CERAKEN.ID — Pada suatu siang, Senin (6 April 2026), di ruang kerja Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB), Kepala Museum Ahmad Nuralam memperlihatkan sebuah benda yang tampak sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang dalam.
Sebuah kaos dengan motif “Sekardiu”, makhluk mitologis dalam khazanah budaya Sasak, menjadi bukti bahwa warisan tradisi tidak hanya disimpan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui kreativitas zaman. Dari ruang museum, Sekardiu kini melampaui batas-batas panggung wayang, menjelma menjadi produk budaya populer yang sarat nilai estetika dan filosofi.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan medium, melainkan juga perubahan cara pandang terhadap pelestarian budaya. Sekardiu tidak lagi hanya menjadi cerita yang dituturkan, tetapi hadir sebagai simbol visual yang dikenakan, dibawa pulang, dan diperbincangkan lintas generasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kreativitas Disabilitas yang Menghidupkan Tradisi
Dalam catatan Khaerul Anwar (Transformasi Museum Daerah, Maret 2026), ide pengembangan motif Sekardiu pada kain batik lahir dari tangan-tangan terampil siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Lombok Barat. Para siswa penyandang disabilitas ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya karya seni yang kompleks dan bermakna.
Mereka menggambarkan Sekardiu dengan detail yang mengagumkan; lekuk tubuh yang presisi, perpaduan warna yang berani, serta pola garis dan titik yang rumit. Hasilnya bukan sekadar motif dekoratif, tetapi bahasa visual yang memuat filosofi, spiritualitas, serta ekspresi budaya Sasak dalam satu bidang kain.
Di titik ini, batik Sekardiu menjadi lebih dari sekadar produk seni. Ia menjadi medium inklusivitas, ruang di mana kelompok yang sering terpinggirkan justru tampil sebagai pencipta makna. Karya ini juga menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus eksklusif, tetapi justru menemukan kekuatannya dalam keterbukaan dan kolaborasi.
Sekardiu dalam Kosmologi Wayang Sasak
Dalam tradisi Wayang Sasak atau Wayang Menak, Sekardiu adalah makhluk mitologi yang menjadi tunggangan utama tokoh Wong Agung Menak Jayengrane. Sosok ini tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan kesaktian yang menyertai perjalanan spiritual sang tokoh.
Sekardiu digambarkan sebagai perpaduan tiga hewan: kepala singa, badan kuda, dan ekor atau sayap naga. Kombinasi ini bukan tanpa makna. Kuda melambangkan kecepatan dan ketangkasan, singa mencerminkan keberanian dan kewibawaan, sementara naga menjadi simbol keagungan dan spiritualitas tinggi.
Dalam satu tubuh, Sekardiu menyatukan dimensi fisik dan metafisik, kekuatan duniawi dan nilai-nilai transenden.
Dalam lakon Menak yang bernapaskan Islam, Jayengrane mengendarai Sekardiu dalam pengembaraannya menyebarkan ajaran kebenaran. Sekardiu tidak hanya membawa, tetapi juga melindungi dan membantu dalam pertempuran.
Ia adalah representasi dari kekuatan yang menyertai niat baik; sebuah metafora bahwa perjuangan spiritual selalu membutuhkan keberanian, kecepatan, dan kebijaksanaan.

Tidak mengherankan jika kemudian Sekardiu melampaui panggung wayang dan masuk ke berbagai bentuk ekspresi budaya, mulai dari seni tari Jaran Sekardiu hingga motif kain tenun dan batik khas Sasak.
Dari Warisan Komunal ke Hak Kekayaan Intelektual
Langkah penting dalam perjalanan Sekardiu sebagai identitas budaya terjadi ketika Museum Negeri NTB berhasil memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas motif batik dan desain kaos Sekardiu. Sertifikat tersebut diserahkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB pada 11 Oktober 2025.
Menurut Ahmad Nuralam, proses pengurusan HKI berlangsung relatif cepat, hanya dalam waktu sepekan. Kecepatan ini menjadi pesan penting bahwa perlindungan terhadap kekayaan budaya tidak perlu berlarut-larut, selama ada kesadaran dan kemauan.
HKI atas Sekardiu menegaskan dua hal. Pertama, motif batik tersebut adalah hasil karya kreatif yang lahir dari kolaborasi, termasuk kontribusi siswa SLB. Kedua, desain kaos Sekardiu telah resmi menjadi produk cenderamata khas museum yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas kultural.
Namun, lebih dari itu, pengakuan hukum ini juga menjadi bentuk perlindungan terhadap kekayaan komunal masyarakat NTB. Dalam konteks globalisasi, di mana budaya mudah disalin dan dikomersialisasikan tanpa izin, langkah ini menjadi penting untuk menjaga hak dan martabat budaya lokal.
Sekardiu dalam Syair dan Tradisi Nyongkolan
Jejak Sekardiu tidak hanya ditemukan dalam visual dan artefak, tetapi juga dalam tradisi lisan. Khaerul Anwar mencatat bagaimana makhluk mitologi ini menginspirasi lagu tradisional “Gelung Prade.” Dalam percakapan melalui sambungan telepon pada Senin, 4 Mei 2026 pukul 10.06 Wita, ia menjelaskan bahwa Sekardiu hadir sebagai simbol kemegahan dan keindahan dalam prosesi adat.
Lagu tersebut menggambarkan suasana pernikahan adat Sasak, khususnya dalam tradisi nyongkolan, arak-arakan pengantin menuju rumah mempelai perempuan. Dalam prosesi ini, pengantin diarak dengan kuda-kudaan atau jaran kamput, diiringi musik gamelan, dengan busana adat yang penuh hiasan.
Sekardiu muncul sebagai simbol estetika dan status. Ia menjadi “tunggangan imajiner” yang memperindah narasi tentang pengantin yang gagah dan anggun. Dalam konteks ini, Sekardiu bukan hanya makhluk mitologi, tetapi juga metafora tentang kehormatan, keindahan, dan kebanggaan sosial.
Terjemahan bebas syair “Gelung Prade” memperlihatkan bagaimana visualisasi Sekardiu melebur dengan gambaran kemewahan busana, perhiasan, dan gerak arak-arakan. Ia menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.
Perjalanan Sekardiu dari panggung wayang ke motif batik, dari cerita lisan ke produk cenderamata, menunjukkan bahwa budaya tidak pernah statis. Ia bergerak, bertransformasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan akar maknanya.
Dalam konteks ini, Museum Negeri NTB tidak hanya berperan sebagai penjaga artefak, tetapi juga sebagai ruang kreatif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Kolaborasi dengan siswa SLB, pengurusan HKI, hingga pengembangan produk suvenir adalah langkah-langkah konkret yang menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi.
Sekardiu, dengan segala simbolisme dan transformasinya, menjadi bukti bahwa imajinasi kolektif masyarakat Lombok memiliki daya hidup yang panjang. Ia tidak hanya bertahan dalam ingatan, tetapi juga terus hadir dalam bentuk-bentuk baru yang relevan dengan zaman. Di situlah kekuatan sejati budaya, kemampuannya untuk berubah tanpa kehilangan jati diri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































