Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

- Penulis

Jumat, 17 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Faozan menaruh keyakinan besar pada anak didiknya. Ia percaya bahwa ketika siswa telah bersentuhan dengan seni, mereka memiliki “ruang pelarian” yang sehat; sebuah tempat untuk menyalurkan emosi, keresahan, dan harapan (Foto: aks/ceraken.id)

Faozan menaruh keyakinan besar pada anak didiknya. Ia percaya bahwa ketika siswa telah bersentuhan dengan seni, mereka memiliki “ruang pelarian” yang sehat; sebuah tempat untuk menyalurkan emosi, keresahan, dan harapan (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah riuhnya pameran seni rupa bertajuk “Suara Karya” yang digelar oleh SMAN 1 Lembar di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, sosok Faozan, S.Pd., M.Hum hadir bukan sekadar sebagai guru.

Ia menjelma menjadi jembatan antara dunia pendidikan formal dan realitas kehidupan siswa. Dengan pendekatan yang tidak biasa, ia membangun relasi yang melampaui sekat ruang kelas; menjadi teman, pendengar, sekaligus penggerak kesadaran.

Bagi Faozan, pendidikan seni bukan hanya soal teknik atau estetika, melainkan tentang membentuk mentalitas. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar siswa bukan semata soal akademik, tetapi juga soal keberanian, kepercayaan diri, dan cara pandang terhadap kehidupan.

Guru, Sahabat, dan Ruang Aman bagi Siswa

“Saya katakan pada mereka, di luar jam pelajaran, saya adalah teman dekatmu.” Pernyataan sederhana ini menjadi fondasi pendekatan pedagogis Faozan. Ia memilih untuk meruntuhkan jarak antara guru dan siswa, menciptakan ruang komunikasi yang cair dan setara.

Dengan menjadi “teman”, Faozan mampu memahami kondisi psikologis, latar belakang keluarga, hingga pergulatan batin para siswanya. Pendekatan ini terbukti efektif ketika ia menyisipkan nilai-nilai kehidupan melalui seni.

Materi pelajaran tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari percakapan yang hidup.

Ia menanamkan satu prinsip yang kuat: musuh utama manusia bukanlah orang lain, melainkan kebodohan, kemiskinan, dan kemalasan. Tiga hal ini, menurutnya, hanya bisa dilawan dengan kesadaran, kerja keras, dan kreativitas.

Seni menjadi medium untuk itu, sebuah cara untuk melatih kepekaan sekaligus keberanian.

Relasi yang terbangun juga meluas di luar ruang formal. Diskusi di kelas berlanjut ke ruang-ruang informal seperti tempat ngopi atau tongkrongan. Di sanalah, proses pendidikan berlangsung secara organik; tanpa tekanan, tetapi penuh makna.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Puisi sebagai Cermin Perlawanan dan Identitas

Salah satu momen yang paling membekas dalam rangkaian kegiatan “Suara Karya” adalah ketika Faozan membacakan puisinya yang berjudul “Membunuh Takdir”. Puisi yang ditulis pada 2011 itu bukan sekadar karya sastra, melainkan refleksi perjalanan hidupnya.

Lahir dari keluarga sederhana—orang tua yang tidak menamatkan pendidikan dasar—Faozan menjadikan puisi sebagai medium untuk melawan keterbatasan. Dalam bait-baitnya, tersirat pergulatan eksistensial, pertanyaan tentang takdir, dan kerinduan akan perubahan.

Puisi tersebut menggambarkan kegelisahan seorang anak muda yang mempertanyakan posisinya di dunia: antara mimpi besar dan realitas yang keras. Referensi tokoh-tokoh besar seperti Wisanggeni, Al-Fatih, hingga Gajah Mada menjadi simbol harapan sekaligus tantangan.

Namun lebih dari itu, puisi ini juga menyuarakan pluralitas spiritual—dari seruan “Eeee Sang Hyang Widi” hingga “Ya Robb” dan “Ooo Tuhan Yesus”—yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Di tengah keragaman itu, ada satu benang merah: pencarian makna hidup.

Bagi siswa kelas XII, puisi ini menjadi cermin. Ia berbicara tentang kegelisahan yang mereka rasakan, tentang ketidakpastian masa depan, dan tentang dorongan untuk melampaui batas-batas yang ada.

Meski tidak seluruh bait dibacakan di panggung, esensi puisi tetap sampai: bahwa setiap individu memiliki kuasa untuk “membunuh” takdir yang membatasi dirinya.

Melawan Mental Lemah: Seni sebagai Jalan Transformasi

Di balik keberhasilan pameran “Suara Karya”, terdapat proses panjang yang tidak selalu mudah. Faozan mengakui bahwa meyakinkan siswa untuk terlibat aktif dalam seni bukan perkara sederhana.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Latar belakang geografis dan sosial yang cenderung pragmatis membuat sebagian siswa lebih fokus pada hasil daripada proses.

Akibatnya, banyak siswa yang kurang percaya diri, bahkan malu terhadap karya mereka sendiri. Dialektika dalam menentukan objek lukisan sering kali menjadi beban mental. Rasa takut salah dan takut dinilai menjadi penghambat utama.

Di sinilah peran Faozan menjadi krusial. Ia tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membangun mental “petarung” dalam diri siswa. Ia mengajak mereka untuk berani keluar dari zona nyaman, untuk tidak takut gagal, dan untuk melihat proses sebagai bagian penting dari pembelajaran.

Tantangan lain datang dari ego sektoral siswa yang cenderung apatis. Untuk mengatasinya, Faozan menggunakan berbagai pendekatan, dari yang bersifat persahabatan hingga pendekatan modern dan postmodern.

Ia menjelaskan bahwa kurikulum terus berubah, dan siswa harus adaptif serta kritis dalam menyikapi proses belajar.

Menariknya, pameran ini selalu mengalami transformasi setiap angkatan. Mulai dari konsep, lokasi, hingga objek karya, semuanya berkembang seiring waktu. Hal ini menunjukkan bahwa seni bukan sesuatu yang statis, melainkan terus bergerak mengikuti dinamika pemikiran siswa.

Pada akhirnya, Faozan menaruh keyakinan besar pada anak didiknya. Ia percaya bahwa ketika siswa telah bersentuhan dengan seni, mereka memiliki “ruang pelarian” yang sehat; sebuah tempat untuk menyalurkan emosi, keresahan, dan harapan.

“Seni memberi mereka jalan,” ujarnya singkat.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin kompleks, jalan itu adalah salah satu yang paling manusiawi. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA