CERAKEN.ID — Transformasi kawasan Mandalika di Lombok Tengah bukan lagi sekadar cerita tentang pembangunan destinasi wisata. Ia telah bergerak menjadi narasi besar tentang bagaimana pariwisata dirancang untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, ruang pemberdayaan masyarakat, sekaligus panggung yang memperkenalkan Nusa Tenggara Barat (NTB) ke mata dunia.
Di balik geliat itu, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memainkan peran penting sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Kehadirannya tidak hanya diukur dari berdirinya sirkuit internasional, hotel, dan fasilitas wisata modern, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.
Kontribusi tersebut terlihat dalam penciptaan ribuan lapangan kerja baru, keterlibatan ratusan pelaku UMKM lokal, meningkatnya okupansi hotel saat event internasional seperti MotoGP, hingga pembangunan infrastruktur terpadu yang memperkuat wajah pariwisata NTB. Lebih jauh, upaya pelestarian lingkungan dan budaya lokal juga menjadi bagian penting dari arah pembangunan yang diklaim berkelanjutan.
Manager Stakeholder dan Public Relations ITDC, Gresita FY Siahaan, menegaskan bahwa perubahan paling mendasar dalam tubuh ITDC adalah transformasi peran dari sekadar asset holder menjadi master developer.
Menurutnya, perubahan itu membawa filosofi baru bahwa setiap proyek yang dijalankan harus melahirkan value creation atau penciptaan nilai yang nyata.
“Yang artinya adalah di mana ada ITDC, di mana ada proyek yang kita jalankan, di situlah ada value creation,” ujar Gresita dalam sesi tanya jawab kegiatan Silaturahmi dan Media Gathering JMSI NTB di Bukit 360 Mandalika, Jumat (1/5/2026).
Nilai tambah itu, kata dia, tidak boleh berhenti pada bangunan fisik atau nilai investasi semata, melainkan harus terasa dalam bentuk dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Dari Sirkuit ke Dapur UMKM
Gaung MotoGP Mandalika memang mendunia. Nama Lombok berkali-kali disebut dalam siaran internasional, jutaan pasang mata tertuju pada kawasan itu, dan ribuan wisatawan datang membawa perputaran ekonomi yang signifikan.
Namun pertanyaan paling penting bukan hanya seberapa megah event itu berlangsung, melainkan siapa yang paling merasakan manfaatnya.
ITDC menegaskan bahwa masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dari ekosistem tersebut. Gresita menyebut keterlibatan tenaga kerja lokal sebagai prioritas yang terus dijaga, mulai dari pekerja teknis, volunteer, marshal, hingga sektor pendukung lainnya.

“Mulai dari tenaga kerja, volunteer, marshal, asli orang Lombok semuanya,” katanya.
Bukan hanya itu, pelaku UMKM lokal juga mendapat ruang tampil yang strategis. Produk kuliner, kerajinan, dan suvenir khas Lombok menjadi bagian dari wajah resmi penyelenggaraan event internasional.
Dalam opening ceremony maupun area publik utama, UMKM lokal dihadirkan bukan sekadar pelengkap, melainkan sebagai representasi identitas daerah.
ITDC bahkan secara aktif melakukan negosiasi dengan Dorna Sports agar unsur budaya lokal mendapat ruang tampil yang layak dalam panggung internasional.
“Apakah kita tampilkan adat dari Lombok, di situlah peran kita. Karena kitalah yang paling di depan di Dornanya, bisa langsung. Hal seperti itu tidak luput dari kami,” tambah Gresita.
Di titik ini, pembangunan pariwisata tidak hanya bicara tentang mendatangkan wisatawan, tetapi juga memastikan bahwa budaya lokal tidak tersisih oleh arus globalisasi destinasi.
Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi di tanahnya sendiri.
Efek Berganda yang Menjangkau Banyak Sektor
Penyelenggaraan event internasional seperti MotoGP telah membuktikan adanya multiplier effect yang besar bagi perekonomian NTB. Tingkat hunian hotel dan penginapan di seluruh Pulau Lombok pada masa event dapat mencapai 90 hingga 100 persen.
Angka itu menjadi indikator bahwa dampak Mandalika tidak berhenti di dalam kawasan KEK saja, tetapi menjalar ke seluruh rantai ekonomi daerah.
Hotel penuh, restoran ramai, jasa transportasi meningkat, penyedia tur kebanjiran permintaan, hingga pelaku ekonomi kreatif mendapatkan pasar baru.
Efek berantai inilah yang membuat pembangunan pariwisata strategis menjadi sangat penting bagi daerah seperti NTB.

Ketika satu event internasional digelar, maka banyak sektor ikut bergerak secara simultan. Dari sopir travel hingga pedagang kecil di sekitar kawasan wisata, semuanya berpotensi merasakan denyut ekonomi yang sama.
Melalui program Mandalika Urban & Tourism Infrastructure Project (MUTIP), ITDC juga membangun infrastruktur dasar berstandar internasional. Jalan kawasan, sistem drainase, fasilitas publik, hingga penataan ruang wisata menjadi bagian dari investasi jangka panjang yang manfaatnya dapat digunakan masyarakat luas.
Infrastruktur ini bukan hanya melayani wisatawan, tetapi juga memperbaiki kualitas layanan publik bagi warga sekitar.
Inilah yang membedakan pembangunan kawasan modern dengan pembangunan yang hanya bersifat kosmetik. Infrastruktur yang baik harus menjadi warisan sosial, bukan hanya fasilitas eksklusif bagi pengunjung.
Karena itu, ITDC juga disebut terus mengingatkan investor agar mengutamakan masyarakat Lombok dalam proses rekrutmen tenaga kerja.
“Dari hulu ke hilir terasa Lomboknya seperti kata Pak Gubernur NTB, Makmur Mendunia,” kata Gresita.
Frasa itu bukan sekadar slogan. Ia menjadi ukuran moral bahwa internasionalisasi Mandalika harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Media, Narasi, dan Masa Depan Investasi
Pembangunan sebesar Mandalika tidak hanya membutuhkan beton, aspal, dan modal investasi. Ia juga membutuhkan narasi publik yang sehat, profesional, dan membangun kepercayaan.
Di sinilah peran media menjadi sangat strategis.
Ketua JMSI NTB, H. Boy Mashudi, menegaskan bahwa organisasinya siap menjadi mitra strategis dalam mendukung pengembangan KEK Mandalika melalui pemberitaan yang profesional, berimbang, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Menurutnya, kemajuan daerah tidak cukup hanya dengan kerja teknokratis, tetapi juga memerlukan dukungan komunikasi publik yang kuat.
“JMSI NTB siap mengawal publikasi KEK Mandalika agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Kami percaya, kemajuan daerah membutuhkan dukungan narasi yang kuat, akurat, dan membangun optimisme,” ujarnya.
Pernyataan ini penting karena dalam era digital, persepsi publik sering kali menentukan arah investasi. Kawasan yang dipersepsikan aman, profesional, dan memiliki masa depan cerah akan lebih mudah menarik investor.
Sebaliknya, informasi yang simpang siur dapat merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfotik NTB, Safrudin SH MH, juga menekankan bahwa keberhasilan pengembangan Mandalika membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah, pengelola kawasan, dan media harus berjalan dalam satu irama agar informasi yang sampai ke publik tetap akurat dan konstruktif.
“Kemitraan yang terbangun antara ITDC, Pemerintah Provinsi NTB, dan JMSI NTB sangat penting untuk memastikan informasi yang tersampaikan kepada publik akurat, konstruktif, dan mampu mendukung iklim investasi serta pariwisata daerah,” katanya.
Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar Mandalika tidak hanya sukses sebagai proyek nasional, tetapi juga diterima sebagai kebanggaan masyarakat NTB sendiri.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kawasan ekonomi khusus bukan hanya pada jumlah investor yang masuk atau event internasional yang digelar, melainkan pada seberapa besar masyarakat merasa memiliki dan ikut tumbuh bersama pembangunan itu.
Mandalika sedang diuji oleh waktu. Ia harus membuktikan bahwa pariwisata kelas dunia tidak identik dengan keterasingan masyarakat lokal, melainkan justru menjadi jalan menuju pemerataan ekonomi, penguatan budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Jika itu berhasil, maka Mandalika bukan hanya destinasi. Ia menjadi model bagaimana pembangunan modern dapat tetap berakar pada kepentingan rakyat.
Dan di situlah janji sesungguhnya dari value creation yang berkali-kali disebut ITDC: ketika kemegahan global benar-benar menghadirkan manfaat yang terasa sampai ke dapur-dapur warga Lombok. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































