Ekonomi Indonesia Melaju 5,61 Persen, Sinyal Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan Lima Persen

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat lagi (Foto: kemenkeu.go.id / ceraken.id)

Kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat lagi (Foto: kemenkeu.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi banyak negara, perekonomian Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2025 yang berada di angka 5,39 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik pertumbuhan, melainkan sinyal bahwa mesin ekonomi nasional mulai bergerak lebih cepat dan lebih stabil.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut capaian tersebut sebagai bukti bahwa Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan meski tekanan global belum sepenuhnya mereda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Di tengah gejolak dan tekanan perekonomian global yang tidak menentu, kita masih bisa tumbuh 5,61 persen,” ujar Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi April 2026 di Jakarta, Selasa (5/5).

Pernyataan itu menjadi penting karena dalam beberapa tahun terakhir Indonesia kerap berada pada pola pertumbuhan yang relatif stagnan di kisaran 5 persen. Kini, pemerintah melihat adanya peluang untuk keluar dari pola tersebut menuju akselerasi ekonomi yang lebih tinggi.

“Jadi clear sekali kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat lagi,” kata Menkeu.

Konsumsi dan Belanja Negara Jadi Mesin Utama

Pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2026 terutama didorong oleh sisi permintaan domestik yang tetap kuat. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB), dengan kontribusi lebih dari separuh total aktivitas ekonomi nasional.

Data tersebut memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga. Ini menjadi indikator penting karena konsumsi rumah tangga selama ini merupakan fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika masyarakat tetap berbelanja, sektor perdagangan bergerak, industri berproduksi, dan lapangan kerja ikut terjaga.

Baca Juga :  Jalan Keselamatan Bernama Kesiapsiagaan

Selain konsumsi, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen. Angka ini menunjukkan dunia usaha masih memiliki kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional. Investasi yang tumbuh stabil biasanya berkorelasi dengan pembukaan usaha baru, ekspansi industri, dan peningkatan kebutuhan tenaga kerja.

Faktor lain yang sangat menonjol adalah lonjakan belanja pemerintah hingga 21,81 persen. Pemerintah tampaknya mulai mempercepat realisasi anggaran sejak awal tahun agar efek ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun, tidak menumpuk di akhir periode anggaran.

“Saya ingin dampak belanja pemerintah merata sepanjang tahun, ini mulai kelihatan,” ujar Menkeu.

Strategi tersebut secara ekonomi cukup relevan. Ketika belanja negara dipercepat, maka proyek pembangunan berjalan lebih awal, bantuan sosial lebih cepat tersalurkan, dan aktivitas ekonomi daerah ikut bergerak sejak kuartal pertama. Efek berantainya dapat memperkuat konsumsi masyarakat sekaligus menjaga optimisme dunia usaha.

Industri Manufaktur dan Sektor Riil Mulai Menguat

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada konsumsi semata. Sejumlah sektor riil mulai menunjukkan penguatan yang cukup signifikan.

Sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Ini penting karena industri manufaktur merupakan salah satu sektor strategis yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi penggerak ekspor nasional.

Selain manufaktur, sektor perdagangan, pertanian, konstruksi, serta makanan dan minuman juga mencatat pertumbuhan positif. Penyebaran pertumbuhan di berbagai sektor menunjukkan aktivitas ekonomi semakin luas dan tidak hanya terkonsentrasi di sektor tertentu.

Kondisi ini memberi gambaran bahwa pemulihan ekonomi mulai bergerak lebih merata. Ketika sektor pertanian tumbuh, masyarakat desa ikut merasakan dampaknya. Ketika konstruksi meningkat, sektor tenaga kerja informal bergerak. Sementara pertumbuhan perdagangan dan industri makanan-minuman memperlihatkan konsumsi domestik masih hidup.

Secara makro, pemerintah juga berhasil menjaga inflasi tetap terkendali di level 2,4 persen. Stabilitas harga menjadi faktor penting agar pertumbuhan ekonomi tidak “memakan” daya beli masyarakat. Pertumbuhan tinggi tanpa kontrol inflasi justru dapat menciptakan tekanan baru bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Baca Juga :  Racing Agen dan Strategi Kepercayaan: Cara Ampenan Menembus Target Nasabah Baru
Menuju Pertumbuhan yang Lebih Berkualitas

Pernyataan Menkeu bahwa pertumbuhan 5,61 persen terjadi “by design” menunjukkan bahwa pemerintah ingin menegaskan pertumbuhan ini bukan faktor kebetulan ataupun semata dorongan musiman. Ada desain kebijakan fiskal dan penguatan sektor swasta yang disiapkan secara terintegrasi.

Ke depan, pemerintah berencana memperkuat stimulus ekonomi, termasuk dukungan terhadap industri manufaktur dan insentif kendaraan listrik. Langkah ini memperlihatkan arah kebijakan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah lebih tinggi.

Dalam konteks global, capaian Indonesia menjadi cukup menarik. Banyak negara masih menghadapi perlambatan akibat suku bunga tinggi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional. Namun Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di atas 5 persen dengan inflasi yang relatif rendah.

Catatan positifnya, pertumbuhan ekonomi kali ini tidak hanya terlihat pada angka makro, tetapi mulai menyentuh sektor-sektor yang dekat dengan masyarakat. Ketika konsumsi rumah tangga meningkat, artinya aktivitas ekonomi rakyat bergerak.

Ketika investasi tumbuh, peluang kerja terbuka lebih luas. Ketika belanja pemerintah dipercepat, pembangunan daerah dan program sosial bisa lebih cepat dirasakan publik.

Kemanfaatannya bagi masyarakat tentu sangat besar. Pertumbuhan ekonomi yang sehat berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat daya beli, serta meningkatkan kualitas layanan publik melalui belanja negara yang lebih aktif.

Jika momentum ini terus dijaga, maka pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka statistik pemerintah, tetapi benar-benar hadir sebagai kesejahteraan yang dirasakan masyarakat luas. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: kemnkeu go.id

Berita Terkait

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB
Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global
APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global
Mandalika dan Janji Nilai Tambah untuk NTB
Sinergi Tiga Pilar Percepat Pengembangan KEK Mandalika
PINISI 2026: Menjaga Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tetap Menyala
Jalan Keselamatan Bernama Kesiapsiagaan
Menjaga Nalar Demokrasi: Antara Kritik dan Pembusukan di Ruang Publik

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:59 WITA

Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:55 WITA

Ekonomi Indonesia Melaju 5,61 Persen, Sinyal Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan Lima Persen

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:10 WITA

APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:53 WITA

Mandalika dan Janji Nilai Tambah untuk NTB

Berita Terbaru

Ilustrasi: cewe / ceraken,id

OPINI

“Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:12 WITA