CERAKEN.ID — Perjalanan panjang PT Pegadaian memasuki usia ke-125 tahun bukan sekadar penanda waktu, melainkan refleksi atas konsistensi sebuah lembaga keuangan dalam menjawab kebutuhan masyarakat lintas generasi.
Di wilayah timur Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Pulau Sumbawa, semangat itu diterjemahkan secara konkret oleh Mustofa, Deputi Bisnis (Vice President) PT Pegadaian Area Dompu yang berkedudukan di Kota Bima. Baginya, momentum ulang tahun ini tidak hanya tentang capaian, tetapi juga tentang komitmen yang terus diperbarui.
“Pegadaian tumbuh bersama nasabah, terus berbenah diri memberikan yang terbaik. Pegadaian bersama Tring! mengEmaskan Indonesia!” ungkapnya, menegaskan arah transformasi lembaga ini sebagai mitra keuangan yang semakin relevan di tengah perubahan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kinerja yang Melampaui Target
Di balik optimisme tersebut, terdapat fondasi kinerja yang solid. Hingga akhir Maret 2026, Pegadaian Area Dompu mencatatkan outstanding finance sebesar Rp3 triliun, tumbuh 23,84 persen dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Angka ini bahkan telah melampaui target tahunan dengan capaian 115,23 persen, sebuah indikator bahwa strategi yang dijalankan tidak hanya tepat, tetapi juga efektif menjawab kebutuhan pasar.
Tak kalah menarik, penjualan cicilan emas mencapai 33 kilogram selama periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi yang relatif aman dan stabil.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas kembali menegaskan posisinya sebagai “safe haven” bagi masyarakat, termasuk di wilayah timur Indonesia.
Kinerja tersebut tidak hadir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari orkestrasi strategi yang terencana, mulai dari peningkatan kualitas layanan hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam konteks ini, Pegadaian tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai institusi edukasi finansial.
Strategi: Dari Layanan hingga Literasi
Mustofa menekankan bahwa keberhasilan Pegadaian Area Dompu tidak lepas dari empat pilar utama: peningkatan layanan, literasi keuangan dan emas, penguatan keagenan, serta optimalisasi tim penjualan di setiap cabang. Keempatnya berjalan secara simultan, menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Peningkatan layanan menjadi titik awal yang krusial. Dalam era digital, ekspektasi nasabah terhadap kecepatan, kemudahan, dan transparansi semakin tinggi. Pegadaian merespons hal ini dengan menghadirkan layanan yang lebih adaptif, baik secara offline maupun digital.
Transformasi ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjaga relevansi.
Di sisi lain, literasi keuangan dan emas menjadi agenda strategis yang tak kalah penting. Banyak masyarakat yang masih memandang emas sebatas perhiasan, bukan sebagai instrumen investasi.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, Pegadaian berupaya mengubah perspektif tersebut. Cicilan emas, misalnya, menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi secara bertahap.
Penguatan keagenan juga menjadi langkah taktis untuk memperluas jangkauan layanan. Dengan melibatkan agen-agen lokal, Pegadaian mampu menjangkau masyarakat hingga ke pelosok, termasuk di wilayah-wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan keuangan formal.
Model ini tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru di tingkat lokal.
Yang menarik, Mustofa menegaskan bahwa setiap insan Pegadaian adalah seorang pemasar. Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam organisasi: bahwa pemasaran bukan hanya tugas divisi tertentu, melainkan tanggung jawab kolektif.

Dengan semangat ini, setiap pegawai menjadi duta layanan yang membawa nilai-nilai Pegadaian langsung ke tengah masyarakat.
Waspada Investasi Ilegal
Di tengah geliat pertumbuhan tersebut, Pegadaian juga menghadapi tantangan yang tidak ringan, salah satunya maraknya penipuan berkedok investasi. Fenomena ini menjadi perhatian serius, mengingat semakin banyak masyarakat yang tertarik pada instrumen investasi namun belum memiliki literasi yang memadai.
Mustofa mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan di luar kewajaran. Dalam logika keuangan, imbal hasil yang tinggi selalu berbanding lurus dengan risiko.
Ketika sebuah investasi menjanjikan keuntungan besar tanpa risiko, di situlah kewaspadaan harus ditingkatkan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memastikan setiap transaksi keuangan memiliki bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal sederhana ini sering kali diabaikan, padahal menjadi kunci dalam melindungi diri dari praktik penipuan.
Dalam konteks ini, Pegadaian tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai penjaga kepercayaan publik.
Pulau Sumbawa: Latar Sosial Ekonomi yang Dinamis
Kiprah Pegadaian Area Dompu tidak dapat dilepaskan dari konteks geografis dan sosial ekonomi Pulau Sumbawa. Pulau ini terdiri dari empat kabupaten; Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima, serta satu kota, yakni Kota Bima. Masing-masing wilayah memiliki karakteristik yang unik, namun saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi.
Kabupaten Sumbawa, dengan ibu kota di Sumbawa Besar, dikenal sebagai “Tana Intan Bulaeng” yang kaya akan sumber daya tambang. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa Barat dengan ibu kota Taliwang memiliki topografi yang didominasi wilayah perbukitan dan aktivitas pertambangan besar.
Di sisi timur, Kabupaten Bima dan Kota Bima menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan, sekaligus gerbang menuju wilayah timur Indonesia.
Pulau Sumbawa juga memiliki kekayaan budaya yang kuat, tercermin dari bahasa dan tradisi masyarakatnya. Di wilayah barat dan tengah, bahasa Sumbawa atau Basa Samawa menjadi identitas utama, sementara di wilayah timur, bahasa Bima atau Nggahi Mbojo lebih dominan. Keragaman ini menjadi kekuatan sosial yang memperkaya dinamika masyarakat.
Dari sisi kuliner, masyarakat Sumbawa memiliki beragam hidangan khas seperti singang, sepat, dan manjareal yang mencerminkan kearifan lokal. Sementara itu, potensi pariwisata juga tidak kalah menarik, mulai dari kemegahan Gunung Tambora hingga keunikan Pulau Bungin yang dikenal sebagai salah satu pulau terpadat di dunia.
Dalam konteks ini, Pegadaian hadir sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang mendukung berbagai sektor, mulai dari pertambangan, pertanian, hingga pariwisata. Layanan pembiayaan dan investasi yang ditawarkan menjadi instrumen penting dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
MengEmaskan Indonesia dari Timur
Momentum 125 tahun Pegadaian menjadi titik refleksi sekaligus akselerasi. Di wilayah seperti Pulau Sumbawa, peran Pegadaian menjadi semakin strategis, tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai agen pembangunan.
Dengan pendekatan yang mengedepankan layanan, literasi, dan inklusi, Pegadaian berupaya memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan yang aman dan terpercaya.
Mustofa dan timnya di Area Dompu menunjukkan bahwa transformasi tidak harus dimulai dari pusat. Dari wilayah timur Indonesia, semangat “mengEmaskan Indonesia” justru menemukan relevansinya.
Di tengah tantangan global dan dinamika lokal, Pegadaian terus menegaskan posisinya sebagai mitra yang tumbuh bersama masyarakat, bukan hanya dalam angka, tetapi juga dalam harapan.
Pada akhirnya, keberhasilan Pegadaian bukan semata diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi dari sejauh mana ia mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Dan di Pulau Sumbawa, cerita itu sedang ditulis, halaman demi halaman, dengan emas sebagai simbol ketahanan, dan kepercayaan sebagai fondasi utama. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































