Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

- Penulis

Rabu, 26 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Fase serpihan bunyi berubah menjadi struktur, struktur menemukan relasi, dan relasi perlahan membangun karakter (foto: aks / ceraken.id)

Fase serpihan bunyi berubah menjadi struktur, struktur menemukan relasi, dan relasi perlahan membangun karakter (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pada hari kedelapan proses kreatifnya, Tim Eksperimentasi Musik 2026 bentukan Taman Budaya Provinsi NTB kembali menyalakan ruang pencarian. Selasa sore, 25 Agustus 2026, Ruang Musik tidak sekadar menjadi tempat latihan, melainkan laboratorium bunyi tempat tradisi, intuisi, instrumen melodis, dan imajinasi musik modern saling bertemu.

Sedikit demi sedikit, bentuk garapan yang selama beberapa pertemuan sebelumnya masih berupa serpihan gagasan, mulai menemukan struktur, arah, bahkan karakter.

Pertemuan itu dihadiri Ni Wayan Sri Artini, I Nyoman Gde Adimusti TBL, Lalu Prima Wiraputra, I Nyoman Jovi, Hamdi, Akmal, I Komang Tri W., Burhanuddin, Sahiran, dan Peng.

Di antara suara klenang, suling, biola, alat petik, serta keyboard, tim melanjutkan perjalanan untuk menyusun sebuah eksperimen musik yang tidak berhenti pada upaya mempertemukan instrumen tradisional dan modern, tetapi berusaha menemukan bahasa musikalnya sendiri.

Struktur Mulai Terlihat

Pemain suling Lalu Jagat memberi catatan optimistis atas perkembangan latihan hari itu. Menurutnya, sejumlah materi yang telah digarap mulai memperlihatkan bentuk yang semakin terang.

“Menurut “tyang”, latihan eksperimen musik hari ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Materi yang telah digarap, yaitu Pengotak, Pengawak Aik, Pengawak Tanak, dan Pengawak Angin, sudah mulai memperlihatkan struktur dan bentuk garapan yang semakin jelas,” katanya.

Pada bagian Pengotak, muncul tambahan eksplorasi melalui permainan keyboard dan suling di bagian awal sebelum musik masuk ke permainan alat musik klenang. Bagi Lalu Jagat, penambahan tersebut bukan sekadar variasi, tetapi sebuah warna baru yang memberi suasana pembuka lebih kuat sekaligus mempertegas karakter garapan.

Sementara itu, Pengawak Angin mulai menemukan dasar musikalnya. Fondasi yang telah terbentuk menjadi pijakan untuk proses berikutnya: memperhalus bagian-bagian yang ada, mengembangkan kemungkinan bunyi, dan menyatukan setiap unsur agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Selanjutnya, bagian ini tinggal diperhalus, dikembangkan, dan digarap lebih dalam pada latihan berikutnya agar setiap unsur musik dapat menyatu dengan lebih kuat,” ujarnya.

Masih ada satu pekerjaan rumah yang menunggu, yakni Pengawak Api atau Pemotoq Api, yang direncanakan mulai digarap pada latihan malam berikutnya. Bagian ini akan menjadi ruang eksplorasi yang lebih padat karena seluruh instrumen direncanakan ikut bermain.

“Pada bagian Pengawak Api ini, semua alat musik akan ikut bermain sehingga diperlukan eksplorasi, kekompakan, dan pengaturan struktur yang lebih matang,” kata Lalu Jagat.

Baginya, produktivitas latihan hari kedelapan terletak pada semakin tampaknya kerangka besar garapan. Tantangan berikutnya adalah mengembangkan detail dan menyatukan keseluruhan struktur agar eksperimen musik klenang tersebut tumbuh sebagai sebuah karya yang utuh.

Intensitas bunyi perlu distandarkan agar keseluruhan komposisi menjadi lebih nyaman, seimbang, dan nikmat didengarkan (foto: aks / ceraken.id)
Ketika Keyboard Membuka Ambience

Setelah mengikuti dua sesi pertemuan dan mencermati kebutuhan artistik-instrumental tim, Yuga Anggana melihat perlunya keseimbangan baru di dalam komposisi. Ia kemudian mengajak Kharisma Pariasa memainkan keyboard untuk menghadirkan ambience string berikut berbagai efeknya, sementara Yuga sendiri akan lebih fokus pada alat petik.

Baca Juga :  Rock ’n' Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Langkah itu lahir dari kesadaran bahwa sebagian besar instrumen yang digunakan; klenang, suling, dan biola, memiliki karakter melodis. Instrumen-instrumen tersebut sama-sama mampu membentuk melodi, tetapi tidak secara otomatis berfungsi sebagai instrumen pengiring.

“Harus ada bagian tertentu untuk eksplorasi lebih jauh, karena rata-rata instrumen yang digunakan, seperti klenang, suling, dan biola, adalah instrumen melodis yang bisa membuat melodi, bukan instrumen pengiring,” kata Yuga.

Ia mengakui, ketika menggunakan gitar, insting musikalnya cenderung membawa instrumen itu ke fungsi pengiring. Karena itu, kehadiran keyboard dinilai dapat memperkaya tekstur bunyi sekaligus menciptakan keseimbangan baru antara unsur tradisi dan modernitas.

Yuga juga melihat arah perjalanan tim menuju bentuk musik yang lebih dekat dengan ruang dengar publik, dengan karakter yang ia sebut terus meng-update space. Baginya, kemungkinan itu mengarah pada konsep musik kamar, sebuah ruang musikal yang memungkinkan pendengar menyimak detail, tekstur, dan dialog antarinstrumen dengan lebih intim.

“Dengan adanya keyboard, musik bisa menjadi lebih kaya dan lebih seimbang antara tradisi dan modern,” ujarnya.

Ruang eksplorasi, menurut Yuga, kini semakin terbuka. Unsur modern bahkan dapat mulai memberi warna sejak memasuki Pengotak, kemudian berkembang dalam Pengawak Angin hingga Pemotoq Api. Artinya, modernitas tidak harus ditempatkan sebagai lapisan tambahan yang datang belakangan, tetapi dapat tumbuh dari dalam struktur garapan itu sendiri.

Persinggungan Klenang, Cilokaq, dan Ritme Modern

Antusiasme juga datang dari Tonie Moersajid. Ia menilai tim mulai menemukan bentuknya, terutama setelah muncul sejumlah temuan cerdas dalam latihan-latihan sebelumnya.

Salah satu yang mendapat perhatiannya adalah persinggungan nada antara klenang dan cilokaq pada bagian Pengotak. Pertemuan dua karakter musikal itu membuka kemungkinan bahwa eksplorasi tidak hanya berlangsung antara tradisi dan teknologi, tetapi juga di antara berbagai sumber bunyi dan ingatan musikal yang hidup di dalam tradisi itu sendiri.

“Saya sangat antusias karena tim sudah mulai menemukan bentuknya. Ada temuan kecerdasan pada latihan sebelumnya, terutama ketika pada bagian Pengotak terjadi persinggungan nada antara klenang dengan Cilokaq,” kata Tonie.

Ia juga melihat peluang masuknya musik modern sejak bagian awal melalui permainan rhythm atau ritme. Namun, kemungkinan tersebut tidak harus berhenti di sana. Musik modern, menurutnya, tetap dapat bergerak dan mengeksplorasi struktur-struktur lain yang telah ditemukan tim.

Sebuah ruang musikal yang memungkinkan pendengar menyimak detail, tekstur, dan dialog antarinstrumen dengan lebih intim (foto: aks / ceraken.id)

“Musik modern bisa masuk di awal dengan rhythm-nya, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bereksplorasi juga pada struktur lain yang sudah ditemukan. Yang penting diberi ruang,” ujarnya.

Di sinilah eksperimen itu menemukan maknanya. Tidak ada instrumen yang sepenuhnya menjadi pusat dan tidak ada pula yang hanya menjadi pelengkap.

Baca Juga :  Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Setiap bunyi sedang mencari tempatnya, setiap pemain sedang belajar mendengar pemain lain, dan setiap struktur sedang diuji untuk mengetahui sejauh mana ia mampu menampung pertemuan antara akar tradisi dan kemungkinan musikal masa kini.

Menjaga Pukulan, Menuju Panggung November

Di penghujung pertemuan, Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. Lalu Agus Fathurrahman, kembali mengingatkan satu hal mendasar: musik yang sedang dibangun itu sudah mulai enak didengar. Namun, kualitas sebuah garapan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bunyi, melainkan juga oleh kemampuan setiap pemain mengendalikan diri dan memberi ruang kepada bunyi yang lain.

“Musik eksperimen yang saya dengar sudah enak. Hanya saja pukulannya harus dijaga, jangan terlalu keras karena bisa mengganggu konsentrasi pemain yang lain,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar pukulan instrumen tidak membawa karakter tetaring secara berlebihan ke dalam ruang eksperimen tersebut. Menurutnya, intensitas bunyi perlu distandarkan agar keseluruhan komposisi menjadi lebih nyaman, seimbang, dan nikmat didengarkan.

“Tidak usah membawa pukulan “tetaring” ke ruang ini. Kita perlu menstandarkan pukulan agar musik yang dihasilkan bisa lebih nikmat didengarkan,” katanya.

Terkait evaluasi tahap pertama, Lalu Agus Fathurrahman menjelaskan bahwa dirinya lebih berperan mengantarkan proses secara metodologis. Sementara pembahasan teknis akan disampaikan oleh Mariadi Basri dan Yuga Anggana. Pagelaran evaluasi pertama direncanakan berlangsung sekitar 40 menit.

Setelah itu, berbagai masukan dari tahap evaluasi akan kembali dimatangkan di studio atau Ruang Musik. Proses tersebut akan terus bergerak hingga menjelang tahap rekaman. November menjadi titik yang dituju, bukan sebagai akhir dari pencarian, tetapi sebagai puncak sementara dari perjalanan panjang sebuah eksperimen.

“Masukan dari evaluasi tahap pertama nanti dimatangkan lagi di studio atau Ruang Musik sampai menjelang masuk studio rekaman. Puncak perjalanan ini berujung pada November,” ujar Lalu Agus Fathurrahman.

Hari kedelapan itu, dengan demikian, bukan hanya mencatat kemajuan teknis. Tim Eksperimentasi Musik 2026 mulai memasuki fase ketika serpihan bunyi berubah menjadi struktur, struktur menemukan relasi, dan relasi perlahan membangun karakter.

Dari Pengotak, Pengawak Aik, Pengawak Tanak, Pengawak Angin, hingga Pengawak Api, perjalanan itu sedang menyusun sebuah peta bunyi baru; sebuah perjumpaan antara klenang, suling, biola, petikan, keyboard, ritme, dan keberanian untuk memberi ruang pada sesuatu yang belum pernah sepenuhnya terdengar sebelumnya.

Dan mungkin, justru di ruang-ruang yang belum selesai itulah eksperimen ini menemukan masa depannya. (aks)

Editor : Ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi
Klenang Mencari Bentuk: Dari Pukulan Tradisi Menuju Eksperimentasi Bunyi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA