CERAKEN.ID — Hari Raya Iduladha pada Rabu, 27 Mei 2026, tidak hanya menghadirkan gema takbir dan ritual penyembelihan kurban di Kota Mataram, tetapi juga menghadirkan pesan-pesan mendalam tentang cara manusia memaknai hidup.
Dari khutbah di Masjid Al Raisyah, di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, hingga area parkir timur Lombok Epicentrum Mall, tersirat benang merah yang sama: Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk menyembelih ego, merawat kepedulian sosial, dan memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya.
Khutbah-khutbah itu seakan mengingatkan bahwa manusia modern sering kali terjebak dalam perlombaan pencitraan, kemewahan, dan kepentingan pribadi. Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ambisi, Iduladha hadir membawa pelajaran sunyi tentang pengorbanan dan keikhlasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keteladanan Nabi Ibrahim dan Keberanian Melepaskan Ego
Pesan paling kuat dari Iduladha tentu bersumber dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Peristiwa itu bukan semata cerita tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan simbol keberanian manusia untuk tunduk kepada nilai-nilai yang lebih tinggi daripada kepentingan diri sendiri.
Di berbagai mimbar salat Iduladha di Mataram, jamaah diingatkan bahwa pengorbanan terbesar manusia hari ini bukan lagi tentang menyerahkan anak atau harta, melainkan melepaskan kesombongan, rasa iri, kerakusan, dan kebiasaan hidup berlebihan.
“Kurban sejati adalah ketika manusia mampu menyembelih ego dan nafsunya sendiri,” menjadi salah satu pesan yang berulang dalam nuansa khutbah Iduladha tahun ini.
Makna tersebut terasa relevan dalam kehidupan masyarakat modern yang sering diwarnai persaingan tanpa empati. Banyak orang mengejar keberhasilan dengan mengorbankan ketulusan, bahkan kehilangan waktu untuk keluarga dan lingkungan sekitar.
Iduladha mengajarkan bahwa hidup bukan hanya soal memiliki, tetapi juga soal berbagi dan rela melepaskan sebagian yang dicintai demi kebaikan bersama.
Merawat Solidaritas di Tengah Kehidupan Kota
Di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB dan kawasan Lombok Epicentrum, suasana Iduladha memperlihatkan pertemuan berbagai lapisan masyarakat. Ada pejabat, pedagang, pegawai, mahasiswa, hingga warga biasa yang berdiri dalam saf yang sama.
Momen itu menjadi pengingat bahwa di hadapan Tuhan, manusia tidak dibedakan oleh jabatan maupun kekayaan.
Khutbah Iduladha juga menekankan pentingnya solidaritas sosial. Daging kurban bukan hanya simbol ibadah personal, tetapi bentuk nyata perhatian kepada mereka yang jarang menikmati kecukupan pangan.
Dalam konteks kehidupan kota yang semakin individualistik, pembagian kurban menjadi cara sederhana untuk menjaga rasa kebersamaan.
Pesan itu menjadi penting di tengah perubahan sosial perkotaan yang sering membuat hubungan antarmanusia terasa renggang. Banyak orang tinggal berdekatan tetapi saling asing. Banyak yang hidup mewah, sementara di sudut lain masih ada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Iduladha mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak boleh dinikmati sendirian.
“Jangan sampai ibadah hanya menjadi ritual tanpa menghadirkan kepedulian sosial,” menjadi inti pesan yang terasa hidup dari berbagai khutbah di Mataram pagi itu.
Kesederhanaan Sebagai Jalan Kehidupan
Selain tentang pengorbanan dan solidaritas, khutbah Iduladha tahun ini juga menghadirkan pelajaran tentang kesederhanaan hidup. Hewan kurban yang disembelih menjadi simbol bahwa manusia sesungguhnya tidak membawa apa-apa ketika lahir dan tidak membawa apa-apa ketika kembali kepada Tuhan.
Dalam kehidupan yang dipenuhi budaya konsumtif, Iduladha mengajarkan manusia untuk kembali pada hal-hal mendasar: kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan rasa syukur. Kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang cukup dan hubungan sosial yang sehat.
Kesederhanaan itu pula yang tercermin dalam suasana salat Iduladha. Ribuan orang berkumpul di ruang terbuka, beralas sajadah sederhana, bertakbir bersama tanpa sekat sosial.
Di momen seperti itu, manusia kembali diingatkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dari tiga mimbar Iduladha di Mataram, tersirat satu pelajaran penting: manusia yang baik bukanlah manusia yang paling banyak mengumpulkan dunia, melainkan yang mampu menjaga hati, berbagi rezeki, dan tetap rendah hati di tengah segala pencapaian hidupnya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































