CERAKEN.ID — Rumah Kucing Montong (eRKaem), Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, Selasa sore, 9 Juni 2026, menjadi ruang perjumpaan antara ingatan dan kenyataan. Sekitar pukul 14.19 Wita, Ary Juliyant mengeluarkan selembar kliping koran berusia 14 tahun dari tumpukan arsip yang ia simpan.
Di atas meja tersedia satu poci teh hangat khas, beberapa gelas kecil, serta kopi yang bisa diracik sendiri sesuai selera. Obrolan yang semula membahas Tourgerilya #14 dengan titik singgah kedua di Segara Art Space, Mataram, pada Sabtu (6/6), perlahan bergeser menuju sebuah kisah lama tentang Warung Jack (Warjack), kesenian, dan keteguhan sikap.
Kliping yang berasal dari Lombok Post edisi 25 Agustus 2012 itu memuat tulisan berjudul “Warjack, Cerminan Ketulusan dan Kejujuran Berkesenian”. Bagi Ary, arsip tersebut bukan sekadar dokumentasi masa lalu, melainkan penanda perjalanan sebuah ruang alternatif yang pernah menjadi tempat bertemunya kegelisahan, kreativitas, dan semangat berkesenian yang tumbuh dari bawah.
Dari Obrolan Warung Menjadi Gerakan
Warjack memiliki tempat khusus dalam perjalanan berkesenian Ary Juliyant. Warung sederhana yang kala itu beralas tanah dan berada di sebelah timur Taman Budaya Nusa Tenggara Barat menjadi lokasi berkumpulnya para seniman, musisi, dan pegiat budaya.
Di tempat itulah berbagai percakapan lahir tanpa agenda formal, tanpa struktur organisasi yang kaku, dan tanpa kepentingan proyek.
Dalam kliping tersebut diceritakan bahwa gerakan Warjack berawal dari ketidaksengajaan. Ary bersama sejumlah pelanggan warung kerap berbincang mengenai kegelisahan mereka terhadap dunia kesenian yang dianggap kurang mendapatkan respons dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Dari percakapan santai itu kemudian muncul gagasan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.
Diskusi-diskusi kecil yang sebelumnya telah menjadi tradisi di warung itu akhirnya melahirkan berbagai aktivitas kesenian. Meski sederhana dan spontan, semangat yang tumbuh justru mampu bertahan dan berkembang dari waktu ke waktu.
Ketulusan sebagai Fondasi Berkesenian
Bagi Ary, kekuatan utama Warjack bukan terletak pada fasilitas atau dukungan finansial, melainkan pada nilai-nilai yang melandasi setiap kegiatan yang dilakukan. Ia melihat Warjack sebagai representasi dari praktik berkesenian yang jujur dan lahir dari kebutuhan berekspresi.
“Kegiatan kesenian atau kebudayaan yang ditampilkan di Warjack adalah cerminan ketulusan, kejujuran, dan prosesnya jauh dari niatan proyek yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan tentunya jauh pula dari kesan birokrasi yang merumitkan,” ujar Ary sebagaimana termuat dalam kliping Lombok Post tahun 2012.
Pernyataan itu menunjukkan bagaimana Warjack hadir sebagai ruang alternatif yang tidak bergantung pada mekanisme formal.

Kesenian tumbuh dari relasi antarmanusia, dari pertemuan gagasan, dan dari kesediaan untuk berbagi ruang secara setara. Nilai-nilai itulah yang membuat Warjack dikenang bukan semata sebagai warung, melainkan sebagai simpul kebudayaan.
Melawan Arus, Menjaga Keyakinan
Empat belas tahun setelah tulisan itu terbit, semangat yang tertuang dalam kliping tersebut masih terasa relevan. Ary tetap memegang keyakinan bahwa kesenian tidak harus tunduk pada logika industri yang mengukur keberhasilan melalui popularitas atau keuntungan ekonomi semata.
Dalam wawancara yang dimuat saat itu, Ary bahkan menegaskan bahwa perjuangan di luar arus utama akan terus ia jalani sepanjang hidupnya.
“Ditanya sampai kapan akan terus melawan jalur mainstream industri musik, Ary mengatakan sampai ajal menjemputnya,” demikian kutipan dalam laporan tersebut.
Ia menyadari bahwa gerakan yang dibangunnya bersama kawan-kawan akan selalu berada pada posisi minoritas dan tidak sepopuler industri hiburan. Namun kondisi itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
“Kesenian adalah bagian dari ibadah dan kehidupan, saya selalu bersyukur atas apa yang sudah saya dapat, tidak ada yang belum tercapai,” tuturnya.
Di ruang sederhana Rumah Kucing Montong sore itu, kliping yang mulai memudar tersebut seolah menjadi pengingat bahwa keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar.
Kadang ia tumbuh dari sebuah warung kecil, dari percakapan yang tampak biasa, dan dari orang-orang yang memilih tetap berjalan meski berada jauh dari sorot lampu popularitas.
Warjack mungkin telah menjadi bagian dari sejarah, tetapi semangat yang pernah tumbuh di sana masih terus hidup melalui mereka yang percaya bahwa kesenian adalah jalan hidup yang dijalani dengan tulus dan jujur. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































