Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Kamis, 23 April 2026 - 09:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konferensi Asia Afrika. Kebudayaan adalah fondasi yang mampu melampaui batas-batas geopolitik (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

Konferensi Asia Afrika. Kebudayaan adalah fondasi yang mampu melampaui batas-batas geopolitik (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika yang digelar di Hotel Savoy Homann pada 19 April 2026 bukan sekadar peringatan historis, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat solidaritas global yang pernah lahir dari Kota Bandung.

Mengusung tema “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia,” kegiatan ini menegaskan bahwa kebudayaan tetap relevan sebagai instrumen diplomasi di tengah dunia yang kian terfragmentasi.

Dalam lanskap global yang diwarnai konflik dan ketidakpastian, semangat Bandung menemukan urgensinya kembali. Apa yang dahulu dirumuskan sebagai Dasasila Bandung kini menjadi refleksi penting untuk menjawab tantangan zaman, ketika hubungan antarnegara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kepercayaan dan saling pengertian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bandung Spirit di Tengah Dunia yang Rawan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pidato kebudayaannya menyoroti kondisi global yang tengah berada dalam fase uncertain world dan trust erosion. Fenomena ini tampak dari meningkatnya rivalitas geopolitik, konflik bersenjata, hingga perlombaan persenjataan yang berimplikasi luas terhadap stabilitas dunia.

Di tengah situasi tersebut, ancaman terhadap warisan budaya menjadi persoalan serius. Situs bersejarah rusak akibat perang, identitas budaya tergerus, dan jejak peradaban manusia berpotensi hilang. Dalam konteks ini, Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga perdamaian.

Baca Juga :  Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB

“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan,” tegasnya. Pernyataan ini menempatkan budaya bukan sekadar ekspresi, tetapi sebagai fondasi moral yang menjaga martabat dan identitas suatu bangsa di tengah arus globalisasi.

Diplomasi Budaya sebagai Jalan Tengah

Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia menegaskan posisinya untuk tetap berada pada jalur non-blok, sekaligus aktif membangun kerja sama global yang inklusif. Prinsip-prinsip dalam Piagam PBB menjadi rujukan penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Pendekatan diplomasi budaya menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif. Melalui dialog kebudayaan bertajuk Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan, berbagai pandangan dari diplomat, akademisi, dan pembuat kebijakan dipertemukan.

Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh seperti Yasser Hassan Farag Elshemy, Ledia Hanifa, dan Anton Aliabbas, yang bersama-sama menggali relevansi nilai-nilai KAA dalam konteks kekinian.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa kebudayaan mampu menjadi ruang dialog yang lebih cair dibandingkan jalur diplomasi formal. Ia membuka peluang bagi pertukaran gagasan, memperkuat rasa saling memahami, serta meredam ketegangan yang kerap muncul dalam hubungan internasional.

Merawat Jejak, Menjaga Masa Depan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memanfaatkan momentum ini untuk mengusulkan kawasan bersejarah di jantung kota, mulai dari Simpang Lima hingga Jalan Asia Afrika, sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Usulan ini tidak hanya bertujuan menjaga warisan fisik, tetapi juga mempertahankan nilai universal Bandung Spirit yang melekat pada kawasan tersebut.

Baca Juga :  Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB

Upaya pelestarian juga diwujudkan melalui peluncuran buku Konferensi Asia Afrika dalam Gambar, yang merekam jejak visual peristiwa 1955 secara kronologis. Selain itu, pameran bertema 71 Tahun KAA menghadirkan dokumentasi sejarah melalui pendekatan kuratorial yang edukatif, mempertemukan generasi masa kini dengan narasi masa lalu.

Kehadiran para duta besar dari negara-negara peserta KAA, mulai dari Sudan, Kamboja, hingga Yaman, semakin memperkuat makna internasional dari peringatan ini. Mereka bukan hanya tamu diplomatik, tetapi simbol keberlanjutan hubungan yang telah terjalin sejak tujuh dekade silam.

Pada akhirnya, perayaan ini menegaskan satu hal: bahwa kebudayaan adalah fondasi yang mampu melampaui batas-batas geopolitik. Ia menjadi ruang bersama yang memungkinkan dialog, membangun kepercayaan, dan menjaga perdamaian.

Dari Bandung, pesan itu kembali digaungkan, bahwa dunia yang damai tidak hanya dibangun melalui kekuatan, tetapi juga melalui pemahaman dan penghormatan terhadap identitas setiap bangsa. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: kemenbud.go.id

Berita Terkait

Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional
Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB
Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya
Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB
Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menjaga Ruh Bayan di Tengah Arus Modernitas
Dari Indonesiana ke IndonesiaRaya: Menata Ulang Ekosistem Pendanaan Kebudayaan
Menjaga Arah, Mempercepat Langkah: Pelantikan Pejabat Kebudayaan di Tengah Tuntutan Zaman
Karang Taliwang: Jejak Sejarah, Aroma Kuliner, dan Ikhtiar Menjadi Museum Desa

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 10:28 WITA

Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Kamis, 23 April 2026 - 09:51 WITA

Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Selasa, 21 April 2026 - 20:15 WITA

Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB

Senin, 13 April 2026 - 13:15 WITA

Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya

Jumat, 10 April 2026 - 19:32 WITA

Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA