Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

- Penulis

Jumat, 10 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Peta delta Lakkang. Warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri (Foto: ist/ceraken.id)

Peta delta Lakkang. Warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri (Foto: ist/ceraken.id)

Oleh: Rusdin Tompo – Pegiat Literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan

CERAKEN.ID — Lakkang bukan sekadar delta atau pulau yang dikelilingi aliran Sungai Tallo dan Sungai Pampang.

Kelurahan dengan luas daratan sekira 1,65-3 kilometer persegi yang secara administratif masuk Kecamatan Tallo ini, tentu punya banyak cerita, kisah, dan sejarah.

Bahkan setiap warganya pasti memiliki ingatan dan pengalaman terkait kampungnya tersebut.

Sayangnya, tulisan-tulisan tentang dan seputar Lakkang, lebih sering kita baca dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, atau penulis, yang kesemuanya orang dari luar, bukan warga Kampung Lakkang sendiri.

Menegaskan Identitas

Sejatinya, sejarah terserak di sekitar kita, ada dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh dan diri kita pun terhubung dengan sejarah itu.

Namun, mengapa selalu para ahli yang kita rujuk, buku-buku asing yang kita lahap, pandangan pakar yang kita dengar?

“Cerita orang tua, perubahan kampung dari waktu ke waktu, mata pencaharian dan kearifan lokal, bahkan peristiwa yang dialami dan dirasakan adalah sejarah itu sendiri,” terang Ferdhiyadi, di hadapan peserta Gaukang ri Lakkang, Sabtu, 4 April 2026.

Penulis memberi materi untuk memantik semangat menulis warga Kampung Lakkang (Foto: ist/ceraken.id)

Peneliti dan pengajar sejarah, yang juga merupakan pegiat literasi itu, lantas memberikan pendidikan kritis, dengan menyorot relasi kuasa dalam pengetahuan.

Lelaki kelahiran Soppeng, 6 September 1991, yang pernah bergabung dengan Jurnal Celebes itu, lalu menggambarkan polanya secara sederhana.

“Peneliti datang, ajukan pertanyaan, ambil cerita, kemudian klaim temuan. Siklus ini terus berputar tanpa warga mendapat manfaat yang adil dan setara,”paparnya, yang terdengar seperti menggugat.

Dijelaskan, pengalaman, ingatan, pengetahuan, dan cerita warga lalu diolah jadi data, selanjutnya diekstrak jadi temuan.

Perempuan, warga biasa, seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil, serta kelompok rentan lainnya, termasuk komunitas adat, pada gilirannya terpinggirkan.

Pendekatan dalam melihat sejarah pun terlalu formal, katanya. Seolah “no document, no history”.

Padahal, kata dosen UNM itu, pengetahuan hidup dan berkembang dalam masyarakat, bisa berupa percakapan, ritual, lagu, cara merawat tanah, dan lain sebagainya– kesemuanya merupakan sumber sejarah yang valid.

Baca Juga :  Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif

Karena itu, tegasnya, warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri, sebagai ruang untuk bersuara di mana warga adalah aktornya, bukan cuma objek yang ditulis.

Menulis sejarah kampung sendiri merupakan wujud menjaga kekayaan budaya, memperkuat identitas, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi mendatang.

Sofyan Basri (dua dari kiri), penanggung jawab program Workshop Penulisan Sejarah Kampung, bersama para narasumber (Foto: ist/ceraken.id)
Melawan dengan Bahasa

Kegiatan Gaukang ri Lakkang 2026 bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”, sesungguhnya bukan soal keterampilan teknis menulis semata.

Sofyan Basri selaku penanggung jawab program mengungkapkan, ketika pengalaman hidup warga dan ingatan kolektif mereka terpinggirkan, maka akibatnya bisa lebih fatal. Yakni, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi secara perlahan juga kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri.

Workshop Penulisan Sejarah Kampung Lakkang ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesianya.

Dana Abadi Kebudayaan bertujuan mendukung pemajuan kebudayaan nasional yang berkelanjutan melalui pendanaan bagi individu, komunitas, dan lembaga budaya.

Subarman Salim, peneliti sejarah dan pegiat budaya, menawarkan sejumlah topik sebagai bahan diskusi, yang bisa pula menjadi materi tulisan.

Mulai dari bahasa, makanan sebagai sumber penghidupan, sistem kekerabatan, pengetahuan kelompok atau komunitas, seni, artefak, situs, ritual dan transformasi sosial, relasi-korelasi antara manusia dan ekosistem, juga ruang geografi, historis, dan sosiologis.

Subarman Salim, yang pernah tiga kali memperoleh hibah penulisan historiografi dari Kemendikbudristek RI, mengajak peserta agar lebih berani mengekspresikan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan bahasa ibu.

Sebab, menurutnya, bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi. Baginya, bahasa merupakan alat identifikasi, penanda “status”, “orientasi”, dan “kepentingan”.

“Bahasa ibu, mencakup bahasa lisan yang pertama dikenal dan dikuasai, adalah sistem pertahanan-perlawanan, terhadap bahasa yang dominan,” terangnya.

Dikemukakan, bahasa atau sistem bahasa, termasuk struktur logika bahasa, merupakan bagian dari identitas sebuah komunitas.

Baca Juga :  Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah
Peserta dan narasumber kegiatan Gaukang ri Lakkang (Foto: ist/ceraken.id)

Karena itu, dalam pandanganya, penaklukan (kolonialisme) selalu disertai dengan “penaklukan” bahasa pula.

Lakkang Sebagai Laboratorium Sejarah

Sebagai pemateri ketiga, saya pun mengingatkan peserta sebagai warga Lakkang untuk mengambil peran dan tanggung jawab. Salah satunya bisa melalui aktivitas menulis, untuk kegiatan edukasi, literasi, juga advokasi.

Ini bagian dari literasi budaya dan kewargaan. Setiap orang, sebagai warga negara, berhak berpartisipasi dan bersuara melalui medium tulisan.

Saya menekankan pentingnya observasi. Ketika menulis kampung sendiri dalam bentuk reportase ataupun esai, observasi tetap menjadi hal yang penting.

Saya meminta peserta menggunakan semua indra, mendengarkan cerita dan kisah-kisah (unik, ikonik, spesifik, dan monumental), juga menandai tempat-tempat yang dianggap bersejarah, atau keramat.

“Coba ingat-ingat lagi cerita nenek, mitos, atau pappasang yang pernah disampaikan. Temui dan ajak ngobrol tokoh-tokoh kunci, antara lain pelaku sejarah, saksi mata, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Bisa jadi, pengalaman masa kanak-kanak banyak menyimpan materi tulisan yang menarik dibagikan,” kata saya.

Di Lakkang, berdasarkan pengalaman saya memasuki kampung ini pertama kali pada bulan Maret 2011, ada banyak materi yang bisa ditulis.

Sungai, pohon nipah, pohon bambu, kuliner pallu unti-unti, rupabumi/toponimi sejarah penamaan Lakkang, kearifan lokal tentang bonang dan konda, bunker peninggalan tentara Jepang, dermaga, moda transportasi jolloro dan pincara, semuanya merupakan ide tulisan yang menarik.

Peserta yang dominan merupakan Gen Z, memberi informasi bahwa ada tempat di Lakkang yang disebut Lakkang Caddi, lokasinya dekat Pampang. Lokasi ini bagai hidden gem yang menantang untuk dijelajahi, juga tentu saja untuk ditulis oleh warga sendiri.

Perubahan-perubahan yang terjadi di pulau yang berada di belakang Kampus Unhas ini, merupakan laboratorium sejarah yang perlu diberi catatan kritis-reflektif, sekaligus tawaran solusi dari sudut pandang warga, guna memperkuat entitas dan identitas mereka sebagai orang Lakkang. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA