CERAKEN.ID — Jumat, 14 Agustus 2026, sekitar pukul 14.15 WITA, suasana hari terakhir Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 dan Pameran Uang RINJANI (Rupiah Berjaya Sampai Pelosok Negeri) di Gedung Serba Guna Bank Indonesia, Mataram, mendadak berubah menjadi semacam perburuan kecil.
Bukan mencari hadiah, bukan pula mengejar transaksi digital, melainkan mencari sebuah benda mungil yang menyimpan cerita besar: koin Rp2.000 tahun 1974 bergambar Macan Jawa.
Tantangan itu datang dari Kadek Budi Arsana, Koordinator Acara PQN 2026 dan Pameran Uang RINJANI. Di hadapan sekelompok pengunjung muda, termasuk ceraken.id, ia melempar sebuah “challenge” yang seketika mengubah pameran numismatik menjadi permainan berburu jejak sejarah.
“Di hari terakhir ini, saya memberi tantangan khusus. Carilah mata uang Rupiah yang digunakan saat Final Piala Dunia 1974. Cluenya koin Rp2.000,” tantang Kadek Budi.
Kalimat itu sederhana, tetapi petunjuknya membawa ingatan jauh melampaui sejarah Rupiah. Ada Piala Dunia 1974, ada pertandingan final antara Jerman Barat dan Belanda, ada seorang wasit asal Inggris bernama Jack Taylor, dan ada sekeping koin Indonesia yang ternyata pernah menjadi bagian dari salah satu pertandingan sepak bola paling bersejarah di dunia.
Koin Macan Jawa dan Jejak Piala Dunia
Koin Rp2.000 tahun 1974 bukanlah uang yang digunakan masyarakat untuk berbelanja sehari-hari. Koin tersebut merupakan Uang Rupiah Khusus (URK) Seri Cagar Alam yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bagian dari kepentingan koleksi atau numismatik.
Pada bagian depan koin terdapat ilustrasi Macan Jawa. Tubuh satwa itu menghadap ke kiri, sementara kepalanya menoleh ke belakang ke arah kanan. Aksen rerumputan mengelilingi gambar tersebut, sementara angka nominal Rp2.000 tercantum sebagai penanda nilai.
Pada sisi sebaliknya, terpampang relief Garuda Pancasila, tulisan BANK INDONESIA, serta tahun emisi 1974.
Namun, sejarah koin ini tidak berhenti pada desain dan penerbitannya. Ia justru memperoleh tempat istimewa dalam catatan sejarah Piala Dunia ketika digunakan Jack Taylor sebagai koin undian pada Final Piala Dunia 1974 yang mempertemukan Jerman Barat dengan Belanda.
Informasi yang dimuat Bank Indonesia menyebutkan, Taylor memilih koin tersebut karena tertarik dengan gambar pada kedua sisinya serta beratnya yang dianggap pas untuk digunakan dalam pengundian sebelum pertandingan.
Koin itu memiliki diameter 38,61 milimeter, berat 25,31 gram, serta kandungan perak 50 persen. Proses pembuatannya dilakukan di Royal Mint, Inggris, melalui kerja sama Bank Indonesia dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan World Wide Fund for Nature (WWF).
Bukan sekadar benda koleksi, penerbitan koin tersebut juga berkaitan dengan kampanye penyelamatan satwa langka di Indonesia.
Dari Macan Jawa ke Stadion Final
Ada kisah menarik lain yang membuat koin tersebut semakin lekat dengan Final Piala Dunia 1974.
Sesaat setelah pertandingan memasuki jeda, kapten Jerman Barat, Franz Beckenbauer, disebut penasaran terhadap koin yang digunakan Taylor. Ia menghampiri sang wasit dan menanyakan dari mana koin tersebut diperoleh.

Taylor tidak menjawab pertanyaan itu.
Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita panjang tentang koin Rp2.000 Macan Jawa. Menurut catatan yang dikutip dari Historia.id, Jack Taylor menyimpan koin yang digunakannya untuk pengundian pertandingan tersebut sebagai bagian dari kenang-kenangan sepanjang kariernya.
Koin itu sendiri memiliki nama resmi Conservation Coin Collection WWF. Keberadaannya juga tergolong terbatas. Bank Indonesia mencatat, koin Rp2.000 tahun 1974 tersebut hanya tersedia dalam jumlah tiga keping, sementara dana hasil penjualannya digunakan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa langka.
Dengan demikian, sekeping koin yang tampak sederhana di dalam etalase sebenarnya mempertemukan beberapa cerita sekaligus: sejarah Rupiah, konservasi satwa, kerja sama internasional, numismatik, hingga panggung sepak bola dunia.
Di sinilah menariknya sebuah museum atau pameran uang. Nilai sebuah benda tidak selalu berhenti pada angka nominal yang tercetak di atasnya. Kadang-kadang, nilai terbesar justru berada pada cerita yang mengikutinya.
Perburuan Berakhir di Etalase
Tantangan Kadek Budi sore itu pun membuat perhatian para pengunjung muda tertuju pada sejumlah etalase. Mata bergerak dari satu koleksi ke koleksi lainnya. Petunjuk “koin Rp2.000” menjadi pegangan untuk menyisir benda-benda yang dipamerkan.
Perburuan akhirnya berakhir.
Salah satu di antara kami menemukan koin yang dimaksud. Letaknya ternyata tidak terlalu tersembunyi: berada di etalase bagian depan, sebelah kanan pintu masuk Gedung Serba Guna Bank Indonesia.
Di balik kaca, koin itu tampak tenang. Tidak ada suara sorak stadion, tidak ada peluit wasit, tidak ada Franz Beckenbauer yang bertanya kepada Jack Taylor. Tetapi dari sekeping logam itulah cerita tentang Final Piala Dunia 1974 kembali terbuka.
Koin Macan Jawa tersebut mengingatkan bahwa sejarah kadang-kadang hadir dalam bentuk yang sangat kecil. Ia bisa berupa sekeping logam berdiameter 38,61 milimeter, tetapi menyimpan perjalanan panjang dari kebijakan moneter, konservasi alam, teknologi pencetakan, hingga sepak bola dunia.
Menariknya lagi, koin Rp2.000 tahun 1974 tidak sama dengan pecahan Rp2.000 yang dikenal masyarakat dalam transaksi sehari-hari. Bank Indonesia tidak pernah mengedarkan pecahan Rp2.000 dalam bentuk koin reguler; pecahan Rp2.000 untuk kebutuhan transaksi masyarakat hadir dalam bentuk uang kertas.
Sementara koin Macan Jawa adalah bagian dari sejarah uang khusus Indonesia, sebuah benda koleksi yang hari ini justru menjadi pintu masuk untuk membaca kembali sejarah bangsa dari sudut yang tak terduga.
Di pasar kolektor dan marketplace Indonesia, nilai koin tersebut kini juga dapat jauh melampaui nominal yang tercetak di permukaannya. Berdasarkan data per 17 Agustus 2026, harganya disebut berkisar dari sekitar Rp500 ribu hingga Rp3,2 juta per keping, bahkan dapat mencapai Rp8 juta, bergantung pada kondisi fisik dan sertifikasi grading.
Tetapi bagi para pengunjung PQN 2026 dan Pameran Uang RINJANI, sore itu, harga bukanlah hal utama.
Yang lebih penting adalah keberhasilan menemukan benda yang menjadi jawaban atas sebuah tantangan, dan sekaligus menemukan kembali sepotong sejarah Indonesia yang pernah berputar di tengah lapangan sepak bola dunia.
Selamat ya! (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































