CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus pembangunan yang sering menggeser tradisi ke pinggir kesadaran, ada kabar baik yang datang dari Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Setelah sempat tertunda dua kali, silaturrahmi antara panitia Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer dengan Wakil Bupati Lombok Timur, Ir. H. Moh. Edwin Hadiwijaya, M.M. akhirnya terlaksana pada Minggu (9/5) pukul 20.00 Wita.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda formal pemerintahan atau kunjungan seremonial biasa. Ia menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dengan masyarakat yang selama ini menjaga denyut tradisi dan sumber kehidupan di desa.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Desa Telaga Waru, Junaidi, S.Pd., menyerahkan sebuah buku berjudul Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Air, Tradisi, dan Ingatan Kolektif di Lombok Timur karya Yuga Anggana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku setebal xviii + 157 halaman yang diterbitkan oleh Garudhawaca pada November 2025 itu seolah menjadi penanda penting bahwa sebuah gerakan budaya telah tumbuh dari desa dan mulai mendapat perhatian lebih luas. Di tangan masyarakat Telaga Waru, tradisi tidak diposisikan sebagai romantisme masa lalu, melainkan energi sosial untuk menjaga masa depan.
Dalam catatan ceraken.id tertanggal Minggu (22-02-2026), buku tersebut disebut memiliki kekuatan pada detail peristiwa dan refleksi personal yang jujur. Penulis menyusun kronologi dengan rapi, memperlihatkan dinamika sosial, dan tidak menutup mata pada konflik maupun tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjaga mata air dan tradisi mereka.
Yang menarik, buku ini tidak berhenti sebagai dokumentasi budaya. Ia justru bergerak lebih jauh sebagai refleksi tentang krisis ekologis yang hari ini semakin nyata. Krisis lingkungan, sebagaimana digambarkan dalam buku itu, bukan sekadar persoalan rusaknya alam, tetapi juga hilangnya makna hubungan manusia dengan sumber kehidupannya.
Ketika air hanya dipandang sebagai komoditas dan utilitas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya kejernihan sumber mata air, tetapi juga kejernihan kesadaran manusia terhadap alam dan tradisinya sendiri.
Tradisi yang Menjadi Jalan Pulang
Molang Maliq Mualan Benyer pada akhirnya adalah cerita tentang kembali. Kembali pada akar budaya, kembali pada sumber air, dan kembali pada kebersamaan masyarakat. Namun kembali di sini bukan berarti mundur ke belakang. Ia adalah cara untuk meneguhkan pijakan sebelum melangkah lebih jauh menghadapi perubahan zaman.
Di tengah gencarnya pembangunan desa berbasis wisata dan ekonomi kreatif, masyarakat Telaga Waru memperlihatkan bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi. Justru dari tradisi itulah mereka menemukan identitas sekaligus daya hidup baru.
Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer yang diinisiasi sejak tahun 2024 oleh Perkumpulan Seni Menduli Selayar bersama Pemerintah Desa Telaga Waru menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan agenda pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup pembersihan kawasan mata air, ritual adat, pentas seni tradisi, hingga pameran produk unggulan desa. Semua dirangkai dalam semangat menjaga sumber kehidupan sekaligus merawat solidaritas sosial masyarakat.
Tradisi ini menjadi penting karena lahir dari denyut masyarakat sendiri. Ia bukan proyek instan yang datang dari luar desa, bukan pula agenda seremonial sesaat. Molang Maliq tumbuh dari ingatan kolektif warga yang diwariskan turun-temurun, lalu diadaptasi menjadi energi sosial baru yang relevan dengan tantangan hari ini.
Dalam konteks itu, buku karya Yuga Anggana menjadi penting karena berhasil menggali serpihan ingatan masyarakat yang selama ini tercecer. Ia menatanya menjadi narasi yang utuh, lalu menghidupkannya kembali sebagai peristiwa budaya yang memiliki makna sosial dan ekologis.
Buku itu sekaligus mengingatkan bahwa banyak desa di Nusantara sebenarnya memiliki mata air, ritual, dan memori kolektif yang kaya. Namun perlahan semuanya mulai tergerus oleh perubahan zaman, pembangunan yang serba cepat, dan lunturnya hubungan generasi muda dengan akar budayanya.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Baru
Silaturrahmi dengan Wakil Bupati Lombok Timur menjadi momentum penting karena memperlihatkan adanya perhatian pemerintah daerah terhadap gerakan budaya berbasis lingkungan tersebut.

“Luar biasa dan beliau sangat mendukung. Kalau gak ada halangan beliau akan hadir pada kegiatan perhelatan Molang Maliq Tahun 2026,” ujar Junaidi kepada ceraken.id, Rabu (13/5).
Pernyataan itu memberi harapan bahwa tradisi masyarakat tidak lagi dipandang sebagai kegiatan pinggiran, melainkan bagian penting dari pembangunan daerah. Dukungan pemerintah menjadi penting bukan untuk mengambil alih gerakan masyarakat, tetapi memastikan bahwa ruang hidup tradisi tetap terjaga.
Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji menyampaikan bahwa Wakil Bupati memberikan apresiasi besar terhadap kegiatan itu.
Menurutnya, pemerintah melihat Molang Maliq Mualan Benyer bukan hanya sebagai ritual budaya, tetapi juga membawa pesan tentang masa depan lingkungan dan ingatan kolektif masyarakat Lombok Timur.
Pertemuan itu juga dihadiri dua orang anggota DPRD bersama rombongan pemerintah daerah. Sementara dari panitia Molang Maliq Mualan Benyer hadir sekitar sembilan orang yang didampingi sejumlah tokoh Dusun Benyer.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa gerakan berbasis desa kini mulai mendapatkan tempat dalam percakapan pembangunan daerah. Desa tidak lagi hanya dipandang sebagai objek kebijakan, tetapi juga sumber gagasan dan model pembangunan alternatif.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak daerah berlomba mengembangkan wisata desa dan ekonomi kreatif. Namun sering kali yang ditampilkan hanyalah kemasan visual tanpa menyentuh akar kebudayaan masyarakat. Akibatnya, desa kehilangan ruhnya sendiri.
Molang Maliq menawarkan jalan berbeda. Ia menunjukkan bahwa ritual adat, pelestarian lingkungan, seni tradisi, dan penguatan ekonomi lokal sebenarnya dapat berjalan bersama tanpa harus saling meniadakan.
Menjaga Air, Menjaga Masa Depan
Air selalu menjadi pusat kehidupan masyarakat agraris. Dari mata air, lahir pertanian, budaya, hingga relasi sosial masyarakat. Karena itu, ketika masyarakat Telaga Waru menjaga kawasan mata air melalui ritual dan gerakan budaya, sejatinya mereka sedang menjaga masa depan.
Di banyak tempat, krisis lingkungan terjadi karena manusia memutus hubungan batinnya dengan alam. Hutan ditebang tanpa rasa kehilangan, sungai dicemari tanpa kesadaran, dan mata air rusak tanpa penyesalan. Alam hanya diperlakukan sebagai objek eksploitasi ekonomi.
Tradisi seperti Molang Maliq Mualan Benyer justru menghadirkan cara pandang berbeda. Alam dihormati sebagai bagian dari kehidupan bersama. Mata air tidak hanya dilihat sebagai sumber air, tetapi juga ruang spiritual dan memori kolektif masyarakat.
Karena itu, perhelatan ini sesungguhnya memiliki pesan yang jauh lebih besar dari sekadar agenda budaya tahunan. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap lupa. Perlawanan terhadap cara hidup modern yang sering menjauhkan manusia dari akar ekologis dan kebudayaannya sendiri.
“Terima kasih telah diberikan kesempatan menyampaikan terkait perhelatan tahunan ‘Molang Maliq Mualan Benyer’ termasuk rencana perhelatan yang akan diselenggarakan pada Bulan Juni 2026,” kata Junaidi.
Ucapan sederhana itu menyimpan makna besar. Bahwa masyarakat desa hari ini tidak hanya ingin dikenang sebagai penerima program pembangunan, tetapi juga sebagai penjaga nilai, penjaga air, dan penjaga ingatan kolektif.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin memang kita membutuhkan lebih banyak desa seperti Telaga Waru. Desa yang tidak takut berubah, tetapi juga tidak kehilangan akar.
Desa yang percaya bahwa masa depan tidak selalu harus dibangun dengan meninggalkan tradisi, melainkan justru dengan merawatnya secara lebih sadar dan bermakna. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































