CERAKEN.ID — Di tengah gemuruh festival musik dan budaya populer yang semakin mendominasi ruang publik, panggung teater pelajar di Nusa Tenggara Barat justru memperlihatkan denyut yang tak pernah benar-benar padam.
Di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, puluhan pelajar dari berbagai kota dan kabupaten berkumpul bukan sekadar untuk berlomba, melainkan merayakan keberanian menyuarakan kegelisahan, imajinasi, dan pencarian jati diri melalui seni pertunjukan.
Pekan Teater Pelajar (PTP) 5 Se-NTB tahun 2026 yang diselenggarakan UKM Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram menjadi ruang temu bagi generasi muda yang percaya bahwa teater bukan hanya hiburan, tetapi juga cara membaca kehidupan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengusung tema “Sajak Di Balik Tirai”, festival ini menghadirkan monolog dan drama sebagai medium refleksi sosial, budaya, hingga persoalan kemanusiaan.
Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan Tahunan
Ketua Umum Teater Sasentra, Fiqi Irawan HB, menyebut bahwa PTP lahir dari kegelisahan sederhana: mengapa teater kurang diminati dibandingkan bentuk hiburan lain.
“Mamiq (Lalu Suryadi Mulawarman) banyak membantu dan mensupport full kegiatan Pekan Teater Pelajar Se-NTB 2026. Begitu pula di sini bisa terlihat bentuk kerja sama antara kampus dengan Kantor Taman Budaya,” ujarnya.
Menurut Fiqi, semula PTP hanya sebuah percobaan kecil untuk membuka ruang bagi pelajar dan mahasiswa agar lebih dekat dengan teater. Namun, respons yang terus tumbuh membuat kegiatan ini akhirnya ditetapkan sebagai agenda tahunan Sasentra.
“Bagi Sasentra, Pekan Teater Pelajar ini bukan sekadar kegiatan rutin. Awalnya kami hanya mencoba, kenapa sih teater itu tidak semenarik yang lain bagi pelajar dan mahasiswa. Oleh karena itu kami memberanikan diri membuat event ini,” katanya.
Kini, atmosfer teater di NTB menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sebanyak 25 sekolah ikut ambil bagian dalam dua cabang lomba: drama dan monolog. Peserta datang dari berbagai daerah di Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, memperlihatkan bahwa seni pertunjukan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Panggung bagi Generasi yang Sedang Mencari Suara
Tema “Sajak Di Balik Tirai” menjadi metafora penting dalam festival ini. Sajak dipahami sebagai suara hati, sementara tirai adalah batas antara realitas dan panggung, tempat manusia mengekspresikan dirinya secara paling jujur.
Dalam setiap pertunjukan, pelajar tidak hanya memainkan tokoh, tetapi juga menafsirkan ulang pengalaman hidup mereka sendiri: tentang cinta, luka, harapan, politik, hingga kegelisahan sebagai generasi muda. Dialog menjadi puisi yang hidup, sementara gerak tubuh menjelma bahasa yang kadang lebih kuat daripada kata-kata.
Festival ini juga menjadi ruang pembentukan karakter. Para peserta belajar membangun kepercayaan diri, bekerja sama dalam kelompok, sekaligus memahami potensi diri melalui seni peran.
Teater, dalam konteks ini, bukan hanya soal tampil di atas panggung, melainkan proses mendidik sensitivitas sosial dan intelektual.
Tidak mengherankan bila minat peserta terus meningkat. Pada lomba monolog, tercatat 17 kelompok pelajar ikut ambil bagian. Sementara lomba drama diikuti 14 kelompok dari SMA, SMK, dan MA sederajat di NTB.
Kehadiran sanggar-sanggar seperti Teater Bintang, Teater Mata, Teater Bengkel Sastra, hingga Pustaka Raga menjadi penanda bahwa regenerasi seni pertunjukan di daerah ini sedang berlangsung.
Antara Kampus, Taman Budaya, dan Ruang Ekspresi Anak Muda
Pelaksanaan PTP 5 Se-NTB memperlihatkan kolaborasi yang kuat antara kampus dan lembaga kebudayaan daerah. Gedung Taman Budaya NTB bukan hanya menjadi lokasi pertunjukan, tetapi juga ruang legitimasi bahwa karya pelajar layak mendapat panggung yang serius.
Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menegaskan pentingnya menghadirkan ruang ekspresi bagi generasi muda.
“Di sinilah Taman Budaya dan Pemerintah itu ada dan berada, karena hal ini dirasakan betul oleh mereka. Maka dari itu, kami dari Taman Budaya selalu mendorong dan menyemangati pihak sekolah maupun perguruan tinggi untuk selalu berkarya dan mementaskannya di Taman Budaya NTB,” ujarnya.

Sementara itu, pada pembukaan festival Senin (18/5), Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, sebagaimana diungkap Oyes -sapaan Fiqi- mengingatkan bahwa teater masih menghadapi tantangan besar dalam menarik perhatian publik.
“Event-event seperti ini sering kali tidak terlihat dan bahkan teater itu tidak semenarik festival musik. Karena ketika event musik terjadi di NTB, peminatnya lebih banyak,” katanya.
Namun justru dari tantangan itulah lahir semangat untuk terus membangun ekosistem seni pertunjukan yang sehat dan berkelanjutan.
Menjaga Api Teater dari Generasi ke Generasi
Teater Sasentra sendiri merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Mataram yang berdiri sejak tahun 2000. Selama lebih dari dua dekade, komunitas ini menjadi salah satu ruang penting pengembangan seni pertunjukan di lingkungan kampus maupun pelajar.
Di PTP 5 tahun ini, tiga juri muda dengan latar akademik dipercaya menjadi penilai: Taufik Mawardi, Ahmad Saleh Tabibuddin, dan Wahyu Kurnia. Kehadiran mereka memperlihatkan upaya menghadirkan perspektif segar dalam membaca karya-karya teater pelajar.
“Saya pikir tiga juri ini sangat cocok berkolaborasi di PTP 5 yang sedang berjalan,” kata Fiqi.
Pekan Teater Pelajar memasuki hari kelima pada Jumat, 22 Mei 2026, sebelum mencapai puncaknya pada malam penganugerahan Sabtu, 23 Mei 2026. Namun lebih dari sekadar seremoni penghargaan, festival ini sebenarnya sedang menyalakan sesuatu yang lebih besar: keyakinan bahwa seni pertunjukan masih memiliki masa depan di NTB.
Di balik tirai panggung itu, para pelajar sedang belajar menyusun keberanian. Mereka mungkin belum menjadi aktor besar, tetapi dari ruang-ruang latihan sederhana dan dialog-dialog yang diucapkan dengan gugup, tumbuh kesadaran baru bahwa teater adalah cara manusia memahami dirinya sendiri.
Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan sejati seni pertunjukan berada: tidak selalu ramai, tidak selalu gemerlap, tetapi terus hidup karena ada generasi muda yang bersedia menjaga apinya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































