CERAKEN.ID — Pantai Ampenan kembali menemukan denyutnya sebagai ruang publik yang hidup. Di tengah debur ombak dan lalu-lalang warga yang menikmati sore, panggung kecil di kawasan pesisir itu berubah menjadi ruang pertemuan antara anak-anak, komunitas, seni, dan kesadaran lingkungan.
Melalui pementasan wayang botol bertajuk “Tuselak: Gurite Raksasa Pantai Ampenan”, anak-anak dari Gerakan Literasi Paus Biru tampil sebagai pemeran utama yang menyampaikan pesan tentang plastik dengan cara kreatif, hangat, dan dekat dengan masyarakat.
Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ia menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana persoalan sampah plastik dapat diterjemahkan menjadi karya, dialog, dan refleksi sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, H. M. Ramadhani, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr. Cahya Samudra, S.STP., M.H., serta dosen Universitas Mataram, Muhamad Bai’ul Hak, S.E., M.App.Ec., yang selama ini turut mengembangkan program pengabdian masyarakat terkait edukasi dan pengelolaan sampah.
Dari Plastik Menjadi Cerita
Program ini berangkat dari terpilihnya Amor sebagai penerima Algalita Student Mini Grants untuk mengembangkan inisiatif edukasi mengenai polusi plastik. Namun, pesan yang dibawa tidak berhenti pada ajakan membuang sampah pada tempatnya.
Program ini mencoba memperlihatkan bahwa plastik merupakan persoalan yang lebih luas: berkaitan dengan produksi, kebijakan, hingga sistem pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya memadai.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam program “Dari Sampah Plastik menjadi Cerita: Edukasi Lingkungan dan Kreasi Reuse melalui Wayang Botol”.
Anak-anak Gerakan Literasi Paus Biru diajak mengikuti proses panjang, mulai dari pembekalan tentang isu plastik, workshop pembuatan wayang botol, penulisan refleksi, penyusunan naskah, hingga latihan pementasan bersama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak.

Dalam workshop, anak-anak menuangkan pengalaman dan pandangan mereka tentang plastik melalui kertas origami berwarna.
Warna biru digunakan untuk membahas asal plastik, hijau tentang dampaknya di pantai, kuning untuk menggambarkan perasaan mereka saat melihat sampah plastik, merah untuk imajinasi karakter, dan ungu untuk pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai persoalan lingkungan.
Dari refleksi sederhana itulah lahir sebuah naskah pertunjukan yang disusun oleh Amor sebagai project lead, Suci selaku Ketua Gerakan Literasi Paus Biru, serta Abram dari Archipelagic Research Center. Naskah tersebut kemudian dikonsultasikan kepada Sekolah Pedalangan Wayang Sasak sebagai penggagas utama wayang botol.
Penggunaan Bahasa Sasak dan Bahasa Indonesia sehari-hari menjadikan pertunjukan terasa dekat dengan warga yang menyaksikan.
Menghidupkan Panggung Publik Pantai Ampenan
Selama kurang lebih tiga bulan, anak-anak berproses tidak hanya sebagai peserta, melainkan juga sebagai aktor partisipatif yang memahami isu plastik sekaligus menyampaikan kembali pesan tersebut kepada masyarakat.
Pilihan menghadirkan pertunjukan di Pantai Ampenan pun bukan tanpa alasan. Kawasan itu dipandang memiliki potensi besar sebagai ruang budaya dan ruang temu publik yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
“Pantai Ampenan dipilih karena kami ingin ikut menghidupkan kembali panggung publik yang ada di kawasan ini. Sayang sekali kalau ada panggung yang bagus, tetapi jarang digunakan. Selain sebagai ruang pertunjukan, kami juga berharap kegiatan seperti ini bisa ikut menghidupkan UMKM di sekitar pantai,” ujar Amorina, Minggu (24/05/2026).
Ia menambahkan bahwa para pelaku UMKM di sekitar pantai turut merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut karena kawasan menjadi lebih ramai dikunjungi warga.

Pementasan wayang botol itu sekaligus menunjukkan bahwa ruang publik dapat menjadi titik temu antara seni, pendidikan, ekonomi lokal, dan gerakan komunitas. Anak-anak tampil dengan percaya diri membawa wayang hasil kreasi mereka sendiri, sementara masyarakat menyaksikan isu lingkungan disampaikan lewat medium yang ringan dan menghibur.
Kolaborasi Komunitas dan Ruang Tumbuh Bersama
Kegiatan di Pantai Ampenan tidak berhenti pada pertunjukan wayang botol. Anak-anak Gerakan Literasi Paus Biru juga menampilkan pembacaan puisi, tari, hingga flashmob yang menambah semarak suasana.
Di tengah rangkaian acara, Fathurrahman, siswa SLB 1 Mataram, turut mendongeng tentang Celepuk Rinjani, menghadirkan nuansa edukatif yang menyentuh.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat pameran wayang botol hasil karya anak-anak dan lukisan karya Amor yang menjadi bagian dari ruang ekspresi dan refleksi dalam kegiatan tersebut.
Program ini direalisasikan melalui kolaborasi berbagai komunitas dan lembaga, mulai dari Archipelagic Research Center, Paus Biru, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Urban Creative Society, hingga Pokdarwis Ampenan.
Sejumlah komunitas lain juga ikut terlibat, seperti Temanbaca dengan lapak buku, Urban Creative Society dan Archipelagic Research Center melalui pengalaman virtual reality, Lombok Reptile Community dengan edukasi satwa, Next Level Movement dengan produk berbahan plastik daur ulang, serta kontribusi artist lokal HUMA.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan tidak harus hadir dengan wajah yang kaku dan penuh ceramah. Di tangan anak-anak dan komunitas kreatif, isu plastik dapat berubah menjadi cerita yang hidup, dekat, dan mudah dipahami masyarakat.
Di Pantai Ampenan sore itu, wayang-wayang dari botol plastik bekas bukan sekadar properti pertunjukan. Ia menjadi simbol bahwa sampah dapat diubah menjadi ruang belajar, ruang seni, sekaligus ruang harapan bagi masa depan lingkungan dan kota yang lebih hidup. (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: diskominfo kota mataram































































