CERAKEN.ID — Di tengah deretan kabar bencana alam yang datang silih berganti dari berbagai wilayah Indonesia, musik kembali menemukan perannya sebagai suara nurani. Ketika banjir bandang menerjang Aceh, sebagian wilayah Sumatera, hingga Sulawesi, banyak orang merespons dengan doa, bantuan kemanusiaan, atau kemarahan terhadap kerusakan lingkungan yang semakin tak terkendali.
Namun bagi Apip Sutardi, musisi reggae asal Lombok yang mengusung project solo Sound Of Magic Island, respons itu hadir dalam bentuk lagu.
Melalui single terbarunya berjudul “Nikmati Syukuri”, Apip mencoba menghadirkan ruang renung bagi masyarakat tentang hubungan manusia dengan alam. Lagu yang mulai dapat dinikmati di berbagai platform musik digital sejak Jumat, 15 Mei 2026 itu bukan sekadar karya hiburan, melainkan sebuah seruan lembut agar manusia kembali mengingat bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga warisan bagi generasi berikutnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lagu tersebut diciptakan Apip pada 10 Januari 2026, di tengah kegelisahan melihat bencana ekologis yang terus berulang. Liriknya kemudian dikembangkan bersama Ambon Doank, musisi reggae Lombok yang dikenal sebagai rapper sekaligus aktivis kemanusiaan.
Kolaborasi keduanya melahirkan karya dengan nuansa reflektif, santai, namun menyimpan kritik sosial yang kuat terhadap cara manusia memperlakukan alam.
Apip menyadari bahwa masyarakat sebenarnya sudah memahami hubungan antara kerusakan lingkungan dan bencana. Penebangan hutan, eksploitasi tambang, pencemaran sungai, hingga alih fungsi lahan telah lama disebut sebagai penyebab utama rusaknya keseimbangan alam.
Namun, menurutnya, kerusakan yang terjadi hari ini terasa semakin menyakitkan karena seolah dilakukan secara sadar demi kepentingan segelintir orang.
“Bencana perusakan alam kali ini memang sepertinya disengaja untuk kepentingan segelintir orang, tapi dampaknya masyarakat kecil yang harus kehilangan nyawa dan harta benda,” ujar Apip.
Reggae sebagai Bahasa Perlawanan yang Lembut
Di tangan banyak musisi, reggae memang sering menjadi medium kritik sosial. Namun “Nikmati Syukuri” tidak memilih jalur kemarahan yang meledak-ledak.
Lagu ini justru hadir dengan pendekatan yang lebih tenang, akustik, dan kontemplatif. Apip mengaku lelah jika isu lingkungan hanya disampaikan melalui teriakan atau protes keras yang sering kali tidak lagi didengar publik.
Karena itu, ia memilih jalan yang lebih “soft”. Melalui irama reggae yang rileks dan lirik yang menyentuh keseharian, ia berharap pesan tentang pentingnya menjaga alam bisa lebih mudah diterima banyak orang.
“Capek juga kita protes dengan suara lantang dan hal-hal keras lainnya untuk penyadaran isu pelestarian alam ini. Mungkin dengan cara yang soft ini perlahan akan lebih masuk dan dipahami,” katanya.
Pilihan pendekatan tersebut terasa kuat sejak awal lagu. Tidak ada nada menggurui, tidak ada pula diksi yang penuh kemarahan.
Yang muncul justru ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan modern dan kembali menikmati hal-hal sederhana yang sering terlupakan. Udara pagi, suara air sungai, hamparan sawah, hingga kesejukan hutan digambarkan sebagai anugerah yang tidak ternilai.
Dalam kehidupan modern hari ini, manusia semakin sibuk mengejar pekerjaan, target ekonomi, dan pencapaian duniawi. Alam sering hanya menjadi latar yang dilintasi setiap hari tanpa benar-benar dirasakan.
Padahal, menurut Apip, kedekatan dengan alam bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan mental dan spiritual manusia.

Ia mengajak orang-orang untuk sesekali menepi dari kesibukan, pergi ke pantai, gunung, sawah, atau hutan, lalu menghirup udara segar dengan perlahan. Dari pengalaman sederhana itulah manusia dapat kembali menemukan rasa syukur dan kewarasan hidup.
Kolaborasi Dua Suara Reggae Lombok
Kehadiran Ambon Doank memberi warna tersendiri dalam lagu ini. Sosok yang dikenal melalui D’Jembe Band dan Lion In The Island Band tersebut selama ini memang dikenal vokal terhadap isu ketidakadilan sosial dan kemanusiaan.
Dalam “Nikmati Syukuri”, Ambon Doank tidak hanya tampil sebagai featuring artist, tetapi juga menulis bagian RAP yang menjadi penyeimbang nuansa lagu.
Kolaborasi ini menjadi pertemuan dua karakter musik reggae Lombok yang sama-sama membawa semangat perlawanan, namun tetap membumi. Apip mengaku senang dapat bekerja bersama musisi yang konsisten menjaga semangat reggae di Pulau Lombok.
“Sangat senang bisa berkolaborasi dengan musisi yang selalu vokal akan ketidakadilan dan konsisten menyalakan api musik reggae di Lombok,” ungkapnya.
Kehadiran Ambon Doank juga memperkuat identitas lagu sebagai karya kolektif yang lahir dari keresahan sosial bersama. Musik tidak lagi menjadi ruang individual, melainkan medium solidaritas untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Nuansa alam dalam lagu ini juga terasa kuat melalui pilihan instrumen musik akustik. Tidak ada dominasi suara elektronik yang berlebihan.
Semua instrumen dibuat senatural mungkin agar menghasilkan suasana yang rileks dan dekat dengan alam. Apip menginginkan para pendengar tidak hanya mendengar lagu ini, tetapi juga merasakan atmosfer ketenangan di dalamnya.
Deretan musisi yang terlibat memperlihatkan semangat gotong royong komunitas musik Lombok. Apip sendiri mengisi vokal dan pianica, sementara Panji memainkan gitar, Ebonk pada bass, Antoq mengisi djembe, dan Rico memainkan piano.
Proses rekaman dilakukan di Studio eLCe (LombokCare) dengan Chily sebagai operator sekaligus penanggung jawab mixing dan mastering di bawah naungan MGCISLND RECORDS.
Alam Lombok Menjadi Ruh Visual Musik
Tidak hanya pada musik, semangat kedekatan dengan alam juga diterjemahkan dalam video klip “Nikmati Syukuri”. Penggarapan visual dilakukan oleh MGCISLND CREATIVE dengan Dedek Tri Utama sebagai videographer, photographer, editor, sekaligus desainer artwork.
Lokasi pengambilan gambar dipilih dari sejumlah kawasan alam di Lombok yang memiliki lanskap hijau dan suasana tenang. Hutan Wisata Kerandangan Senggigi, sungai di Desa Mekar Sari, hamparan sawah di Rembige Mataram, hingga kawasan danau di Legend Lake Kerandangan Senggigi menjadi bagian penting dari visual lagu tersebut.
Pilihan lokasi itu seakan menegaskan bahwa alam bukan hanya tema lagu, melainkan ruh utama dari keseluruhan karya. Alam Lombok ditampilkan bukan sebagai objek wisata semata, tetapi sebagai ruang hidup yang memberi ketenangan, inspirasi, dan kesadaran.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, lagu seperti “Nikmati Syukuri” terasa relevan. Ia hadir bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan irama santai yang mengajak orang perlahan merenungi kembali hubungan mereka dengan bumi.
Musik memang tidak bisa menghentikan banjir atau menanam kembali hutan yang gundul. Tetapi musik mampu menyentuh kesadaran manusia, membuka ruang empati, dan mengingatkan bahwa kehidupan yang terlalu jauh dari alam pada akhirnya hanya akan melahirkan kehampaan.
Melalui “Nikmati Syukuri”, Apip Sutardi dan Ambon Doank seolah ingin mengatakan bahwa menjaga alam tidak harus selalu dimulai dari aksi besar. Kadang, semuanya berawal dari kemampuan sederhana untuk berhenti sejenak, menghirup udara pagi, lalu bersyukur karena bumi masih memberi kehidupan.
Dan di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin suara reggae yang lembut justru menjadi cara paling jernih untuk mengingatkan manusia agar kembali mencintai alamnya sendiri. (*)
Editor : ceraken editor


























































