Tubuh jatuh, bangkit, lalu jatuh kembali. Sebuah gambaran tentang generasi muda yang tumbuh di tengah kesepian emosional dalam kehidupan modern yang serba cepat.

Ketika Tari Menjadi Cermin Sosial

Yang menarik dari keseluruhan pertunjukan “Swara Loka Karsa” bukan hanya keberhasilan artistiknya, melainkan keberaniannya menjadikan tari sebagai medium refleksi sosial.

Ketiga karya tidak berbicara tentang mitologi besar atau filsafat yang rumit. Mereka justru berbicara tentang rumah, tentang keluarga, tentang relasi manusia yang perlahan renggang.

Tema-tema yang terasa sederhana, tetapi diam-diam dialami hampir semua orang.

Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, keluarga sering berubah menjadi ruang administratif semata. Orang tua sibuk bekerja. Anak-anak tenggelam dalam dunia digital. Percakapan semakin sedikit. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Melalui pertunjukan ini, persoalan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh. Dan tubuh, dalam banyak hal, adalah medium paling jujur. Ia tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan.

Ketika tubuh bergerak lambat, gemetar, kehilangan keseimbangan, atau terus mengulang gerak yang sama, penonton dapat merasakan tekanan emosional yang mungkin sulit diucapkan dengan kata-kata.

Karena itu, karya-karya dalam “Swara Loka Karsa” terasa reflektif sekaligus edukatif. Alfiyanto sendiri mengakui bahwa ketiga karya tersebut memang diarahkan menjadi pengingat bagi orang tua maupun anak-anak.

“Ketiga judul karya itu lebih pada edukasi, mengingatkan pada orang tua dan anak,” katanya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa seni pertunjukan tidak harus selalu hadir sebagai hiburan. Seni juga dapat menjadi ruang perenungan sosial.

Ia membuka percakapan tentang relasi keluarga, tekanan psikologis, dan kebutuhan emosional manusia modern yang semakin sering diabaikan.

Di sisi lain, workshop ini menunjukkan pentingnya ruang-ruang kreatif seperti yang dibangun Taman Budaya NTB. Keberanian menghadirkan tari kontemporer dalam ekosistem seni daerah menjadi langkah penting membuka cakrawala baru bagi generasi muda.

Lebih dari itu, workshop ini memberi pengalaman mendasar bagi para peserta: bahwa menciptakan tari bukan sekadar memproduksi variasi gerak, melainkan mengolah pengalaman hidup menjadi makna artistik.

Dari proses singkat tersebut, para peserta belajar memahami tubuh mereka sendiri. Mereka belajar bahwa gerak sederhana dapat memiliki daya emosional kuat ketika lahir dari pengalaman yang jujur. Mereka belajar bahwa seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga keberanian membaca kehidupan.

Mungkin karena itulah Alfiyanto merasa proses workshop berkembang cukup jauh.

“Jika saya beri angka proses workshop ini dari mulai awal 10 persen hingga saat ini sudah masuk ke 80 persen,” ujarnya.

Angka itu bukan sekadar ukuran teknis. Ia lebih menyerupai ukuran kesadaran artistik. Kesadaran bahwa tubuh memiliki memori. Kesadaran bahwa keluarga menyimpan luka sekaligus kasih sayang. Kesadaran bahwa tari dapat menjadi jalan memahami manusia.

Dan malam itu, di panggung sederhana “Swara Loka Karsa”, tubuh-tubuh muda itu tidak sekadar menari.

Mereka sedang bercerita tentang rumah yang perlahan berubah, tentang anak-anak yang kehilangan arah, tentang ibu yang diam-diam menanggung dunia, serta tentang cinta keluarga yang terus mencari jalan pulang. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: bi.go.id

Berita Terkait

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”
Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta
Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid
Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa
Merawat Tradisi, Merayakan Masa Depan lewat Musik Swara Loka Karsa
Menjaga Akar, Menembus Dunia dalam Swara Loka Karsa
Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan
Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:59 WITA

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:14 WITA

Menari dari Rumah yang Retak

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:22 WITA

Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA