CERAKEN.ID — Perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika yang digelar di Hotel Savoy Homann pada 19 April 2026 bukan sekadar peringatan historis, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat solidaritas global yang pernah lahir dari Kota Bandung.
Mengusung tema “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia,” kegiatan ini menegaskan bahwa kebudayaan tetap relevan sebagai instrumen diplomasi di tengah dunia yang kian terfragmentasi.
Dalam lanskap global yang diwarnai konflik dan ketidakpastian, semangat Bandung menemukan urgensinya kembali. Apa yang dahulu dirumuskan sebagai Dasasila Bandung kini menjadi refleksi penting untuk menjawab tantangan zaman, ketika hubungan antarnegara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kepercayaan dan saling pengertian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bandung Spirit di Tengah Dunia yang Rawan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pidato kebudayaannya menyoroti kondisi global yang tengah berada dalam fase uncertain world dan trust erosion. Fenomena ini tampak dari meningkatnya rivalitas geopolitik, konflik bersenjata, hingga perlombaan persenjataan yang berimplikasi luas terhadap stabilitas dunia.
Di tengah situasi tersebut, ancaman terhadap warisan budaya menjadi persoalan serius. Situs bersejarah rusak akibat perang, identitas budaya tergerus, dan jejak peradaban manusia berpotensi hilang. Dalam konteks ini, Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga perdamaian.
“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan,” tegasnya. Pernyataan ini menempatkan budaya bukan sekadar ekspresi, tetapi sebagai fondasi moral yang menjaga martabat dan identitas suatu bangsa di tengah arus globalisasi.
Diplomasi Budaya sebagai Jalan Tengah
Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia menegaskan posisinya untuk tetap berada pada jalur non-blok, sekaligus aktif membangun kerja sama global yang inklusif. Prinsip-prinsip dalam Piagam PBB menjadi rujukan penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.
Pendekatan diplomasi budaya menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif. Melalui dialog kebudayaan bertajuk Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan, berbagai pandangan dari diplomat, akademisi, dan pembuat kebijakan dipertemukan.
Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh seperti Yasser Hassan Farag Elshemy, Ledia Hanifa, dan Anton Aliabbas, yang bersama-sama menggali relevansi nilai-nilai KAA dalam konteks kekinian.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa kebudayaan mampu menjadi ruang dialog yang lebih cair dibandingkan jalur diplomasi formal. Ia membuka peluang bagi pertukaran gagasan, memperkuat rasa saling memahami, serta meredam ketegangan yang kerap muncul dalam hubungan internasional.
Merawat Jejak, Menjaga Masa Depan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memanfaatkan momentum ini untuk mengusulkan kawasan bersejarah di jantung kota, mulai dari Simpang Lima hingga Jalan Asia Afrika, sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Usulan ini tidak hanya bertujuan menjaga warisan fisik, tetapi juga mempertahankan nilai universal Bandung Spirit yang melekat pada kawasan tersebut.
Upaya pelestarian juga diwujudkan melalui peluncuran buku Konferensi Asia Afrika dalam Gambar, yang merekam jejak visual peristiwa 1955 secara kronologis. Selain itu, pameran bertema 71 Tahun KAA menghadirkan dokumentasi sejarah melalui pendekatan kuratorial yang edukatif, mempertemukan generasi masa kini dengan narasi masa lalu.
Kehadiran para duta besar dari negara-negara peserta KAA, mulai dari Sudan, Kamboja, hingga Yaman, semakin memperkuat makna internasional dari peringatan ini. Mereka bukan hanya tamu diplomatik, tetapi simbol keberlanjutan hubungan yang telah terjalin sejak tujuh dekade silam.
Pada akhirnya, perayaan ini menegaskan satu hal: bahwa kebudayaan adalah fondasi yang mampu melampaui batas-batas geopolitik. Ia menjadi ruang bersama yang memungkinkan dialog, membangun kepercayaan, dan menjaga perdamaian.
Dari Bandung, pesan itu kembali digaungkan, bahwa dunia yang damai tidak hanya dibangun melalui kekuatan, tetapi juga melalui pemahaman dan penghormatan terhadap identitas setiap bangsa. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: kemenbud.go.id


























































