Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci

Minggu, 19 April 2026 - 17:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Nyimpen" bukan sekadar tentang keberangkatan. Ia adalah pelajaran tentang merelakan (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Siang itu, suasana di Masjid Al Raisiyah, Sekarbela, terasa berbeda. Bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan pertemuan antara harapan, doa, dan haru yang menyatu dalam satu tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat: Nyimpen.

Di antara koper-koper yang tersusun rapi, tersimpan cerita tentang perjalanan spiritual yang segera dimulai. Tangan-tangan yang dengan penuh kehati-hatian memasukkan perlengkapan pribadi para Calon Jemaah Haji (CJH) seakan turut menitipkan doa di setiap lipatan pakaian.

Sementara itu, mata yang berkaca-kaca menjadi saksi perasaan yang bercampur antara bahagia dan berat melepas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebanyak 35 CJH dari empat lingkungan—Pande Mas Timur, Pande Mas Barat, Pande Besi, dan Mas Mutiara—tahun ini menjadi bagian dari tradisi tersebut. Mereka tidak hanya bersiap berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga menjalani prosesi yang mengikat mereka dengan akar budaya dan kebersamaan masyarakatnya.

Prosesi Nyimpen bukan sekadar aktivitas memasukkan barang ke dalam koper. Ia adalah simbol penyerahan diri, kesiapan, dan kebersamaan.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memimpin prosesi menghadirkan ketenangan batin melalui lantunan tahlil dan dzikir yang mengalun khidmat di dalam masjid, menjadikan setiap momen terasa sakral dan penuh makna.

Baca Juga :  Kominfo “Hijrah” ke Bale Mentaram, Menandai Babak Baru Pemerintahan Digital Mataram

Kehadiran Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, bersama Wakil Wali Kota, Mujiburrahman, pada Sabtu (18/04) siang, semakin menguatkan nilai kebersamaan dalam tradisi ini. Mereka hadir bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan hangatnya prosesi tersebut.

Makna Melepas: Dari Tradisi Menuju Keikhlasan Ibadah

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa Nyimpen adalah warisan yang tidak ternilai. Ia menyebutnya sebagai bentuk ijtihad yang diwariskan oleh para leluhur dan terus dirawat hingga kini sebagai nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Namun, pesan yang paling mengena adalah ajakan untuk memaknai perjalanan haji sebagai momentum melepaskan keterikatan duniawi. Di hadapan para CJH, ia mengingatkan agar mereka mulai meninggalkan sejenak urusan dunia dan memusatkan diri sepenuhnya pada ibadah.

Pesan itu sederhana, tetapi terasa begitu dekat dengan realitas para jemaah. Di antara mereka, ada yang harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, serta tanggung jawab sehari-hari. Dalam konteks inilah Nyimpen menjadi ruang kolektif untuk saling menguatkan bahwa kepergian bukanlah kehilangan, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual.

Baca Juga :  Menyambut Lebaran Topat dengan Semangat Bersih dan Kebersamaan

Doa-doa pun dipanjatkan bersama. Harapan untuk kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji menggema di dalam masjid. Lebih dari itu, terselip harapan terbesar: kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.

Di sudut-sudut ruangan, suasana haru tak terelakkan. Beberapa keluarga menggenggam erat tangan orang tercinta, menahan air mata yang nyaris jatuh. Senyum yang terukir tampak menyimpan keikhlasan yang sedang diuji.

Pada akhirnya, Nyimpen bukan sekadar tentang keberangkatan. Ia adalah pelajaran tentang merelakan. Tradisi ini mengajarkan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin untuk melepaskan, menyederhanakan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Di Sekarbela, Nyimpen terus hidup sebagai warisan yang mengikat generasi, menjaga semangat gotong royong, dan menjadi pengingat bahwa dalam setiap perjalanan besar, selalu ada doa-doa kecil yang mengantarkan.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas
Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB
Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Dari Panggung Penghargaan ke Budaya Kinerja: Menjadikan Hattrick Prestasi Mataram Bernilai Jangka Panjang
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh
Hattrick Prestasi Kota Mataram di Panggung Nasional

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 17:19 WITA

Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci

Jumat, 17 April 2026 - 07:58 WITA

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Kamis, 16 April 2026 - 23:10 WITA

Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas

Kamis, 16 April 2026 - 21:29 WITA

Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB

Rabu, 15 April 2026 - 22:58 WITA

Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern

Berita Terbaru

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 Apr 2026 - 21:15 WITA