Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

Jumat, 10 April 2026 - 21:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peta delta Lakkang. Warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri (Foto: ist/ceraken.id)

Peta delta Lakkang. Warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri (Foto: ist/ceraken.id)

Oleh: Rusdin Tompo – Pegiat Literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan

CERAKEN.ID — Lakkang bukan sekadar delta atau pulau yang dikelilingi aliran Sungai Tallo dan Sungai Pampang.

Kelurahan dengan luas daratan sekira 1,65-3 kilometer persegi yang secara administratif masuk Kecamatan Tallo ini, tentu punya banyak cerita, kisah, dan sejarah.

Bahkan setiap warganya pasti memiliki ingatan dan pengalaman terkait kampungnya tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayangnya, tulisan-tulisan tentang dan seputar Lakkang, lebih sering kita baca dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, atau penulis, yang kesemuanya orang dari luar, bukan warga Kampung Lakkang sendiri.

Menegaskan Identitas

Sejatinya, sejarah terserak di sekitar kita, ada dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh dan diri kita pun terhubung dengan sejarah itu.

Namun, mengapa selalu para ahli yang kita rujuk, buku-buku asing yang kita lahap, pandangan pakar yang kita dengar?

“Cerita orang tua, perubahan kampung dari waktu ke waktu, mata pencaharian dan kearifan lokal, bahkan peristiwa yang dialami dan dirasakan adalah sejarah itu sendiri,” terang Ferdhiyadi, di hadapan peserta Gaukang ri Lakkang, Sabtu, 4 April 2026.

Penulis memberi materi untuk memantik semangat menulis warga Kampung Lakkang (Foto: ist/ceraken.id)

Peneliti dan pengajar sejarah, yang juga merupakan pegiat literasi itu, lantas memberikan pendidikan kritis, dengan menyorot relasi kuasa dalam pengetahuan.

Lelaki kelahiran Soppeng, 6 September 1991, yang pernah bergabung dengan Jurnal Celebes itu, lalu menggambarkan polanya secara sederhana.

“Peneliti datang, ajukan pertanyaan, ambil cerita, kemudian klaim temuan. Siklus ini terus berputar tanpa warga mendapat manfaat yang adil dan setara,”paparnya, yang terdengar seperti menggugat.

Dijelaskan, pengalaman, ingatan, pengetahuan, dan cerita warga lalu diolah jadi data, selanjutnya diekstrak jadi temuan.

Perempuan, warga biasa, seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil, serta kelompok rentan lainnya, termasuk komunitas adat, pada gilirannya terpinggirkan.

Pendekatan dalam melihat sejarah pun terlalu formal, katanya. Seolah “no document, no history”.

Padahal, kata dosen UNM itu, pengetahuan hidup dan berkembang dalam masyarakat, bisa berupa percakapan, ritual, lagu, cara merawat tanah, dan lain sebagainya– kesemuanya merupakan sumber sejarah yang valid.

Baca Juga :  Menuliskan "Delta Lakkang" sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan

Karena itu, tegasnya, warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri, sebagai ruang untuk bersuara di mana warga adalah aktornya, bukan cuma objek yang ditulis.

Menulis sejarah kampung sendiri merupakan wujud menjaga kekayaan budaya, memperkuat identitas, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi mendatang.

Sofyan Basri (dua dari kiri), penanggung jawab program Workshop Penulisan Sejarah Kampung, bersama para narasumber (Foto: ist/ceraken.id)
Melawan dengan Bahasa

Kegiatan Gaukang ri Lakkang 2026 bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”, sesungguhnya bukan soal keterampilan teknis menulis semata.

Sofyan Basri selaku penanggung jawab program mengungkapkan, ketika pengalaman hidup warga dan ingatan kolektif mereka terpinggirkan, maka akibatnya bisa lebih fatal. Yakni, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi secara perlahan juga kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri.

Workshop Penulisan Sejarah Kampung Lakkang ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesianya.

Dana Abadi Kebudayaan bertujuan mendukung pemajuan kebudayaan nasional yang berkelanjutan melalui pendanaan bagi individu, komunitas, dan lembaga budaya.

Subarman Salim, peneliti sejarah dan pegiat budaya, menawarkan sejumlah topik sebagai bahan diskusi, yang bisa pula menjadi materi tulisan.

Mulai dari bahasa, makanan sebagai sumber penghidupan, sistem kekerabatan, pengetahuan kelompok atau komunitas, seni, artefak, situs, ritual dan transformasi sosial, relasi-korelasi antara manusia dan ekosistem, juga ruang geografi, historis, dan sosiologis.

Subarman Salim, yang pernah tiga kali memperoleh hibah penulisan historiografi dari Kemendikbudristek RI, mengajak peserta agar lebih berani mengekspresikan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan bahasa ibu.

Sebab, menurutnya, bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi. Baginya, bahasa merupakan alat identifikasi, penanda “status”, “orientasi”, dan “kepentingan”.

“Bahasa ibu, mencakup bahasa lisan yang pertama dikenal dan dikuasai, adalah sistem pertahanan-perlawanan, terhadap bahasa yang dominan,” terangnya.

Dikemukakan, bahasa atau sistem bahasa, termasuk struktur logika bahasa, merupakan bagian dari identitas sebuah komunitas.

Baca Juga :  Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas
Peserta dan narasumber kegiatan Gaukang ri Lakkang (Foto: ist/ceraken.id)

Karena itu, dalam pandanganya, penaklukan (kolonialisme) selalu disertai dengan “penaklukan” bahasa pula.

Lakkang Sebagai Laboratorium Sejarah

Sebagai pemateri ketiga, saya pun mengingatkan peserta sebagai warga Lakkang untuk mengambil peran dan tanggung jawab. Salah satunya bisa melalui aktivitas menulis, untuk kegiatan edukasi, literasi, juga advokasi.

Ini bagian dari literasi budaya dan kewargaan. Setiap orang, sebagai warga negara, berhak berpartisipasi dan bersuara melalui medium tulisan.

Saya menekankan pentingnya observasi. Ketika menulis kampung sendiri dalam bentuk reportase ataupun esai, observasi tetap menjadi hal yang penting.

Saya meminta peserta menggunakan semua indra, mendengarkan cerita dan kisah-kisah (unik, ikonik, spesifik, dan monumental), juga menandai tempat-tempat yang dianggap bersejarah, atau keramat.

“Coba ingat-ingat lagi cerita nenek, mitos, atau pappasang yang pernah disampaikan. Temui dan ajak ngobrol tokoh-tokoh kunci, antara lain pelaku sejarah, saksi mata, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Bisa jadi, pengalaman masa kanak-kanak banyak menyimpan materi tulisan yang menarik dibagikan,” kata saya.

Di Lakkang, berdasarkan pengalaman saya memasuki kampung ini pertama kali pada bulan Maret 2011, ada banyak materi yang bisa ditulis.

Sungai, pohon nipah, pohon bambu, kuliner pallu unti-unti, rupabumi/toponimi sejarah penamaan Lakkang, kearifan lokal tentang bonang dan konda, bunker peninggalan tentara Jepang, dermaga, moda transportasi jolloro dan pincara, semuanya merupakan ide tulisan yang menarik.

Peserta yang dominan merupakan Gen Z, memberi informasi bahwa ada tempat di Lakkang yang disebut Lakkang Caddi, lokasinya dekat Pampang. Lokasi ini bagai hidden gem yang menantang untuk dijelajahi, juga tentu saja untuk ditulis oleh warga sendiri.

Perubahan-perubahan yang terjadi di pulau yang berada di belakang Kampus Unhas ini, merupakan laboratorium sejarah yang perlu diberi catatan kritis-reflektif, sekaligus tawaran solusi dari sudut pandang warga, guna memperkuat entitas dan identitas mereka sebagai orang Lakkang. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas
Menuliskan “Delta Lakkang” sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan
Museum sebagai “Ruang Hidup”: Ikhtiar Ahmad Nuralam Menghidupkan Memori Kolektif NTB
Merajut Masa Depan dari Kuala Lumpur: Sains, Kolaborasi, dan Harapan Global
Menata Kurikulum Komunikasi di Tengah Arus Industri Digital
Merawat Harapan di Tengah Riuh Informasi: Saatnya Mengedepankan Good News
Dari Alumni: Hibah Buku untuk Almamater Universitas Hasanuddin
Di Saung dan Rak Buku: Nasrudin, Sawah, dan Denyut Literasi Komunitas Teman Baca

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 21:29 WITA

Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

Rabu, 8 April 2026 - 15:17 WITA

Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

Jumat, 3 April 2026 - 10:56 WITA

Menuliskan “Delta Lakkang” sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan

Kamis, 26 Maret 2026 - 21:50 WITA

Museum sebagai “Ruang Hidup”: Ikhtiar Ahmad Nuralam Menghidupkan Memori Kolektif NTB

Sabtu, 14 Maret 2026 - 08:48 WITA

Merajut Masa Depan dari Kuala Lumpur: Sains, Kolaborasi, dan Harapan Global

Berita Terbaru

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 Apr 2026 - 21:15 WITA