Membongkar Batas Panggung: PTP ke-5 dan Lahirnya Imajinasi Baru Teater Pelajar NTB

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Asta (kiri), Yuda (kanan). “Ars longa, vita brevis: hidup itu singkat, tapi karya kesenian itu abadi.” (Foto: aks / ceraken.id)

Asta (kiri), Yuda (kanan). “Ars longa, vita brevis: hidup itu singkat, tapi karya kesenian itu abadi.” (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sela kemeriahan malam Anugerah Pekan Teater Pelajar (PTP) ke-5 Tahun 2026, sebuah ruang percakapan yang hangat dan penuh gagasan berlangsung di Wisma Dua Taman Budaya Provinsi NTB, Sabtu, 23 Mei 2026.

Sarasehan Teater Sasentra Ummat itu bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan ruang bertemunya pengalaman, keresahan, dan harapan tentang masa depan teater pelajar di Nusa Tenggara Barat.

Dengan moderator Yuda Pratama, Ketua Panitia PTP ke-5, sarasehan menghadirkan Ahmad Saleh Tabibuddin—akrab disapa Asta—sebagai pemantik diskusi. Sebagai Dewan Juri PTP ke-5, Asta memotret geliat baru teater sekolah di NTB yang menurutnya sedang bergerak ke arah yang lebih berani dan eksploratif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PTP sebagai Ruang Kebebasan Kreatif

Asta mengaku terkejut melihat perkembangan teater pelajar di NTB hari ini. Baginya, banyak kelompok teater sekolah mulai berani keluar dari pola-pola realisme yang selama ini mendominasi festival teater.

“Ternyata teater sekolah di NTB hari ini teaternya sudah sangat beragam. Saya tercengang juga misalkan ada tawaran-tawaran teater yang itu di luar dari kebiasaan festival yang terjadi di sini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini festival-festival teater di NTB cenderung menempatkan teater realisme sebagai standar utama. Tradisi itu, menurutnya, banyak dipengaruhi oleh festival-festival lama yang telah berusia puluhan tahun. Namun, PTP justru hadir untuk membuka ruang bagi bentuk-bentuk teater lain.

“Nah, sehingga wadah Pekan Teater Pelajar (PTP) ini kemudian muncul untuk mewadahi itu bahwa teman-teman di PTP itu sebetulnya ya bisa eksplorasinya seliar-liarnya, bebas sebebas-bebasnya,” katanya.

Dalam penjelasannya, Asta menyinggung konsep “tembok imaginer” dalam teater realisme; sebuah batas antara aktor dan penonton yang tidak boleh ditembus. Di PTP, batas itu justru dipersilakan untuk dihancurkan.

“Kalian bisa bobol itu, kalian bisa hancurkan ruang batasnya imaji itu. Kalian bisa bermain ke segala arah, bermain dengan penonton bahkan menawarkan gagasan-gagasan yang lain yang mungkin belum pernah kita lihat,” tutur Asta.

Namun, kebebasan itu bukan berarti tanpa arah. Ia menekankan bahwa setiap pilihan artistik tetap harus memiliki logika dramaturgi yang jelas.

Baca Juga :  Merawat Tradisi, Merayakan Masa Depan lewat Musik Swara Loka Karsa
Dramaturgi Menjadi Jembatan Penilaian

Keberagaman bentuk pertunjukan memunculkan tantangan tersendiri bagi Dewan Juri. Pertanyaan tentang bagaimana menilai teater realis dan nonrealis muncul dari perwakilan SMAN 1 Sumbawa Besar, Teater Pustaka Raga.

Menjawab hal itu, Asta menegaskan bahwa dramaturgi menjadi titik temu dalam penilaian.

“Cara menjembatani perbedaan itu adalah melalui dramaturgi,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bagaimana teater Brechtian maupun teater rakyat menghancurkan batas antara penonton dan aktor. Dalam bentuk seperti itu, penonton bisa diajak berinteraksi langsung, bahkan menjadi bagian dari pertunjukan.

“Nah, selama dramaturginya sesuai dengan yang ditunjukkan yang dia tampilkan, itu menjadi penilaian kami. Dramaturgi menjadi penting di PTP,” jelasnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa PTP tidak sedang mencari satu bentuk teater yang paling benar. Sebaliknya, festival ini memberi ruang bagi berbagai kemungkinan estetik selama memiliki landasan gagasan yang kuat.

Bagi Asta, keberanian menawarkan bentuk baru justru menjadi tanda sehatnya perkembangan teater pelajar di NTB.

Menulis Naskah: Jalan Sunyi yang Mulai Dilirik

Sarasehan juga membuka pembahasan mengenai penulisan naskah drama. Pertanyaan dari perwakilan SMAN 1 Lunyuk tentang kemungkinan menggunakan naskah sendiri menjadi pintu masuk diskusi yang menarik.

Nopyastuty (kedua dari kanan). Ia kemudian meminta peserta menyebutkan hal-hal yang mereka dapatkan dari proses berteater: percaya diri, disiplin, tanggung jawab, konsistensi, kerja sama, hingga fokus (Foto: aks / ceraken.id)

Asta justru mendorong para pelajar untuk mulai serius menulis naskah drama.

“Hal ini sangat boleh bahkan dianjurkan,” ujarnya.

Menurutnya, penulis naskah drama masih sangat sedikit, padahal bidang tersebut memiliki peran penting dalam dunia teater. Ia menjelaskan bahwa di luar negeri, penulis drama memiliki posisi khusus sebagai playwright.

“Nah, kalau adik-adik kepengin juga jadi menulis drama justru menarik itu karena hampir jarang sekali ya kita lihat ada kawan-kawan yang fokus di situ,” katanya.

Asta kemudian menyebut nama Mulyadi dari SMKN 1 Gangga, Lombok Utara, yang naskahnya pernah terpilih sebagai salah satu terbaik dalam ajang Dewan Kesenian Jakarta. Baginya, capaian itu menjadi bukti bahwa NTB memiliki potensi besar dalam bidang penulisan drama.

Baca Juga :  Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Saat ditanya bagaimana cara menjadi penulis naskah yang baik, Asta mengutip jawaban dramawan Anton Chekov.

“Satu menulis, dua menulis, tiga menulis,” katanya sambil disambut tawa peserta.

Ia menambahkan bahwa membaca dan menulis harus berjalan beriringan. Semakin banyak membaca naskah, semakin kuat pula insting dramatik seorang penulis.

Teater sebagai Sekolah Kehidupan

Momen paling emosional dalam sarasehan muncul saat Nopyastuty Ade Katutari, Pembina Teater Sinar SMAN 1 Narmada, berbicara. Dengan suara yang tenang tetapi penuh energi, ia membagikan pengalamannya mempertahankan eksistensi sebagai perempuan, ibu rumah tangga, sekaligus pelatih teater selama puluhan tahun.

“Keberhasilan saya di teater itu ketika saya bisa mempertahankan eksistensi saya sebagai seorang pembina, sebagai seorang pelatih,” ujarnya.

Nopyastuty bercerita bagaimana ia tetap aktif menggarap pertunjukan meskipun harus membesarkan tiga anak. Bahkan, ia pernah naik ke panggung sambil membawa bayinya.

Baginya, teater bukan sekadar urusan piala atau kemenangan festival. Yang paling penting adalah proses pembentukan karakter.

“Teater itu, bagi saya bukan hanya belajar akting. Akting itu hanya sebagian kecil dari teater, tapi lebih luasnya kalian akan belajar hidup di teater,” katanya.

Ia kemudian meminta peserta menyebutkan hal-hal yang mereka dapatkan dari proses berteater: percaya diri, disiplin, tanggung jawab, konsistensi, kerja sama, hingga fokus.

Semua itu, menurut Nopyastuty, adalah modal penting untuk kehidupan.

“Itulah karakter. Dan karakter ini yang akan membawa kalian ke masa depan,” ucapnya.

Asta pun menanggapi pernyataan Nopyastuty dengan refleksi tentang posisi perempuan dalam dunia teater. Ia mengakui bahwa pelaku teater perempuan masih jauh lebih sedikit dibanding laki-laki, terutama setelah memasuki fase menikah dan bekerja.

“Mungkin salah satu strategi yang bisa diambil dari Kak Nopy, carilah suami yang menjadi support system-nya,” ujarnya sambil disambut tawa peserta.

Di akhir sarasehan, Asta menutup forum dengan kutipan klasik dari Yunani yang seolah menjadi simpulan seluruh percakapan sore itu:

“Ars longa, vita brevis: hidup itu singkat, tapi karya kesenian itu abadi.” (aks)

 

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menari Rahmat, Merawat Harmoni
White Dophed: Ketika Inti Matahari Menjadi Cermin Kehidupan
Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Nopyastuty dan Panggung Ketahanan: Teater sebagai Sekolah Karakter di NTB
Bangket Gunung Pengsong: Jejak Pertama I Nyoman Sandiya Membaca Lombok
Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB
Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB
Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:00 WITA

White Dophed: Ketika Inti Matahari Menjadi Cermin Kehidupan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:53 WITA

Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:00 WITA

Nopyastuty dan Panggung Ketahanan: Teater sebagai Sekolah Karakter di NTB

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:59 WITA

Bangket Gunung Pengsong: Jejak Pertama I Nyoman Sandiya Membaca Lombok

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:55 WITA

Membongkar Batas Panggung: PTP ke-5 dan Lahirnya Imajinasi Baru Teater Pelajar NTB

Berita Terbaru

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA

Seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan sosial dan spiritual (Foto: provntb.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Kamis, 4 Jun 2026 - 12:36 WITA