Lorong Pendidikan dan Suara Wayang yang Menolak Diam

Senin, 11 Mei 2026 - 00:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Instalasi ini menggunakan bahan bambu serta wayang berbahan karton tebal dan tipis yang digantung dalam satu kelompok besar (Foto: aks / ceraken.id)

Instalasi ini menggunakan bahan bambu serta wayang berbahan karton tebal dan tipis yang digantung dalam satu kelompok besar (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pameran Seni “Lorong Pendidikan” yang digagas peserta didik SMAN 8 Mataram sejak Sabtu (9/5) lalu, bukan sekadar ruang memajang hasil tugas sekolah. Terinspirasi dari lorong-lorong yang biasanya menjadi jalur lalu-lalang siswa, kini di salah satu kelas yang menjadi etalase pameran, berdiri sekitar 32 karya seni rupa yang berbicara tentang pendidikan, kegelisahan generasi muda, hingga cara mereka memandang masa depan.

Kanvas-kanvas berwarna cerah berjajar rapi di dinding, sementara instalasi wayang yang menggantung pelan bergerak diterpa angin kipas, menghasilkan bunyi lirih yang justru membuat ruang itu terasa hidup.

Tema “Lorong Pendidikan” menjadi medium bagi peserta didik untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, dan kegelisahan mereka tentang dunia pendidikan. Ada yang melukiskan laut, gunung, senja, hingga simbol kebangsaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada pula yang memilih tokoh budaya sebagai bahasa kritik dan refleksi sosial. Pameran ini memperlihatkan bahwa seni di lingkungan sekolah bukan hanya pelengkap kegiatan akademik, melainkan cara peserta didik membaca realitas di sekitar mereka.

Dominasi media canvas acrylic atau kanvas akrilik terlihat begitu kuat dalam pameran ini. Media tersebut dipilih karena lebih mudah digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Cat akrilik cepat kering, tidak berbau menyengat, warnanya cerah, serta memungkinkan koreksi apabila terjadi kesalahan. Dalam keterbatasan waktu belajar di kelas, kanvas akrilik menjadi solusi praktis sekaligus artistik.

Kanvas akrilik sendiri merupakan media lukis berbahan kain kanvas yang dilapisi gesso sehingga cat tidak mudah meresap ke serat kain. Teksturnya memberi kesan klasik dan artistik, namun tetap ringan digunakan oleh peserta didik.

Karakter ini membuat karya-karya dua dimensi dalam pameran tampak hidup dan ekspresif. Dari karya bertema alam hingga simbol nasionalisme, warna-warna terang mendominasi hampir seluruh ruang pamer: in door dan out door.

Beberapa karya yang menarik perhatian antara lain Palung Mariana, Segare Anak, Sunflower, Pegunungan Fuji, Bhineka Tunggal Ika, Ir. Soekarno, hingga Kuda Api 2026. Judul-judul itu menunjukkan betapa luas imajinasi peserta didik dalam menangkap dunia di sekitar mereka.

Ada yang memandang laut sebagai ruang misteri, ada yang melihat senja sebagai metafora harapan, dan ada pula yang menampilkan identitas kebangsaan melalui simbol budaya serta tokoh nasional.

Kanvas Akrilik dan Bahasa Generasi Muda

Di tengah derasnya budaya digital yang membuat anak muda lebih akrab dengan layar telepon genggam dibanding kuas lukis, pameran ini justru memperlihatkan hal berbeda. Para peserta didik memilih kembali menyentuh material nyata: kain kanvas, cat, kuas, kayu bingkai, hingga tekstur warna yang tidak dapat dihadirkan sempurna oleh teknologi digital.

Pilihan terhadap kanvas akrilik juga memperlihatkan bagaimana seni rupa di sekolah menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran modern. Cat akrilik yang cepat kering memungkinkan peserta didik menyelesaikan karya dalam waktu relatif singkat.

Kesalahan dapat ditimpa kembali tanpa harus mengulang dari awal. Sifat ini penting dalam proses belajar, sebab seni di sekolah bukan hanya soal hasil akhir, tetapi keberanian bereksperimen.

Baca Juga :  Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah
Ia memaknai “Wayang Suluh Pendidikan” sebagai simbol penerang bagi warga sekolah melalui cerita dan nilai-nilai kehidupan (Foto: aks / ceraken.id)

Selain itu, warna-warna cerah cat akrilik menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda. Nuansa visual yang kuat membuat karya terasa lebih komunikatif dan dekat dengan karakter anak-anak sekolah yang dinamis.

Di ruang pamer itu, pengunjung seperti diajak masuk ke dalam dunia batin peserta didik yang penuh warna, kadang riang, kadang melankolis, namun tetap jujur.

Karya seperti Senja Merah, Hangat Senja, dan Swastamita memperlihatkan kecenderungan peserta didik menempatkan alam sebagai ruang kontemplasi. Sementara karya seperti Monas, Nusantara, dan Bhineka Tunggal Ika menunjukkan kesadaran kebangsaan yang tetap hidup di tengah generasi muda.

Ada pula karya Pohon Logika yang menghadirkan simbol pemikiran kritis, seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar hafalan, melainkan proses menumbuhkan nalar.

Dalam konteks itu, lorong sekolah berubah fungsi. Ia tidak lagi hanya tempat berjalan menuju ruang kelas, melainkan ruang dialog antara peserta didik dan publik. Setiap lukisan menjadi semacam pernyataan kecil tentang apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

Wayang yang Menggantung dan Kritik yang Bergerak

Di antara dominasi karya dua dimensi, terdapat satu karya yang tampak menyendiri namun justru paling mencuri perhatian, yakni seni instalasi mixed media berjudul Wayang Suluh Pendidikan.

Instalasi ini menggunakan bahan bambu serta wayang berbahan karton tebal dan tipis yang digantung dalam satu kelompok besar. Ketika terkena hembusan angin, wayang-wayang itu bergerak perlahan sambil menimbulkan bunyi yang khas.

Penggunaan mixed media memberi ruang eksplorasi yang lebih kompleks. Berbeda dengan lukisan di atas kanvas, seni mixed media menggabungkan berbagai material sekaligus, mulai dari cat, bambu, kertas, hingga benda-benda temuan lain. Teknik ini memungkinkan seniman menciptakan tekstur dan suasana yang lebih kaya.

Dalam konteks pameran ini, bambu dipilih karena mudah ditemukan, murah, alami, dan akrab dengan kehidupan masyarakat. Sementara bahan karton pada wayang memudahkan proses pewarnaan dan tidak mudah rusak.

Teknik menggantung dipilih agar karya dapat dilihat dari segala arah, menciptakan pengalaman visual yang berbeda tergantung sudut pandang pengunjung.

Guru Seni Budaya sekaligus kurator karya tersebut, I Nyoman Sandiya, menceritakan bahwa proses kreatif instalasi itu lahir dari diskusi sederhana di kelas.

“Awalnya, sebulan yang lalu pada materi display karya seni rupa, saya mengajar 8 kelas F atau XI. Setelah masing-masing kelas mendisplay karya seni lukis sesuai kemampuan kelas mereka. Nah tinggal sekarang, Wayang Menak Sasak yang harus didisplay,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai ide sempat muncul dari peserta didik. Ada yang mengusulkan wayang ditempel di dinding, ada yang ingin menancapkannya pada batang pisang, hingga akhirnya dipilih metode menggantung.

“Saya juga pikir kalau tempel di tembok ini gedung baru, kalau gunakan batang pisang cukup sulit bawa ke dalam kelas, akhirnya kami putuskan gantung, ya sangat bagus juga apa lagi kena hempasan angin dari kipas angin seperti wayang itu dimainkan,” kata Sandiya.

Wayang-wayang yang bergerak tertiup angin menghadirkan kesan seolah pertunjukan sedang berlangsung tanpa dalang (Foto: aks / ceraken.id)

Keputusan sederhana itu justru melahirkan pengalaman artistik yang unik. Wayang-wayang yang bergerak tertiup angin menghadirkan kesan seolah pertunjukan sedang berlangsung tanpa dalang.

Baca Juga :  Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan

Pengunjung bukan hanya melihat karya, tetapi juga merasakan atmosfer yang dibangun oleh gerak, bunyi, dan bayangan.

Wayang sebagai Suluh Pendidikan

Bagi Sandiya, wayang bukan sekadar objek budaya, melainkan media pendidikan yang tetap relevan lintas zaman. Ia memaknai “Wayang Suluh Pendidikan” sebagai simbol penerang bagi warga sekolah melalui cerita dan nilai-nilai kehidupan.

“Wayang jadi obor atau penerang yang menuntun warga sekolah lewat cerita dan simbol,” jelasnya.

Menurutnya, wayang memiliki kekuatan pedagogis yang sangat besar. Tokoh-tokoh dalam cerita wayang menghadirkan nilai moral secara halus tanpa terasa menggurui. Ada tokoh jujur, sabar, dan rendah hati yang akhirnya menang, tetapi ada pula tokoh serakah dan angkuh yang hancur oleh kekuasaannya sendiri.

“Dalang seperti guru, kelir seperti papan tulis, lakon seperti materi pelajaran, seluruh warga sekolah belajar bareng tanpa merasa digurui,” tutur Sandiya.

Dalam pandangannya, pendidikan melalui wayang bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Wayang mengajarkan kognitif melalui cerita dan filsafat, afektif melalui suasana emosional pertunjukan, serta psikomotorik melalui proses membuat dan memainkan wayang.

Ia juga menyinggung relevansi wayang dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Lakon wayang dapat disesuaikan dengan persoalan zaman, mulai dari korupsi, bullying, hingga persoalan lingkungan sekolah. Dengan demikian, wayang tetap hidup karena mampu berbicara kepada generasi baru menggunakan konteks kekinian.

“Wayang itu fleksibel, jadi suluhnya tetap nyala meski jaman berganti, dia nerangin jalan lewat bayangan, ngajarin hidup lewat lakon, dan negur kita lewat tawa punawakan. Wayang guru yang nggak pernah pensiun,” katanya.

Pernyataan itu terasa kuat ketika melihat instalasi wayang yang bergoyang perlahan di lorong sekolah. Di tengah dunia pendidikan yang semakin dipenuhi angka, target, dan tekanan akademik, karya tersebut seperti mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya juga membutuhkan imajinasi, empati, dan kebudayaan.

Pameran “Lorong Pendidikan” akhirnya tidak hanya menjadi ajang memamerkan kemampuan teknis peserta didik dalam melukis atau membuat instalasi. Lebih dari itu, ia menjadi ruang tempat seni berbicara tentang pendidikan itu sendiri.

Lorong sekolah yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang refleksi tentang bagaimana generasi muda memandang kehidupan, budaya, dan masa depan mereka.

Sebenarnya, sebagian karya wayang memang tidak dipajang karena telah dibawa pulang oleh peserta didik. Namun sebagaimana dikatakan Sandiya, karya-karya itu akan menjadi kenangan abadi bagi mereka.

Dan mungkin, lebih dari sekadar kenangan, karya-karya tersebut akan menjadi penanda bahwa di sebuah lorong sekolah di Kota Mataram, seni pernah menjadi cahaya yang menerangi cara anak-anak muda memahami dunia. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan
Transparansi sebagai Pilar Kepercayaan: Komitmen Mataram dalam Keterbukaan Informasi
Pohon Pule dan Lahirnya Ruang Kerja Hijau di Bale Mentaram
Dua Lapangan, Satu Pesan Pendidikan
Pendidikan Bermutu Dimulai dari Kelas
Membaca LKPJ sebagai Cermin Harapan Kota Mataram
Mataram Innovation Week: Ketika Kota Bertumbuh Lewat Kolaborasi Global
Sinkronisasi Pusat dan Daerah, Kunci Menjaga Arah Pembangunan

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 00:16 WITA

Lorong Pendidikan dan Suara Wayang yang Menolak Diam

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:20 WITA

Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan

Rabu, 6 Mei 2026 - 18:47 WITA

Transparansi sebagai Pilar Kepercayaan: Komitmen Mataram dalam Keterbukaan Informasi

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:06 WITA

Pohon Pule dan Lahirnya Ruang Kerja Hijau di Bale Mentaram

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:45 WITA

Dua Lapangan, Satu Pesan Pendidikan

Berita Terbaru

Berkeliling sambil melantunkan sebutan menu-menu (Foto: ist /   ceraken.id)

NARASI

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Desa Berdaya mencoba menawarkan pendekatan berbeda: menjadikan desa sebagai pusat transformasi sosial dan ekonomi masyarakat miskin (Foto: akun medsos Adhar Hakim /  ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Adhar Hakim. Desa Berdaya adalah gerakan bersama untuk membangun kesadaran bahwa kemiskinan harus dilawan melalui kolaborasi, bukan hanya program bantuan (Foto: ist / ceraken.id)

INFORIAL

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:39 WITA