Tentang Igelan Jaran Endut

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Latihan Igelan Jaran Endut. Masyarakat Endut tetap memegang teguh semangat keberanian dan kesiapsiagaan dalam mempertahankan harga diri komunitasnya (Foto: ist    / ceraken.id)

Latihan Igelan Jaran Endut. Masyarakat Endut tetap memegang teguh semangat keberanian dan kesiapsiagaan dalam mempertahankan harga diri komunitasnya (Foto: ist / ceraken.id)

Catatan Ahmad Saleh Tabibuddin

CERAKEN.ID — Igelan Jaran Endut merupakan kesenian tradisi masyarakat Dusun Endut, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, yang memadukan unsur teater dan tari dalam bentuk pertunjukannya.

Kesenian ini lahir dari ingatan kolektif masyarakat tentang perjalanan panjang leluhur mereka dalam mencari ruang hidup yang merdeka, bermartabat, dan terbebas dari tekanan maupun keterjajahan.

Melalui gerak tari, dialog simbolik, irama musik tradisi, serta adegan teatrikal, Igelan Jaran Endut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga medium pewarisan nilai sejarah, keberanian, dan keteguhan hidup masyarakat Endut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengembaraan Panjang Menuju Tanah Harapan

Kisah dalam Igelan Jaran Endut berpusat pada perjalanan seorang Datu atau pemimpin bersama pengawal, keluarga, dan masyarakatnya meninggalkan wilayah lama yang dipenuhi tekanan dan ketidakadilan.

Mereka menempuh perjalanan sangat jauh menuju tempat yang belum diketahui ujungnya, sebuah dunia antah berantah yang hanya dipandu oleh keyakinan untuk menemukan kehidupan yang lebih layak.

Perjalanan itu digambarkan begitu panjang, melelahkan, dan penuh ketidakpastian. Dalam cerita rakyat masyarakat Endut dikisahkan seekor ayam yang mereka bawa selama perjalanan bahkan sempat bertelur di dalam “kekise” atau bakul tempat membawanya.

Baca Juga :  “Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang

Kisah simbolik ini menjadi penanda betapa jauhnya perjalanan yang mereka tempuh demi mempertahankan kehormatan dan masa depan komunitasnya.

Di tengah perjalanan yang penuh keputusasaan itu, sang Datu akhirnya mengucapkan sebuah tekad yang kemudian diwariskan secara turun-temurun. Ia berkata bahwa di mana jaran atau kuda yang mereka tunggangi berhenti dan tak mau berjalan lagi, di situlah mereka akan menetap dan membangun kehidupan baru.

Ucapan itu lahir dari keadaan yang sangat sulit, ketika rombongan telah kehabisan arah, tenaga, dan harapan. Namun, justru dari titik paling getir itulah tumbuh keyakinan baru.

Hingga akhirnya, rombongan tersebut tiba di sebuah tempat yang sekarang dikenal sebagai Dusun Endut, tempat di mana kuda mereka berhenti. Dari situlah kehidupan baru dimulai.

Nama “Endut” atau “Endot” sendiri dalam bahasa Sasak berarti diam atau menetap. Nama itu menjadi simbol berakhirnya pengembaraan panjang, sekaligus penanda kemenangan atas penderitaan dan keterasingan yang mereka alami selama perjalanan.

Baca Juga :  Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
Seni sebagai Ingatan Kolektif dan Keteguhan Martabat

Akan tetapi, menetap bukan berarti menyerah. Masyarakat Endut tetap memegang teguh semangat keberanian dan kesiapsiagaan dalam mempertahankan harga diri komunitasnya.

Semangat itu tercermin dalam ungkapan Sasak: “Temayong Takak Opek, Ite Along Side Bek”, yang secara makna menggambarkan kesiapan tempur menghadapi siapa pun lawannya.

Ungkapan tersebut bukan sekadar seruan keberanian, melainkan simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga martabat, kehormatan, dan hak hidup mereka.

Melalui Igelan Jaran Endut, masyarakat Dusun Endut mewariskan pesan tentang pentingnya solidaritas, keberanian menghadapi tekanan hidup, kesetiaan terhadap komunitas, serta keyakinan bahwa perjuangan tidak boleh berhenti meski berada dalam keadaan paling sulit sekalipun.

Kesenian ini menjadi cermin bagaimana leluhur masyarakat Endut membangun peradaban melalui semangat pantang menyerah, sekaligus menjadikan seni sebagai ruang untuk menjaga ingatan kolektif dan identitas budaya mereka hingga hari ini. (*)

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang
MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara
Sekardiu: Dari Mitologi Wayang ke Kain Batik, Jejak Imajinasi yang Menjadi Identitas

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:41 WITA

Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:01 WITA

Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:01 WITA

Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional

Berita Terbaru

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027(Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:37 WITA

Masa depan pelayanan publik Indonesia sedang bergerak menuju sistem yang lebih terkoneksi (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:46 WITA

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

CERITA PENDEK

Hari Kemenangan Mailan

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA