Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 April 2026 - 21:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

CERAKEN.ID“Assalamu’alaikum, kakak… tabe, tidur maki?”

Pesan itu masuk ke nomor WhatsApp saya, Rabu, 8 April 2026, pukul 22.24. Pesan dari Astrini Syamsuddin, Founder Salapang Art Company, yang berada satu WA grup dengan saya di Komunitas Puisi (KoPi) Makassar.

Saya baru menjawabnya keesokan harinya, karena malam itu saya sudah terlelap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah saya membalas salamnya, Kamis, 9 April 2026, perempuan berhijab yang akrab disapa Rini itu mengabarkan bahwa dia baru saja merampungkan sebuah buku.

“Alhamdulillah, sudah ka nulis buku, Kak. Mau ka kasiki bukuku. Di mana bisa kubawakan ki?” Rini menyampaikan dengan antusias dalam logat Makassar.

“Titip mi di Kafe Baca, tolong kasi Pak Rusdy Embas, yang punya kafe. Nanti Jumat saya ambil di sana. Atau kalau kita mau kasi langsung, nanti hari Sabtu,” kata saya.

Kafe Baca yang saya maksud, berada di Jalan Adiyaksa Nomor 2.

Kafe yang berada di kawasan Kantor Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan itu, kerap jadi tempat saya bikin janji dengan seseorang. Sebab, lokasinya strategis, mudah dijangkau dari berbagai arah.

“Iye, Kak biar ketemu ki. Lama mi juga tidak ketemu. Ok, kakak, Sabtu aja yah. Insya Allah,” jawab Rini.

Kami kemudian bersepakat akan bertemu di Fort Rotterdam, Sabtu, 11 April 2026.

Kebetulan di sana ada kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya Makassar 2026, yang dihelat Dinas Kebudayaan Kota Makassar, 10-12 April 2026.

Biar sekalian saya bisa melihat gelaran acara itu, selepas kegiatan di Polrestabes Makassar, Jalan Jend. Ahmad Yani.

Menurut Rini, dia butuh saran dan masukan untuk buku perdananya tersebut.

“Bagi ilmunya yah kakak guru hehehe,” candanya.

Sabtu sore, sesuai janji kami, saya ke Fort Rotterdam. Saya sempat singgah melihat-lihat sepeda onthel dari komunitas sepeda tua. Lalu memotret replika badik ukuran besar.

Saya juga melihat murid-murid SD tengah latihan Tari Gandrang Bulo di dekat area kuliner. Juga sekilas memperhatikan pelajar SMP yang latihan menari di depan panggung utama.

Baca Juga :  Berpikir dari Masa Depan: Ketika Bisnis Diminta Menjadi Lebih dari Sekadar Untung

Setelah itu, saya bertemu Rini, yang datang dengan sekantong gorengan lengkap dengan air mineral dingin.

Dia menyerahkan bukunya, yang bersampul warna lembut. Di bawah judul buku itu tertulis “inspirasi cinta dan penemuan makna”.

Sebuah kutipan dari Buya Yahya tercetak di sana: “Aku tak lagi merindukan surga, sebab perasaan ini telah menjadi surga bagiku.”

Saya membaca beberapa lembar buku setebal lebih 150an halaman itu. Rini membahas cinta dari sudut pandang psikologi dan spiritualitas.

“Serius ta bikin buku,” puji saya.

Tak lama berselang, datang Adil Akbar, guru SMAN 10 Makassar, yang juga seorang cerpenis.

Adil Akbar, yang antologi cerpennya “Secangkir Kopi yang Berkisah” akan didiskusikan, membawakan saya fotokopian jurnal tentang “Jaringan Perdagangan dan Jaringan Islam”.

Setelah itu, bergabung Yul dan Uni, dari Komunitas Jalan Bareng Makassar. Obrolan pun mengalir seputar buku dan kepenulisan.

Saya mengomentari pengantar penulis dalam buku Rini. Dia berkisah pengalaman masa kecilnya kala mengikuti pesantren kilat di tempat pengajiannya.

Kala itu, Rini dan teman-temannya diberi games, menulis 10 nama yang dianggap penting pada lembaran kertas. Dia pun menulis nama ibu-bapaknya, saudara-saudara, dan teman-temannya.

Setelah itu, nama-nama yang ada dibuang satu demi satu. Di pengujung games, ustaznya memungut kertas-kertas yang dibuang, dan mencermatinya.

Ustaznya bertanya, “Mengapa tak ada yang menulis Allah sebagai nama yang penting dalam kehidupan kita?”

Seketika semuanya tersentak. Diam.

Pengalaman masa kecil itulah yang rupanya jadi pemantik idenya. Rini terus merenung, bertanya-tanya.

“Seorang anak polos yang merasa bersalah karena tidak bisa mencintai Tuhannya.” Begitu yang ada dalam ingatannya.

Dalam perjalanan usia, Rini diberi hidayah. Buku yang ditulisnya ini semacam hasil kontemplasi, pemadatan atas temuannya akan cinta Tuhan.

 “Tak ada rindu yang lebih besar selain mencintai Allah. Tak ada cinta yang lebih besar selain mencintai Allah, begitupun kekasih-Nya.”

Buku ibu dua anak kelahiran Ujung Pandang, 25 Juni ini, layak dimiliki. Buku ini lebih dari sekadar bacaan. Boleh disebut, bukunya merupakan buku religi tetapi tidak bermuatan doktrin agama.

Baca Juga :  Mengapa Kita Budak Algoritma?

Rini menulis buku yang kental dengan religiusitas, yang bisa disebut sebagai buku self-help religius karena dia fokus pada praktik spiritual demi perbaikan kualitas hidup. Ada doa, zikir, healing, dan manajemen hati dengan pendekatan agama, khususnya Islam.

Rini bernama lengkap Astrini Syamsuddin, S.Pd.I, CHt, C.PS, C.Mt, C.HTc, C.IB, CPSM. Ia merupakan alumni Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di Universitas Islam Makassar (UIM).

Pendongeng Kota Makassar, yang pernah mengajar sebagai dosen dalam Program Praktisi Mengajar Kampus Merdeka dan Wirausaha Merdeka ini, tertarik pada isu-isu pendidikan, sosial, dan perdamaian.

Ia pernah terlibat dalam berbagai gerakan kreatif, seperti Guardians of Peace V – KITA Bhinneka Tunggal Ika, dan Sahabat Cahaya Inspirasi.

Sebagai pekerja seni, Rini dikenal mumpuni di bidang koreografi tari, pelatih pentas tari, yang telah menjajal banyak panggung pertunjukan.

Ia juga sudah menorehkan sejumlah prestasi di berbagai ajang seni, mulai seni tari, film, puisi, hingga teater.

Rini berkolaborasi dengan BPBD Kota Makassar, dalam program inovasi SALAMA dan HARMONI. Yakni, gerakan edukasi untuk memberikan Hypno-Shield kepada murid-murid SD dan SMP, serta Hypnoterapy untuk warga Kota Daeng–julukan Kota Makassar.

Rini adalah seorang inisiator dan organisator. Ia mendirikan Sekolah Motivator sebagai wadah pendidikan informal bagi anak-anak putus sekolah dan remaja yang butuh bimbingan di lingkungan sekitar BTN Kodam VII/Wirabuana.

Ia merupakan Founder Kertas Seni MAN 3, dan Ketua UKM Seni dan Budaya Sembilan UIM, periode 2012-2013.

“Ilmu paling berharga ialah yang saya peroleh dari kampus kehidupan,” tulis Rini dalam bionarasi bukunya.

Salah satu perjalanan penting yang membentuk dirinya, adalah belajar di Kahfi Halide Motivator School Makassar. Tempat itu, baginya, merupakan ruang ia bertumbuh, menempa diri dalam dunia motivasi, kepemimpinan, dan pengembangan potensi diri. (*)

 

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak
Mengapa Kita Budak Algoritma?
Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa
Moment of Truth di Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone
Paradoks Hamlet dan Dilema Strategi: Ketika “Kejam” Menjadi Jalan Menuju Kebaikan
Berpikir dari Masa Depan: Ketika Bisnis Diminta Menjadi Lebih dari Sekadar Untung
Membaca Jejak Keterbukaan dr. Jack melalui Buku tentang RSUD NTB
Buku “Puasa sebagai Terapi Otak”:  Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 21:15 WITA

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Minggu, 5 April 2026 - 14:47 WITA

Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak

Sabtu, 4 April 2026 - 17:20 WITA

Mengapa Kita Budak Algoritma?

Senin, 30 Maret 2026 - 06:15 WITA

Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa

Senin, 23 Maret 2026 - 14:23 WITA

Moment of Truth di Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone

Berita Terbaru

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 Apr 2026 - 21:15 WITA