CERAKEN.ID — Di tengah geliat pembangunan sumber daya manusia yang kian menuntut kecakapan adaptif, sebuah pameran seni rupa yang digelar pelajar justru menghadirkan pesan yang jauh lebih mendasar: kreativitas adalah fondasi masa depan.
Itulah yang tergambar dalam pameran seni rupa bertajuk “Suara Karya” edisi ke-IX yang diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lembar, Kab. Lombok Barat, di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, berlangsung hingga Minggu, 19 April 2026.
Sebanyak 198 karya dari siswa-siswi kelas XII dipamerkan, menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang pendidikan di daerah tidak pernah kehabisan energi kreatif. Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang proses belajar yang mengedepankan ekspresi, refleksi, dan keberanian tampil di ruang publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks pendidikan hari ini, kegiatan seperti ini bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral dari upaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara emosional dan kreatif.
Menanam Kreativitas, Menyiapkan Generasi Emas
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., menegaskan bahwa pameran ini merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang utuh. Ia menyebut bahwa output pendidikan tidak lagi hanya diukur dari penguasaan pengetahuan, melainkan dari kemampuan siswa dalam berinovasi dan beradaptasi.
Menurutnya, seni budaya memiliki peran strategis dalam membentuk karakter tersebut. Kreativitas dan inovasi yang dilatih melalui seni akan menjadi bekal utama dalam menghadapi dinamika masa depan yang penuh ketidakpastian. Pengetahuan bisa berubah dan usang, tetapi kemampuan berpikir kreatif akan selalu relevan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa karya seni bukan hanya hasil akhir, melainkan bagian dari proses panjang internalisasi nilai. Dari memahami secara kognitif, mengekspresikan dalam bentuk karya, hingga merayakannya melalui pameran, semua adalah rangkaian yang saling melengkapi.

Pameran seperti “Suara Karya” menjadi ruang apresiasi yang sangat penting. Di sanalah siswa belajar bahwa usaha mereka dihargai, bahwa ide mereka memiliki tempat, dan bahwa karya mereka layak untuk dilihat publik. Ini adalah bentuk motivasi berkelanjutan yang akan membentuk kepercayaan diri generasi muda.
Dari Lembar ke Mataram: Perjalanan Menggapai Ruang Ekspresi
Bagi SMAN 1 Lembar, pameran ini bukanlah capaian yang datang secara instan. Kepala sekolah, H. Suryadi, S.Pd., mengisahkan perjalanan panjang yang dimulai dari penyelenggaraan sederhana di lingkungan sekolah, kemudian berkembang ke ruang publik seperti taman kota di Kabupaten Lombok Barat, hingga akhirnya mampu menembus panggung representatif di Taman Budaya NTB.
Langkah ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan simbol dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dari wilayah yang berada di ujung barat, para siswa kini mampu menunjukkan eksistensi mereka di pusat aktivitas seni di Kota Mataram.
Pameran ini juga memiliki fungsi akademik sebagai bagian dari penilaian ujian sekolah untuk mata pelajaran seni rupa. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wahana pembentukan mentalitas. Suryadi berharap para lulusan SMAN 1 Lembar memiliki keberanian untuk tampil di garis depan, khususnya dalam bidang seni dan kebudayaan.
Seni, dalam pandangannya, bukan hanya soal estetika, tetapi juga instrumen untuk melatih kepekaan sosial dan daya kritis. Dua hal ini menjadi bekal penting dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
Suara Kolektif dalam Goresan dan Warna
Ketua panitia pameran, Septi Budi Ramadhani, menggambarkan bahwa setiap karya yang ditampilkan adalah “suara” dari para siswa. Goresan, bentuk, dan warna menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, kegelisahan, harapan, hingga identitas diri.
Menariknya, seluruh karya ini lahir dari semangat kolektif. Para siswa secara mandiri berkontribusi, bahkan rela “iuran” demi terselenggaranya pameran. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya ruang ekspresi telah tumbuh kuat di kalangan mereka.
Di balik layar, peran guru dan kurator juga menjadi kunci. Pembina mata pelajaran seni budaya, Faozan, S.Pd., M.Hum., bersama kurator Sasih Gunalan, memberikan arah dan struktur sehingga karya-karya yang ditampilkan memiliki alur yang jelas dan komunikatif.

Meski diakui masih jauh dari sempurna, pameran ini justru menemukan kekuatannya pada proses. Antusiasme, kerja sama, dan keberanian bereksperimen menjadi nilai utama yang menghidupkan “Suara Karya”.
Ruang Tumbuh yang Terus Dijaga
Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, S.Sn., M.M., melihat pameran ini sebagai bagian dari ekosistem kesenian yang harus terus dirawat. Ia menegaskan bahwa Taman Budaya tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga sebagai laboratorium kreatif bagi generasi muda.
Dukungan yang diberikan tidak berhenti pada penyediaan tempat. Bahkan, pihaknya mendorong agar pameran dapat berlangsung lebih lama, hingga dua minggu, agar dampaknya lebih luas. Semakin lama sebuah karya dipamerkan, semakin besar peluangnya untuk menginspirasi.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya kompetisi yang sehat antar sekolah. Jika satu sekolah mampu menampilkan 198 karya, maka sekolah lain diharapkan dapat melampaui capaian tersebut. Kompetisi semacam ini akan mendorong lahirnya inovasi dan memperkuat semangat sportivitas.
Sementara itu, Faozan sebagai guru seni budaya menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci. Sejak 2017, pameran ini terus digelar dengan berbagai dinamika. Setiap angkatan membawa tema, perspektif, dan energi yang berbeda, menjadikannya sebagai kekayaan yang terus berkembang.
Ia juga menanamkan nilai sederhana namun mendalam kepada para siswa: bahwa musuh utama bukanlah orang lain, melainkan kebodohan, kemiskinan, dan kemalasan. Melalui seni, para siswa diajak untuk melawan ketiga hal tersebut dengan cara yang kreatif dan bermakna.
Pameran “Suara Karya” akhirnya bukan hanya tentang seni rupa. Ia adalah narasi tentang perjuangan, kolaborasi, dan harapan. Dari sebuah sekolah di pinggiran, lahir suara-suara yang kini menggema di ruang budaya provinsi.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, karya-karya ini menjadi penanda bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan logika, tetapi juga dengan rasa, imajinasi, dan keberanian untuk berkarya. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































