Karang Taliwang: Jejak Sejarah, Aroma Kuliner, dan Ikhtiar Menjadi Museum Desa

Rabu, 1 April 2026 - 13:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karang Taliwang bukan hanya kampung kuliner, tetapi juga ruang produksi identitas (Foto: museum ntb/ceraken.id)

Karang Taliwang bukan hanya kampung kuliner, tetapi juga ruang produksi identitas (Foto: museum ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah denyut urbanisasi Kota Mataram, Karang Taliwang berdiri sebagai ruang ingatan yang hidup. Sebuah kelurahan di Kecamatan Cakranegara yang tidak hanya menyimpan jejak sejarah panjang, tetapi juga merawat identitas melalui tradisi kuliner dan kohesi sosial masyarakatnya.

Sejarah Karang Taliwang berakar pada dinamika politik kawasan Nusantara abad ke-16. Wilayah ini dipercaya terbentuk dari pemukiman pasukan Kerajaan Taliwang yang berasal dari Sumbawa Barat.

Mereka dikirim untuk membantu Kerajaan Selaparang menghadapi ekspansi kekuasaan Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Karangasem dari Bali. Selepas konflik, sebagian pasukan itu memilih menetap, membangun komunitas, dan mewariskan identitas yang terus hidup hingga kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nama “Karang Taliwang” sendiri menjadi penanda asal-usul tersebut, suatu rujukan langsung pada Taliwang di Sumbawa Barat, yang kemudian bertransformasi menjadi ruang hidup masyarakat multietnis.

Di sini, etnis Sasak, Bali, dan Sumbawa berbaur, membentuk lanskap sosial yang khas sekaligus memperlihatkan daya lentur budaya lokal dalam merespons sejarah panjang migrasi dan perjumpaan.

Namun, Karang Taliwang tidak hanya dikenang melalui narasi sejarah. Ia juga dikenal luas sebagai sentra kuliner legendaris: Ayam Taliwang.

Menurut Ahmad Nuralam, Karang Taliwang memiliki prasyarat penting: sejarah yang kuat, kemampuan kewirausahaan masyarakat yang sudah terbentuk, serta kohesi sosial yang masih terjaga (Foto: museum ntb/ceraken.id)

Hidangan ini bukan sekadar sajian, melainkan simbol pertemuan budaya. Berawal dari olahan ayam pelalah khas Sasak yang pedas dan kaya rempah, resep ini berkembang dan konon menjadi favorit kalangan bangsawan, hingga akhirnya menjelma menjadi ikon kuliner Lombok yang mendunia.

Baca Juga :  Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas

Aroma ayam bakar yang menggoda dari sudut-sudut kampung seakan menjadi pengikat memori kolektif warga. Di balik dapur-dapur sederhana, tersimpan narasi lintas generasi tentang adaptasi, kreativitas, dan ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Karang Taliwang, dengan demikian, bukan hanya kampung kuliner, tetapi juga ruang produksi identitas.

Upaya merawat dan mengangkat potensi tersebut kini memasuki babak baru. Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Ahmad Nuralam, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan kerja ke Karang Taliwang pada akhir Maret 2026.

Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat, muncul gagasan strategis: menjadikan Karang Taliwang sebagai Museum Desa.

“Kami bertemu dengan para tokoh masyarakat terkait usulan kami agar Karang Taliwang membuat Museum Desa,” ujar Nuralam saat dihubungi ceraken.id, Rabu (1/4/2026).

Gagasan tersebut tidak muncul tanpa dasar. Menurut Nuralam, Karang Taliwang memiliki prasyarat penting: sejarah yang kuat, kemampuan kewirausahaan masyarakat yang sudah terbentuk, serta kohesi sosial yang masih terjaga. Modal sosial dan kultural ini menjadi fondasi utama dalam pengembangan museum berbasis komunitas.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan budaya tidak lagi bersifat top-down, melainkan tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat (Foto: museum ntb/ceraken.id)

Kesepakatan pun tercapai. Masyarakat bersama pihak museum sepakat membentuk tim ad hoc untuk merumuskan langkah konkret, mulai dari pemetaan potensi, identifikasi kebutuhan, hingga pembagian peran antar-pihak. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan budaya tidak lagi bersifat top-down, melainkan tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat.

Lebih jauh, program Museum Desa ini selaras dengan visi pembangunan daerah “NTB Makmur Mendunia”, yang mendorong Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi pariwisata berkelas internasional. Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi semata mengandalkan panorama alam, tetapi juga pengalaman budaya yang otentik.

Baca Juga :  Tentang Igelan Jaran Endut

“Wisatawan global kini mencari pengalaman budaya yang unik dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal,” jelas Nuralam. Pernyataan ini menegaskan pergeseran paradigma pariwisata dari sekadar konsumsi visual menjadi pengalaman imersif.

Di sinilah Museum Desa menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar ruang pamer benda, melainkan medium narasi; menghidupkan kembali sejarah, tradisi, dan praktik keseharian masyarakat sebagai daya tarik wisata sekaligus instrumen penguatan identitas lokal.

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa desa yang aktif mengembangkan museum desa mampu menggerakkan ekonomi kreatif. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci, baik dalam pengelolaan, kurasi konten, maupun pengembangan produk turunan seperti kuliner, kerajinan, dan pertunjukan budaya.

Karang Taliwang kini berada di persimpangan penting: antara menjaga warisan dan merancang masa depan. Dari jejak pasukan abad ke-16 hingga geliat dapur-dapur ayam bakar, kampung ini menyimpan potensi menjadi model pengembangan desa berbasis sejarah dan budaya.

Jika upaya ini berhasil, Karang Taliwang tidak hanya akan dikenal sebagai kampung Ayam Taliwang, tetapi juga sebagai ruang belajar; di mana sejarah, budaya, dan ekonomi bertemu dalam satu lanskap yang hidup dan berkelanjutan.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:36 WITA

Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga

Senin, 8 Juni 2026 - 17:36 WITA

Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:44 WITA

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WITA

Tentang Igelan Jaran Endut

Berita Terbaru

Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi sejatinya memiliki akar yang sama dengan ajaran moral dan spiritual yang diajarkan agama (foto: ppid.mataramkota.go.id / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Hijrah, Integritas, dan Ikhtiar Membangun Bangsa

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:37 WITA

Kliping yang mulai memudar menjadi pengingat, keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:34 WITA

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:28 WITA