Oleh : Sigit Susanto
CERAKEN.ID — Dengan jalan kaki dari rumahku selama 20 menit, sampailah di Kios Galvanik. Aku lihat ada kedai Piza, aku tanya pegawainya, di mana Kulturzentrum Galvanik? Lelaki yang sibuk memegang piza itu mengacungkan ke arah kanan di sebuah kafe.
Aku datang kemari berkat, Panos, teman asal Yunani yang mengirimkan flyer sehari sebelumnya. Tiga Flyer itu tertera Salon Buch, Literarische Treffpunkt. 12 Juni 2026, ab 17.30 Uhr. Bring ein Buch mit. Gemeinsam sprechen wir über Bücher die uns geprägt haben. Mit Maja Iskra, Melinda Nadj Abonji, Tino Schlench Literaturpalast.
Spezialgäste: Melinda Nadj Abonji, Maja Iskra.
Salon Buch semacam ruang kecil untuk membahas buku, pada Jumat, 12 Juni 2026 mulai pukul 17.30. Ada dua tamu istimewa, Melinda Nadj Abonji dan Maja Iskra. Keduanya pengarang diaspora. Melinda Nadj Abonji berasal dari Hongaria tinggal di Swiss dan Maja Iskra, pengarang dari Serbia tinggal di Wina.
Memasuki kafe itu aku sudah lihat ada dua meja panjang, satu meja berisi orang-orang makan piza dan deret meja sebelahnya sudah ada dua perempuan muda. Aku bertanya kepada pegawai di kafe, di mana Salon Buch yang membahas buku? Lelaki di kafe menunjuk ke meja yang sudah ada dua perempuan tadi. Aku duduk dan saling lempar senyum dengan dua perempuan di meja. Perlahan orang-orang berdatangan.
Aku sempat bertanya Panos sebelum datang, buku apa yang akan dibahas? Ia menjawab, informasi dari panitia, Buku Warisan dari orang tua, kakek, nenek atau catatan tulis tangan. Atau boleh membawa buku yang kita sukai.
Sepintas bertanya pada diriku sendiri, buku apa ya? Ah, novelet Metamorfosis (Die Verwandlung) saja. Pertimbangan, novelet ini sudah aku terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan barusan aku mendalang wayang kontemporer dengan lakon Metamorfosis.
Seorang datang bernama Marina, dia menyapaku dan bilang ke temannya, belakangan baru kutahu namanya Anja, sambil menunjuk ke aku, dia yang mendalang wayang Kafka.
Aku agak kaget juga ternyata penonton wayang Kafka, 9 Mei silam ikut di sini.
Di sebelah kiri mulai duduk lelaki Rusia kelahiran Siberia dengan istri dan anak kecil masih pakai dot. Ia mengaku, tidak mau disebut sastrawan (Schrifsteller), lebih suka disebut Author, karena Schrifsteller kedengarannya seperti Günter Grass. Ia juga jurnalis dan menanyakan, apakah karya klasik Rusia masih dibaca anak muda sekarang.
Di deret dekat dinding, duduk sastrawan perempuan asal Hongaria bernama Melinda Nadj Abonji. Di sebelahnya ada teman lelaki. Tak lama Lisa dan Panos, dua teman lama datang duduk di sebelahku.
Aku hitung ada 11 orang dan seorang anak kecil. Aku memesan Ice Teh di kafe belakangku. Orang-orang lain memesan minuman bir dingin, memang cuaca sedang panas.
Sekarang giliran saling berkenalan satu sama lain dengan saling bersalaman. Dan aku berikan buku kumpulan cerpen dan puisi dalam bahasa Jerman berjudul Zugersee (Danau Zug) kepada klub ini.
Tiga buah piza dihidangkan di atas meja. Sembari makan piza, ada suara ting-ting-ting di gelas yang dipukul pelan oleh Marina dengan sendok.
Sontak celotehan senyap. Anja sebagai moderator dari panitia mulai bicara dalam bahasa Jerman, “Selamat datang di acara Salon Buku. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan sastra yang telah diadakan. Kali ini kita akan bicarakan bertema Buku Warisan, bisa buku dari orang tua atau kakek-nenek, atau buku apa saja yang tak terlupakan. Tetapi kita tidak kaku, berbicara berurutan dari mana. Sekarang kamu saja Sigit bicarakan buku barumu itu.”
Anja ini rajin, dia mencatat semua pembicaraan dan juga minta izin foto bersama. Mungkin kelak akan diunggah di websitenya.
Aku perkenalkan namaku Sigit dari Indonesia dan buku ini sebetulnya pernah kubacakan pada Book Fair (Buchmesse) di kota Zug tahun 2009. Uniknya Book Fair ini yang dijual bukan buku baru, tetapi semua buku second hand. Kisah Danau Zug tentang awal tinggal di Swiss ingin memanncing dengan teman-teman Indinesia di danau Zug. Tetapi ternyata syaratnya tidak mudah, harus izin ke kantor perikanan dan tiap akhir tahun laporan ke kantor perikanan, berapa gram ikan yang ditangkap?
Sampai di sini banyak hadirin tertawa. Ada yang nyeletuk, kalau aku kritik Swiss? Kujawab, tidak hanya Swiss, aku pun mengeritik Indonesia. Dalam cerita tersebut aku tulis, di negeriku memancing itu mudah saja, tanpa izin bahkan kapal-kapal besar dari Jepang mencuri ikan di samodra kami.
Cerita dalam bukuku ini juga hasil dari kegiatan Writers Club yang kami pernah adakan.
Tak kusangka, ada yang nyeletuk, agar aku bicarakan tentang Kafka dan wayang Kafka. Dan aku keluarkan buku terjemahanku, Metamorfosis bahasa Indonesia. Buku itu dipinjam hadirin dan berkeliling dari tangan ke tangan. Aku ditanya, bagaimana bisa menyukai Kafka, bukankah itu karya sulit? Kuceritakan berawal mengunjungi makam dan rumah Kafka di Praha selama empat hari. Akhirnya menerjemahkan karya-karyanya dan membuat jalan dan patung Kafka di desa.
Rupanya Kafka di forum kecil itu sangat dihormati. Ketika aku disuruh cerita bagaimana bisa mementaskan wayang Metamorfosis karya Kafka? Marina mengedarkan foto wayang Kafka di HPnya, karena ia menjadi salah satu penontonnya.
Melinda nyeletuk, “Kalau kau memberi nama Jalan Kafka di sini, bisa bermasalah.” Melinda ini menulis beberapa novel dan telah mendapatkan penghargaan sastra tahun 2010 dari Jerman dan Swiss (Deutschen Buchpreis, Schweizer Buchpreis)..
Ceritaku perdana ini menuai tepuk tangan dan berganti orang lain bercerita.
Marina yang duduk di depanku mulai cerita sambil membuka buku tulis catatan dari ibunya. Ia buka buku itu dan baca catatan yang tertera. Ia sebutkan, ibunya seorang pembaca yang tekun. Semua buku yang dibaca, dicatat, baik judul maupun ungkapan-ungkapan indah. Perlahan, hadirin hanyut, karena ia meneteskan air mata. Batinnya mengenang kisah ibunya. Satu buku tulis tebal itu merupakan warisan literasi berharga bagi dia dan keluarganya. Tepuk tangan membuncah menutup cerita mengharukan itu.
Kemudian giliran Durgana bercerita, bahwa orang tuannya merupakan pasangan kutu buku. Saking disiplinnya, setiap buku yang usai dibaca dimasukkan di lemari dan dikunci. Anak-anak seperti dirinya tak boleh mendekat. Dia hanya menyaksikan dari jauh. Lagi-lagi panen tepuk tangan.
Kini giliran Maja, penulis buku berjudul Uppercut itu bercerita, semasa pecah perang saudara di Yugoslavia. Ia berasal dari Serbia. Orang tuanya mengungsi ke Wina, Austria semasa dia masih kecil. Ia hanya mengingat kenangan lamanya. Tepuk tangan membuntuti, usai ia bercerita.
Lisa membawa buku tebal dari sebuah pameran di New York dalam bahasa Inggris berjudul The Velocity of Being. Salah satu bab ada judul For young Readers. Sebuah motivasi seniman tua kepada anak muda.
Terakhir Panos membawa buku bahasa Jerman berjudul Biografi Hidupku (Die Biographie meines Lebens). Buku ini dimaksudkan bisa menceritakan buku tentang buku, tak melulu tentang riwayat manusia. Panos yang melankolis menceritakan dengan sangat membetot emosional.
Sampai di sini cerita berakhir. Bersambung ke tema e-book.
Antara buku dan e-book menjadi sorotan dan ada pendapat memegang fisik buku memang sangat menjadi daya tarik, meskipun tak menutup kemungkinan teknologi baru digital.
Tak terasa waktu melaju dan kami satu persatu mengundurkan diri.
Sebelum berpisah aku membeli buku berjudul Uppercut karya Maja Iskra. Sekalian aku minta tanda tangan dan ditulis di halaman depan,
Für Sigit,
Mit Liebe
Maja Iskra
VI 2026
Zug
Tentu buku ini belum kubaca, karena baru sehari beli. Semoga bisa membuat resensinya. (*)
Editor : ceraken editor



























































