CERAKEN.ID — Di tengah denyut urbanisasi Kota Mataram, Karang Taliwang berdiri sebagai ruang ingatan yang hidup. Sebuah kelurahan di Kecamatan Cakranegara yang tidak hanya menyimpan jejak sejarah panjang, tetapi juga merawat identitas melalui tradisi kuliner dan kohesi sosial masyarakatnya.
Sejarah Karang Taliwang berakar pada dinamika politik kawasan Nusantara abad ke-16. Wilayah ini dipercaya terbentuk dari pemukiman pasukan Kerajaan Taliwang yang berasal dari Sumbawa Barat.
Mereka dikirim untuk membantu Kerajaan Selaparang menghadapi ekspansi kekuasaan Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Karangasem dari Bali. Selepas konflik, sebagian pasukan itu memilih menetap, membangun komunitas, dan mewariskan identitas yang terus hidup hingga kini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nama “Karang Taliwang” sendiri menjadi penanda asal-usul tersebut, suatu rujukan langsung pada Taliwang di Sumbawa Barat, yang kemudian bertransformasi menjadi ruang hidup masyarakat multietnis.
Di sini, etnis Sasak, Bali, dan Sumbawa berbaur, membentuk lanskap sosial yang khas sekaligus memperlihatkan daya lentur budaya lokal dalam merespons sejarah panjang migrasi dan perjumpaan.
Namun, Karang Taliwang tidak hanya dikenang melalui narasi sejarah. Ia juga dikenal luas sebagai sentra kuliner legendaris: Ayam Taliwang.

Hidangan ini bukan sekadar sajian, melainkan simbol pertemuan budaya. Berawal dari olahan ayam pelalah khas Sasak yang pedas dan kaya rempah, resep ini berkembang dan konon menjadi favorit kalangan bangsawan, hingga akhirnya menjelma menjadi ikon kuliner Lombok yang mendunia.
Aroma ayam bakar yang menggoda dari sudut-sudut kampung seakan menjadi pengikat memori kolektif warga. Di balik dapur-dapur sederhana, tersimpan narasi lintas generasi tentang adaptasi, kreativitas, dan ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Karang Taliwang, dengan demikian, bukan hanya kampung kuliner, tetapi juga ruang produksi identitas.
Upaya merawat dan mengangkat potensi tersebut kini memasuki babak baru. Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Ahmad Nuralam, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan kerja ke Karang Taliwang pada akhir Maret 2026.
Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat, muncul gagasan strategis: menjadikan Karang Taliwang sebagai Museum Desa.
“Kami bertemu dengan para tokoh masyarakat terkait usulan kami agar Karang Taliwang membuat Museum Desa,” ujar Nuralam saat dihubungi ceraken.id, Rabu (1/4/2026).
Gagasan tersebut tidak muncul tanpa dasar. Menurut Nuralam, Karang Taliwang memiliki prasyarat penting: sejarah yang kuat, kemampuan kewirausahaan masyarakat yang sudah terbentuk, serta kohesi sosial yang masih terjaga. Modal sosial dan kultural ini menjadi fondasi utama dalam pengembangan museum berbasis komunitas.

Kesepakatan pun tercapai. Masyarakat bersama pihak museum sepakat membentuk tim ad hoc untuk merumuskan langkah konkret, mulai dari pemetaan potensi, identifikasi kebutuhan, hingga pembagian peran antar-pihak. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan budaya tidak lagi bersifat top-down, melainkan tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat.
Lebih jauh, program Museum Desa ini selaras dengan visi pembangunan daerah “NTB Makmur Mendunia”, yang mendorong Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi pariwisata berkelas internasional. Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi semata mengandalkan panorama alam, tetapi juga pengalaman budaya yang otentik.
“Wisatawan global kini mencari pengalaman budaya yang unik dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal,” jelas Nuralam. Pernyataan ini menegaskan pergeseran paradigma pariwisata dari sekadar konsumsi visual menjadi pengalaman imersif.
Di sinilah Museum Desa menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar ruang pamer benda, melainkan medium narasi; menghidupkan kembali sejarah, tradisi, dan praktik keseharian masyarakat sebagai daya tarik wisata sekaligus instrumen penguatan identitas lokal.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa desa yang aktif mengembangkan museum desa mampu menggerakkan ekonomi kreatif. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci, baik dalam pengelolaan, kurasi konten, maupun pengembangan produk turunan seperti kuliner, kerajinan, dan pertunjukan budaya.
Karang Taliwang kini berada di persimpangan penting: antara menjaga warisan dan merancang masa depan. Dari jejak pasukan abad ke-16 hingga geliat dapur-dapur ayam bakar, kampung ini menyimpan potensi menjadi model pengembangan desa berbasis sejarah dan budaya.
Jika upaya ini berhasil, Karang Taliwang tidak hanya akan dikenal sebagai kampung Ayam Taliwang, tetapi juga sebagai ruang belajar; di mana sejarah, budaya, dan ekonomi bertemu dalam satu lanskap yang hidup dan berkelanjutan.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































