Oleh : Sigit Susanto*
CERAKEN.ID — Deburan ombak di depan kami duduk di sebuah Cafe Alberto di Senggigi membawa ke dunia fantasi. Kami mulai menyantap hidangan lezat yang hangat dari dapur.
Aku memesan nasi campur dengan sayur keterung goreng. Seperti biasa saat mulai makan, aku dan Claudia saling bertukar makanan, barang sesendok.
“Wah, ini lezat sekali,” responnya seketika.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku tahu dia suka oseng-oseng buah keterung. Sebab kalau kami dari Swiss pergi ke kota Konstanz, di tepi Bodensee, danau Konstanz di Jerman, kami sering mampir di restoran Turki. Ia pasti memesan makanan terung separuh lonjoran itu yang bersisi aneka oseng-oseng sayur; paprika, zugeti, dan wortel.
Hari itu pupus, bersamaan sunset yang melekat di permukaan pantai Senggigi. Sore padam dan kami pulang dengan sepeda motor.
Pada senja yang lain, kami mampir lagi ke Café Alberto di tikungan menanjak Batu Bolong. Dari rumah, Claudia sudah ancang-ancang akan pesan oseng-oseng keterung, sedang aku tetap setia dengan nasi campur.
Ketika keterung sudah berada di depan kami, lagi-lagi ia acungkan jempol “Enak sekali. Pintar yang masak!”
Perlahan makanan sudah bergeser dari piring ke perut dan aku membuka laptop untuk melanjutkan kerja penerjemahan sastra dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia. Aku sedang menerjemahkan Surat-surat Franz Kafka kepada Milena (Franz Kafka, Briefe an Milena), pacarnya.
Ya, begitulah. Cara aku menerjemahkan, pasti keliling sampul sampai punggung buku aku lapisi isolasi. Tentu saja bertujuan, agar tidak cepat robek. Sebab buku akan keluar masuk ransel puluhan atau ratusan kali. Pengalamanku, kalau buku tak diisolasi, pasti sampul depan atau belakang akan cepat sobek.
Tempat menerjemahkan tidak di meja dengan ruangan sunyi. Tidak. Tetapi di luar rumah, dari kafe ke kafe, juga di pantai, sembari menunggu istriku berenang.
Buatku menerjemahkan karya-karya Franz Kafka serasa sedang berpuisi. Selain prosa-prosa liris khas Kafka, sering menemukan tikungan tak terduga dari alam pikiran Kafka.
Sapardi Djoko Damono sebut, menerjemahkan artinya membuat karya sendiri, bukan lagi karya pengarangnya.
Dari belakang weiter yang membawakan makanan ke kami bilang kepada Claudia, “Besok hari Sabtu saya minta day-off,” istilah dalam pariwisata untuk menyebut libur.
“Akan ke mana?” tanya Claudia.
“Saya dari Lombok Utara, akan pulang ke Lombok Utara.”
“Dengan anak dan istri?” tanyanya
“Oh, tidak. Karena anak masuk sekolah, tentu istri di rumah jaga anak dan saya pulang sendirian.”
“Ada acara apa di Lombok Utara?”
“Menengok orang tua di kuburan,” jawab weiter itu serius.
“Oh, salam ya untuk orang tua,” pesan Claudia menutup percakapan.
“Iya, besok saya sampaikan.”
Percakapan antara Claudia dan weiter itu aku dengarkan lamat-lamat. Aku sendiri masih suntuk dengan diksi-diksi Kafka yang menghujani Milena. Aku baru tahu, ternyata Kafka bisa berbahasa Ceko.
Kafka menceritakan kepada Milena, saat ia batuk-batuk dan ludahnya bercampur darah, pembantu di rumah bilang dalam bahasa Ceko, “Pane doktore, s Vàmi to dlouho nepotrvà”1 (Tuan Doktor, Hidup Anda tak lama lagi).
Kafka sesungguhnya sedih dengan ucapan spontan tersebut, tetapi ia sadari bahwa itu sebuah kejujuran.
Kegentingan menemukan barisan kata-kata Kafka itu, membubarkan konsentrasiku mendengarkan percakapan antara Claudia dan weiter.
Tiga hari berselang, kami makan di Café Alberto lagi. Seperti biasa semua weiter dan pegawai di resepsion sangat ramah. Tamu baru sampai di depan kolam renang atau depan resepsion sudah ditanya, “Apa kabar?” dengan senyum gemulai.
“Kabar baik, bagaimana kalian?” tanya balik kami.
Ketika kami masih berdiri, weiter yang waktu lalu pulang ke Lombok Utara datang dari belakang dan Claudia menoleh, “Ah, sudah datang lagi. Bagaimana ayah dan ibu?”
“Ayah dan ibu baik-baik di kuburan,” jawabnya.
“Kok di kuburan?” tanya pegawai perempuan berbaju merah penasaran.
Nah, sampai di sini aku harus ikut turun tangan. Aku masih ingat percakapan lamat-lamat lalu.
“Begini, waktu lalu ia bilang akan pulang ke Lombok Utara menengok orang tua di kuburan. Claudia langsung merespon, salam untuk orang tua,” terangku.
“Claudia, kamu tahu artinya kuburan?” tanyaku langsung.
“Tidak.”
Gedobraaak! Semua curiga dan tersenyum.
“Jadi waktu dia bilang akan menengok orang tua ke kuburan, setahumu apa?” cecarku.
“Tempat, seperti nama desa,” jawabnya polos.
“Bukan. Kuburan artinya Friedhof dalam bahasa Jermannya,” terangku terpaksa dicampur bahasa Jerman.
“Friedhof aku tahu, dalam bahasa Indonesia itu makam,” sanggah Claudia.
Weiter yang masih berdiri di sebelah kami ikut urun menjelaskan lagi, “Kalau makam itu untuk orang penting, seperti pejabat. Tokoh, seperti makam pahlawan, untuk para pahlawan. Kalau untuk orang biasa seperti saya, ya sebut kuburan,”
“Pahlawan itu bahasa Jermannya Held,” susulku.
“Tapi,” debat Claudia lagi, “di Jawa aku sering membaca di desa itu makam, juga bukan untuk orang-orang penting.”
Nah, di sini aku harus menjabarkan lagi, “Makam itu sinonimnya kuburan. Secara resmi dalam percakapan bahasa Indonesia memang disebut makam, tetapi dalam sehari-hari orang lebih cenderung menyebut kuburan. Keduanya sama benar.”
“Oh, bercanda dia, akan mengunjungi orang tua di kuburan,” tambah pegawai di resepsion.
Tawa pecah lagi berlelehan hingga hinggap di meja, kursi dan menggantung di lampu, bahkan di permukaan air kolam renang.
Hikmahnya, pelajaran baru bagi Claudia dengan kata kuburan. Setidaknya ia mulai mengantongi kata makam dan kuburan dalam sekali tarikan makna.
Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, orang Indonesia sering menyusupkan joke-joke kocak secara spontan. Hidup sudah terlalu tegang dan serius, perlu terapi spontan dari joke-joke seperti itu.
Tak ayal, wajah-wajah orang Indonesia lebih banyak tersirat harmonis, damai, tenang, dan bersahaja. Orang Eropa sering sulit menebak usia orang Asia, dikiranya masih muda, ternyata sudah berusia. Kantong boleh kosong, tetapi local wisdom memagari.
Di Bali, aku sering dengar ada joke, bila teman sudah lama tak saling bertemu, teman itu bilang, “Aku kira kamu sudah diaben.”(*)
*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.
Editor : ceraken editor































































