Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perbankan tidak hanya menjadi institusi keuangan semata, tetapi juga motor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia (Foto: ojk.go.id / ceraken.id)

Perbankan tidak hanya menjadi institusi keuangan semata, tetapi juga motor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia (Foto: ojk.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut akibat kenaikan harga energi dan tingginya volatilitas pasar keuangan internasional, industri perbankan Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat intermediasi perbankan domestik hingga Maret 2026 tetap tumbuh positif dengan tingkat risiko yang relatif terjaga.

Kondisi tersebut menjadi sinyal penting bahwa sistem keuangan nasional masih berada dalam jalur stabil. Ketika banyak negara menghadapi perlambatan ekonomi dan tekanan likuiditas, perbankan Indonesia justru mampu menjaga pertumbuhan kredit sekaligus mempertahankan kualitas pembiayaan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan menjadi Rp8.659,05 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh bank-bank BUMN, bank swasta nasional, bank asing, hingga kantor cabang bank luar negeri. Artinya, optimisme penyaluran pembiayaan tidak hanya terjadi pada satu kelompok perbankan, melainkan merata di berbagai jenis institusi keuangan.

Di saat yang sama, kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio Loan at Risk (LAR), Non Performing Loan (NPL) Gross, dan NPL Net menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menandakan risiko kredit bermasalah masih berada dalam batas aman.

“Hal ini secara umum menunjukkan bahwa peningkatan volatilitas di pasar global tetap menjadi perhatian, namun industri perbankan di Indonesia memiliki tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas yang mampu menyerap potensi tekanan di masa yang akan datang,” kata Dian, di ojk.go.id Rabu (6/5).

Likuiditas Kuat dan Kredit Mulai Menggerakkan Sektor Riil

Salah satu indikator penting lain adalah pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp10.230,81 triliun atau tumbuh 13,55 persen secara tahunan. Kenaikan tabungan, giro, dan deposito memperlihatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan masih sangat tinggi.

Baca Juga :  Meneguhkan Layanan, MengEmaskan Masa Depan: Kiprah Pegadaian Area Dompu di Usia 125 Tahun

Secara ekonomi, pertumbuhan DPK menjadi fondasi penting bagi perbankan untuk terus menyalurkan kredit ke sektor produktif. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di angka 84,64 persen juga menunjukkan likuiditas bank masih cukup longgar dan sehat.

Kondisi ini penting karena ruang likuiditas yang memadai memungkinkan bank tetap ekspansif dalam pembiayaan usaha, investasi, maupun konsumsi masyarakat. Dengan kata lain, sektor perbankan masih memiliki “bahan bakar” untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Menariknya, pertumbuhan kredit terbesar justru terjadi pada sektor konstruksi yang mencapai Rp181,98 triliun atau tumbuh 46,67 persen. Ini menandakan aktivitas pembangunan infrastruktur, properti, dan proyek fisik masih bergerak cukup kuat.

Selain itu, kredit rumah tangga dan industri pengolahan juga meningkat. Kondisi tersebut memperlihatkan roda ekonomi tidak hanya berputar di sektor besar, tetapi juga mulai menyentuh konsumsi masyarakat dan aktivitas industri manufaktur.

Dari sisi jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh paling tinggi hingga 20,85 persen. Angka ini menjadi indikator positif karena kredit investasi umumnya digunakan untuk ekspansi usaha, pembelian mesin produksi, pembangunan pabrik, atau pengembangan bisnis jangka panjang.

Secara analitis, peningkatan kredit investasi menunjukkan pelaku usaha masih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia. Dunia usaha cenderung tidak akan melakukan ekspansi apabila kondisi ekonomi dipandang tidak stabil.

UMKM Mulai Bangkit di Tengah Tekanan Ekonomi

Salah satu bagian paling penting dari laporan OJK adalah mulai membaiknya kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Setelah sebelumnya mengalami kontraksi, kredit UMKM pada Maret 2026 akhirnya kembali tumbuh positif sebesar 0,12 persen menjadi Rp1.498,64 triliun.

Walaupun pertumbuhannya belum besar, tren ini memberi sinyal pemulihan sektor usaha rakyat mulai bergerak. Apalagi kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi domestik yang masih menantang.

OJK bersama pemerintah juga terus mendorong akses pembiayaan UMKM melalui kebijakan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM. Regulasi ini diarahkan agar akses kredit menjadi lebih mudah, cepat, murah, dan inklusif.

Baca Juga :  Menjaga Api Ramadan di Ruang Kehidupan Sehari-hari

Kebijakan tersebut memiliki arti strategis karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus menjadi penopang ekonomi masyarakat kecil dan menengah.

Pertumbuhan kredit UMKM terutama berasal dari sektor pertanian, kehutanan, perikanan, aktivitas keuangan dan asuransi, serta sektor akomodasi dan makanan-minuman. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi rakyat mulai bergerak kembali, terutama di sektor-sektor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menurut Dian, penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui pembiayaan. Perbankan juga perlu memberikan pendampingan usaha, literasi keuangan, hingga pengembangan pasar agar pelaku UMKM mampu tumbuh lebih produktif dan berkelanjutan.

Beberapa strategi yang disiapkan antara lain pendekatan rantai pasok, digitalisasi proses kredit, dan peningkatan literasi keuangan. Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat melalui berbagai insentif seperti PPh final UMKM dan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi sektor pariwisata dan padat karya.

Catatan penting dari kondisi ini adalah manfaatnya yang sangat besar bagi masyarakat. Ketika perbankan tetap sehat dan kredit terus tumbuh, maka peluang usaha menjadi lebih terbuka, investasi meningkat, dan lapangan kerja baru dapat tercipta.

Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan yang lebih mudah memberi kesempatan untuk memperbesar usaha, meningkatkan produksi, dan memperluas pasar.

Sementara bagi masyarakat umum, stabilitas sektor perbankan berarti menjaga keamanan tabungan, memperkuat akses pembiayaan rumah tangga, serta membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global.

Jika tren positif ini terus terjaga, maka perbankan tidak hanya menjadi institusi keuangan semata, tetapi juga motor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ojk.go.id

Berita Terkait

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB
Ekonomi Indonesia Melaju 5,61 Persen, Sinyal Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan Lima Persen
APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global
Mandalika dan Janji Nilai Tambah untuk NTB
Sinergi Tiga Pilar Percepat Pengembangan KEK Mandalika
PINISI 2026: Menjaga Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tetap Menyala
Jalan Keselamatan Bernama Kesiapsiagaan
Menjaga Nalar Demokrasi: Antara Kritik dan Pembusukan di Ruang Publik

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:59 WITA

Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:55 WITA

Ekonomi Indonesia Melaju 5,61 Persen, Sinyal Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan Lima Persen

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:10 WITA

APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:53 WITA

Mandalika dan Janji Nilai Tambah untuk NTB

Berita Terbaru

Ilustrasi: cewe / ceraken,id

OPINI

“Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:12 WITA