Datoq Nyatoq dan Hutang Kreatif yang Terlunasi

- Penulis

Sabtu, 1 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tampil sebagai novel yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas (foto: aks / ceraken.id)

Tampil sebagai novel yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada kalanya sebuah novel lahir bukan semata-mata karena kehendak pengarang, melainkan karena sebuah panggilan batin yang terus mengetuk hingga tak lagi bisa diabaikan.

Perasaan itulah yang mengemuka ketika Prof. Nuriadi menutup perjalanan kreatifnya menulis novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? yang diterbitkan PT. Mera Books pada Juli 2026. Novel setebal vi + 228 halaman berukuran 14 x 20 sentimeter itu tidak hanya menjadi karya sastra terbarunya, tetapi juga penanda berakhirnya sebuah pergulatan yang lama dipendam.

“Lega, rasanya seperti melunasi hutang,” tutur Prof. Nuriadi saat ditemui pada Sabtu malam, 25 Juli 2026.

Kelegaan itu tampak jelas di wajahnya. Padahal, beberapa jam sebelumnya ia sempat mengirim pesan singkat yang menyiratkan kondisi fisiknya yang kurang baik. “Atau besok saja. Saya agak meriang karena sakit gigi kambuh,” tulisnya.

Namun malam itu, rasa sakit seolah tersisih oleh kegembiraan setelah sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai muara.

Tujuh Hari yang Mengubah Segalanya

Yang mengejutkan justru bukan lamanya gagasan itu bersemayam, melainkan singkatnya proses penulisan. Di tengah ritme kreatif yang sempat naik-turun, Nuriadi mengaku novel tersebut rampung hanya dalam waktu tujuh hari.

“Dalam jangka waktu tujuh hari, Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? selesai,” ungkapnya.

Ia mengisahkan bahwa pada masa itu seolah tidak ada lagi ruang bagi keraguan.

“Ya, saat itu, saya terus menuliskannya, tanpa ada keraguan lagi,” katanya.

Pernyataan tersebut menghadirkan kesan bahwa proses kreatif bukan lagi semata kerja intelektual, melainkan pengalaman spiritual yang mengalir begitu saja. Seakan-akan cerita telah tersedia, sementara dirinya hanya bertugas mencatatnya.

Judul novel itu sendiri menghadirkan rasa penasaran. Pada catatan kaki halaman pertama dijelaskan bahwa “datoq” merupakan panggilan masyarakat Sasak kepada pemuka agama atau tuan guru yang memiliki ilmu tinggi, karamah, kewalian, sangat dituakan, serta berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Baca Juga :  Menghormati Jejak Kreatif Sang Pengarang: Apresiasi atas Kehadiran Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?*)

Penjelasan ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami perjalanan tokoh Nasar, sekaligus arah spiritual yang hendak dibangun pengarang.

Jejak Kehidupan yang Menjadi Narasi

Sepanjang perbincangan, satu kalimat terus berulang keluar dari mulut Nuriadi.

“Mengapa harus saya yang menuliskannya.”

Prof Nuriadi (kiri), Kabid Pembinaan Kebudayaan Disbud NTB, Lalu Abdurrahim (tengah), dan Budayawan H.L Agus Fathurrahman (kanan) dalam Soft Launching dan Bedah Buku Novel “Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?”, Jumat, 31 Juli 2026 (foto: aks / ceraken.id)

Kalimat tersebut bukanlah bentuk keraguan terhadap kemampuan menulis, melainkan kegelisahan menerima pengalaman-pengalaman batin yang kemudian menjelma menjadi cerita. Ia menelusuri pertanyaan itu bersama orang terdekat, terutama sang istri yang menyaksikan kegelisahan tersebut sejak awal.

Dalam perjalanan itu, ia mengaku kerap merasakan kehadiran sosok berjubah putih yang hadir seperti siluet ketika kerinduan akan keteduhan muncul. Pada saat-saat demikian, zikir “ya hayyu ya qoyyum” menjadi penguat yang terus menenangkan batinnya.

Ingatan kemudian membawanya kembali ke masa kecil, kepada sosok Inaq atau ibunya. Pada ilustrasi sampul maupun isi novel, bayangan seorang ibu dengan mata yang berlinang air mata menjadi simbol yang kuat tentang kasih sayang yang tak pernah putus.

“Memang, Inaq saya pernah bercerita bahwa saat saya lahir dengan kepala terlilit daging seperti surban,” jelasnya.

Ia melanjutkan kisah itu dengan satu informasi yang selama ini menjadi bagian dari sejarah keluarganya.

“Dan perlu juga diketahui selama saya dalam kandungan, ayah saya pergi menggembala kerbau ke tempat yang jauh sekali.”

Fragmen-fragmen personal tersebut tidak hadir sebagai memoar, melainkan berubah menjadi bahan baku sastra yang memperkaya dimensi emosional novel.

Baca Juga :  Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Spiritualitas, Sejarah, dan Kemanusiaan

Pintu lain untuk memahami novel ini ialah kehadiran guru spiritualnya yang bernama Miq Sun. Sosok tersebut digambarkan menjadi penuntun dalam menjaga istiqamah setiap kali penulis menerima amanah kehidupan.

Kehadiran guru spiritual itu menghadirkan ketenangan sekaligus keyakinan ketika menghadapi berbagai persoalan.

Dimensi spiritual tersebut kemudian berpadu dengan konflik-konflik kemanusiaan yang dihadapi tokoh utama, termasuk guncangan dalam rumah tangga Nasar. Bagian ini menjadi salah satu kejutan penting dalam alur cerita.

Dalam lanskap budaya patriarki yang masih kuat, persoalan tersebut disampaikan secara halus, tanpa kehilangan daya kritiknya.

Secara editorial memang masih dijumpai ketidakkonsistenan penamaan tokoh pada beberapa halaman, yakni halaman 45, 52, dan 110. Namun kekeliruan teknis tersebut tidak mengurangi kekuatan narasi yang dibangun.

Pada akhirnya, Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? tampil sebagai novel yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas. Pilihan penulis mengutip Surah At-Thur ayat 21 pada bagian pengantar menjadi penegas arah keseluruhan cerita: tentang iman yang diwariskan, hubungan antargenerasi, serta ikatan batin yang melampaui ruang dan waktu.

Mungkin karena itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Nuriadi setelah novel ini rampung terdengar begitu sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam.

“Lega, rasanya seperti melunasi hutang.”

Boleh jadi, hutang yang dimaksud bukan kepada pembaca ataupun dunia sastra, melainkan kepada panggilan batin yang selama ini menunggu untuk ditunaikan melalui sebuah karya. (aks)

*)materi ini disampaikan dalam Soft Launching dan Bedah Buku Novel “Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?”, Jumat, 31 Juli 2026.

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA