Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Betetulak tidak hanya relevan bagi masyarakat masa lalu, tetapi juga memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat masa kini (foto: bp.kebudayaan.ntb / ceraken.id)

Betetulak tidak hanya relevan bagi masyarakat masa lalu, tetapi juga memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat masa kini (foto: bp.kebudayaan.ntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus modernisasi yang membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, masih terdapat tradisi-tradisi lokal yang bertahan dan menjadi penanda identitas sebuah komunitas.

Salah satunya adalah Betetulak, tradisi turun-temurun masyarakat Krekok, Rembiga, Kota Mataram, yang setiap tahun dilaksanakan menyambut datangnya bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan budaya yang merefleksikan perjumpaan harmonis antara adat leluhur Sasak dan nilai-nilai Islam yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Betetulak menghadirkan suasana kebersamaan yang khas. Melalui rangkaian doa, dzikir, shalawat, dan prosesi adat, masyarakat berkumpul dalam satu ikatan spiritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Pada saat yang sama, mereka memanjatkan harapan akan keselamatan, kesehatan, keberkahan, serta perlindungan dari berbagai marabahaya yang mungkin datang dalam perjalanan kehidupan.

Momentum Mempererat Persaudaraan

Bagi masyarakat Krekok Rembiga, Betetulak memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat tali persaudaraan antarwarga.

Baca Juga :  Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Dalam suasana kebersamaan tersebut, nilai gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial kembali diteguhkan.

Setiap pelaksanaan Betetulak menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik antarsesama. Tradisi ini juga menghadirkan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya sekaligus memahami pesan-pesan luhur yang diwariskan para leluhur.

Melalui proses pewarisan tersebut, identitas budaya masyarakat tetap terjaga di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat (foto: fb ki dalang emy / ceraken.id)

Melalui proses pewarisan tersebut, identitas budaya masyarakat tetap terjaga di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Secara filosofis, Betetulak dimaknai sebagai ajakan untuk kembali kepada jalan kebaikan. Tradisi ini mengandung pesan agar manusia senantiasa memperbaiki hubungan dengan sesama, menjaga keseimbangan dengan alam, serta memperkuat kedekatan dengan Sang Pencipta.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Betetulak tidak hanya relevan bagi masyarakat masa lalu, tetapi juga memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat masa kini.

Warisan Budaya yang Mendapat Pengakuan Nasional

Ketahanan Betetulak dalam menghadapi perubahan zaman menjadi bukti bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan serta saling menguatkan. Selama berabad-abad, tradisi ini tetap hidup sebagai fondasi yang menopang harmoni sosial masyarakat Rembiga.

Baca Juga :  Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Pengakuan terhadap nilai penting tradisi ini semakin menguat ketika pada tahun 2025 Betetulak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia melalui sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengakuan negara terhadap kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar penghargaan, status tersebut membawa tanggung jawab bersama untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi. Betetulak menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang, melainkan harus dirawat, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan demikian, nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya akan tetap hidup dan menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Sasak di masa depan. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ig bp.kebudayaan.ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA