Menuliskan “Delta Lakkang” sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan

- Penulis

Jumat, 3 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sofyan Basri.  Pengetahuan tentang ruang tidak hanya tersimpan dalam arsip tertulis, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari (Foto: ist/ceraken.id)

Sofyan Basri. Pengetahuan tentang ruang tidak hanya tersimpan dalam arsip tertulis, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Menulis sejarah kampung bisa dilakukan secara partisipatif dan kontekstual oleh warga kampung itu sendiri. Semangat ini yang diusung dalam kegiatan Workshop Penulisan Sejarah Kampung “Gaukang ri Lakkang”, yang akan diadakan di Kelurahan Lakkang, Sabtu-Minggu, 4-5 April 2026.

“Kegiatan Gaukang ri Lakkang ini bertujuan untuk menggali, mendokumentasikan, serta melestarikan sejarah dan nilai-nilai budaya lokal masyarakat,” terang Sofyan Basri, Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang, Jumat (3/4).

Workshop Penulisan Sejarah Kampung “Gaukang Ri Lakkang 2026”, bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”.

Ada 3 pemateri yang akan dihadirkan, yakni Ferdhiyadi (peneliti, pengajar sejarah, dan pegiat literasi), Subarman Salim (pegiat sejarah dan budaya), dan Rusdin Tompo (penulis, pegiat literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan.

Sofyan Basri, selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan, selama ini, sejarah kampung lebih banyak ditulis dari luar oleh peneliti, akademisi, maupun lembaga—dengan cara pandang yang seringkali memosisikan kampung sebagai objek.

Baca Juga :  Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Dalam proses tersebut, kata dia, pengalaman hidup warga, ingatan kolektif, serta pengetahuan yang tumbuh dari keseharian seringkali terpinggirkan. Bahkan tidak dianggap sebagai sumber pengetahuan yang sah.

“Akibatnya, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi juga perlahan kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri,” papar dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.

Ditambahkan, dalam banyak konteks, situasi ini berjalan beriringan dengan praktik perampasan ruang hidup di berbagai kampung, baik melalui pembangunan yang tidak berpihak, ekspansi industri, maupun kebijakan yang mengabaikan keberadaan dan pengetahuan warga.

Kampung kemudian tidak hanya kehilangan ruang fisiknya, tetapi juga ruang pengetahuannya.

“Cerita, ingatan, dan relasi warga dengan tanah, sungai, dan lingkungannya semakin terputus,” ujar penulis buku Sekolah Bukan Pabrik itu prihatin.

Delta Lakkang, yang berada di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, tambahnya, merupakan ruang hidup yang menyimpan relasi yang kuat antara manusia, sungai, sawah, tambak, dan lingkungan sekitarnya.

Menurut Sofyan Basri, pengetahuan tentang ruang ini tidak hanya tersimpan dalam arsip tertulis, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari, dalam ingatan orang tua, dalam cerita yang dituturkan, dan dalam pengalaman yang dijalani oleh warga.

Baca Juga :  Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Workshop Penulisan Sejarah Kampung yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana ini, dirancang sebagai ruang belajar bersama antara warga dan peserta dari luar untuk menulis kembali kampung dari pengalaman, ingatan, dan keterlibatan langsung.

Proses ini tidak hanya bertujuan menghasilkan tulisan, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam kehidupan warga.

Kegiatan menggunakan metode diskusi partisipatif, berbagi pengalaman, latihan menulis, dan observasi kampung dengan pendekatan pembelajaran bersama.

“Dengan demikian, menulis menjadi bukan sekadar aktivitas dokumentasi, tetapi bagian dari upaya merawat kampung, mempertahankan ruang hidup, membangun kesadaran kolektif, dan menguatkan identitas Delta Lakkang sebagai ruang yang memiliki sejarah dan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri,” pungkas Sofyan Basri. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan erte

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA