Buku “Puasa sebagai Terapi Otak”:  Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

- Penulis

Senin, 9 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dr dr Jumraini, "Puasa sebagai Terapi Otak" (Foto: rt/ceraken.id)

Dr dr Jumraini, "Puasa sebagai Terapi Otak" (Foto: rt/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Puasa bukan hanya berdampak pada sistem metabolik, tetapi juga berpengaruh positif terhadap proses neuroplastisitas, stres oksidatif, serta regulasi neurotropik, yang kesemuanya berperan dalam mendukung pemulihan fungsi saraf.

Tujuan utama puasa dalam konteks neurorestorasi adalah mengaktifkan mekanisme biologis dan psikologis untuk membersihkan dan meregenerasi sel saraf, mengurangi peradangan dan stres metabolik, meningkatkan fungsi kognitif dan emosional, serta menyeimbangkan sistem imun dan hormonal.

Hal ini terungkap dalam bedah buku Puasa sebagai Terapi Otak: Perspektif Neurorestorasi Modern dalam Penyakit Neurologis, karya Dr dr Jumraini, Sp.S, Subsp, NRE(K), dan Dr H Andi Muhammad Akmal, S.Ag, M.H.I (Nas Media, 2026).

“Buku ini didasarkan pada pengalaman saya selama lebih 20 tahun berinteraksi dengan penderita gangguan sistem syaraf, khususnya pada kasus stroke dan kondisi neurodegeneratif,” terang Dr dr Jumraini, yang juga merupakan Ketua Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas.

Acara Bedah Buku dan Dialog Ramadhan ini bertema “Harmoni Ramadan: Literasi Ramadan & Buka Puasa Bersama”, bertempat di Multifunction Room Citraland Tallasa City, Makassar, Ahad, 8 Maret 2026.

Kegiatan ini menampilkan narasumber Dr dr Jumraini Tammasse, Sp.S, Subsp.NRE(K) (Penulis Buku), Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag., M.H.I. (Penulis Buku), Prof dr Muhammad Akbar, Ph.D, Sp.N(K), Subsp.NIOO(K), DFM (Pembahas Perspektif Ilmiah), dan Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Sos.I., M.A.P. (Pembahas Perspektif Nilai dan Etika), dengan moderator Deny Azis.

Baca Juga :  Datoq Nyatoq dan Hutang Kreatif yang Terlunasi
Foto bersama usai bedah buku dan buka puasa bersama yang diadakan klinik Inggit Medical Centre (Foto: rt/ceraken.id)

Peserta diskusi terdiri dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas, staf dan karyawan Inggit Medical Centre, dan tamu undangan, antara lain Prof Dr Munira Hasjim, Kepala Perpustakaan Unhas, dan Rusdin Tompo, penulis dan penggiat literasi yang juga Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan.

Buku Puasa sebagai Terapi Otak, kata Dr dr Jumraini, merupakan hasil refleksi keilmuan dan praktik klinisnya sebagai Dokter Spesialis Neurologi.

Pendiri klinik Inggit Medical Centre, BTP, Makassar, itu menambahkan, selama menjalani profesi di bidang neurologi, dia menyadari bahwa proses pemulihan atau restorasi neurologis, tidak semata-mata ditentukan oleh pendekatan farmakologis dan rehabilitatif saja.

Namun sangat mungkin diperkuat melalui pendekatan non-farmakologis berbasis nilai-nilai spiritual dan biologis yang sinergis.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah puasa, berdasarkan Hadis “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat” (HR Ath-Thabrani, dalam al-Mu’jam al-Awsath, [Kairo, Darul Haramain, 1415], jilid VIII, hlm 147).

“Hadis ini bukan hanya menjadi motivasi religius tetapi hipotesis ilmiah yang perlu ditelusuri. Puasa merupakan ibadah yang sarat nilai spiritual, tetapi juga terbukti memiliki kekuatan ilmiah dalam memulihkan berbagai sistem tubuh, termasuk otak dan saraf,” imbuh Dr dr Jumaraini.

Dr H Andi Muhammad Akmal, yang berkolaborasi dengan Dr Jumraini dalam penulisan buku Puasa sebagai Terapi Otak, mengatakan sebagai seorang yang berlatar belakang kajian syariat, buku ini sebagai bukti nyata keharmonisan antara wahyu dan sains.

Baca Juga :  Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Rusdin Tompo (kanan) dari SATUPENA Sulawesi Selatan (Foto: ist.ceraken.id)

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah latihan ketaatan yang dampaknya terbukti melampaui dimensi spiritual,” jelas Dr Andi Muhammad Akmal.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar itu menambahkan, sisi fikih (hukum) puasa telah mengatur batas waktu, rukun, dan syarat. Namun sisi hikmah (kebijaksanaan) puasa, baru terungkap secara mendalam melalui kajian neurorestorasi.

Apresiasi diberikan oleh Prof Dr Muhammad Akbar, Guru Besar Bidang Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas, kepada para penulis dan editor buku Puasa sebagai Terapi Otak.

Katanya, jarang ada kolaborasi lintas ilmu, di mana penulisnya berlatar belakang neurorestorasi, dan satunya lagi punya kajian fikih. Sementara editornya, Dr Tammasse, M.Hum, berlatar belakang sastra.

“Peluncuran pada bulan puasa ini sangat tepat karena sejumlah materi dalam buku membahas kaitan puasa dengan ilmu kedokteran. Berpuasalah agar otak kita sehat,” ujar Prof Dr Muhammad Akbar.

Pujian juga datang dari Prof Dr Sukardi Weda, yang menilai buku Puasa sebagai Terapi Otak, memberikan panduan praktis menjalankan puasa untuk restorasi otak.

“Secara neurologis, ketika seseorang berpuasa, ia menahan diri dari kepuasan instan, melatih fokus, dan memperkuat kemampuan pengendalian impuls yang bertalian erat dengan kinerja otak,” papar Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra UNM. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan rt

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA