Menjaga Nalar Demokrasi: Antara Kritik dan Pembusukan di Ruang Publik

- Penulis

Jumat, 24 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dari situlah lahir ruang yang sehat; tempat kritik dihargai, perbedaan dirawat, dan kebenaran tetap menjadi pijakan utama.(Foto: aks/ceraken.id)

Dari situlah lahir ruang yang sehat; tempat kritik dihargai, perbedaan dirawat, dan kebenaran tetap menjadi pijakan utama.(Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah riuhnya percakapan politik di era digital, batas antara kritik dan serangan kerap menjadi kabur. Media sosial membuka ruang seluas-luasnya bagi setiap orang untuk bersuara, namun pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan serius: bagaimana memastikan kebebasan itu tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab.

Dalam sebuah catatan di akun media sosialnya, Adhar Hakim, mantan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Prov. NTB periode 2012-2022, mengingatkan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas kritik yang berkembang di dalamnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar refleksi personal, melainkan juga cermin dari realitas yang dihadapi masyarakat hari ini. Ketika informasi mengalir begitu cepat, tidak semua yang beredar membawa nilai pencerahan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara kritik yang membangun dan narasi yang justru merusak.

Kritik sebagai Energi Demokrasi

Adhar Hakim menyebut kritik keras namun konstruktif sebagai “hadiah paling mewah” bagi demokrasi. Ungkapan ini menegaskan bahwa demokrasi tidak tumbuh dari pujian, melainkan dari keberanian untuk mengoreksi.

Kritik menjadi instrumen penting untuk menjaga kekuasaan tetap berada pada relnya, sekaligus mendorong perbaikan kebijakan.

Baca Juga :  Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade

Dalam praktiknya, kritik yang sehat memiliki ciri yang jelas: berbasis data, disampaikan dengan argumen, dan bertujuan memperbaiki keadaan. Ia mungkin tajam, bahkan tidak nyaman, tetapi tetap menjaga integritas diskursus publik.

Tanpa kritik semacam ini, demokrasi berisiko berubah menjadi ruang yang stagnan, di mana kekuasaan berjalan tanpa pengawasan.

Lebih jauh, kritik konstruktif juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran kolektif. Ia memungkinkan masyarakat untuk memahami persoalan secara lebih utuh, sekaligus melatih kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pendapat.

Bahaya Pembusukan dan Distorsi Informasi

Di sisi lain, Adhar Hakim mengingatkan adanya “racun” dalam demokrasi: hoaks, fitnah, dan serangan pribadi. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi menjadi semakin masif di era media sosial. Informasi yang tidak terverifikasi dengan mudah menyebar, sering kali dibungkus dengan emosi dan kepentingan tertentu.

Dalam konteks ini, ia membedakan antara “negative” dan “black”. “Negative” masih berada dalam ranah kritik, kontra yang disampaikan secara argumentatif. Sementara “black” merujuk pada kampanye hitam yang cenderung manipulatif dan destruktif.

Perbedaan ini penting karena tidak semua sikap oposisi dapat disamakan dengan tindakan merusak.

Baca Juga :  Dari Lembar Rupiah ke Satu Kode QRIS: Merawat Ingatan, Menyambut Masa Depan

Ketika pembusukan lebih dominan daripada kritik, ruang publik kehilangan kualitasnya. Diskusi berubah menjadi ajang saling menjatuhkan, bukan lagi pertukaran gagasan.

Dampaknya tidak hanya pada polarisasi sosial, tetapi juga pada melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi dan proses demokrasi itu sendiri.

Meniti Politik dengan Kedewasaan

Pesan lain yang tak kalah penting dari catatan tersebut adalah ajakan untuk bersikap objektif dan dewasa dalam berpolitik. Kedewasaan di sini bukan berarti menahan kritik, melainkan kemampuan untuk menyampaikan dan menerima kritik secara proporsional.

Objektivitas menjadi fondasi utama dalam memilah informasi. Di tengah banjir konten, masyarakat dituntut tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga kurator informasi.

Kemampuan untuk memverifikasi, menganalisis, dan tidak mudah terprovokasi menjadi kunci agar tidak terjebak dalam arus disinformasi.

Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya tentang kebebasan berbicara, tetapi juga tentang tanggung jawab moral atas setiap kata yang disampaikan. Seperti diingatkan Adhar Hakim, menjaga kualitas demokrasi berarti menjaga kualitas percakapan publiknya.

Dari situlah lahir ruang yang sehat; tempat kritik dihargai, perbedaan dirawat, dan kebenaran tetap menjadi pijakan utama. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA