CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus modernisasi yang membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, masih terdapat tradisi-tradisi lokal yang bertahan dan menjadi penanda identitas sebuah komunitas.
Salah satunya adalah Betetulak, tradisi turun-temurun masyarakat Krekok, Rembiga, Kota Mataram, yang setiap tahun dilaksanakan menyambut datangnya bulan Muharram dalam kalender Hijriah.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan budaya yang merefleksikan perjumpaan harmonis antara adat leluhur Sasak dan nilai-nilai Islam yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Betetulak menghadirkan suasana kebersamaan yang khas. Melalui rangkaian doa, dzikir, shalawat, dan prosesi adat, masyarakat berkumpul dalam satu ikatan spiritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Pada saat yang sama, mereka memanjatkan harapan akan keselamatan, kesehatan, keberkahan, serta perlindungan dari berbagai marabahaya yang mungkin datang dalam perjalanan kehidupan.
Momentum Mempererat Persaudaraan
Bagi masyarakat Krekok Rembiga, Betetulak memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Dalam suasana kebersamaan tersebut, nilai gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial kembali diteguhkan.
Setiap pelaksanaan Betetulak menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik antarsesama. Tradisi ini juga menghadirkan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya sekaligus memahami pesan-pesan luhur yang diwariskan para leluhur.

Melalui proses pewarisan tersebut, identitas budaya masyarakat tetap terjaga di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Secara filosofis, Betetulak dimaknai sebagai ajakan untuk kembali kepada jalan kebaikan. Tradisi ini mengandung pesan agar manusia senantiasa memperbaiki hubungan dengan sesama, menjaga keseimbangan dengan alam, serta memperkuat kedekatan dengan Sang Pencipta.
Nilai-nilai tersebut menjadikan Betetulak tidak hanya relevan bagi masyarakat masa lalu, tetapi juga memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat masa kini.
Warisan Budaya yang Mendapat Pengakuan Nasional
Ketahanan Betetulak dalam menghadapi perubahan zaman menjadi bukti bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan serta saling menguatkan. Selama berabad-abad, tradisi ini tetap hidup sebagai fondasi yang menopang harmoni sosial masyarakat Rembiga.
Pengakuan terhadap nilai penting tradisi ini semakin menguat ketika pada tahun 2025 Betetulak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia melalui sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Penetapan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengakuan negara terhadap kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar penghargaan, status tersebut membawa tanggung jawab bersama untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi. Betetulak menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang, melainkan harus dirawat, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dengan demikian, nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya akan tetap hidup dan menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Sasak di masa depan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: ig bp.kebudayaan.ntb



























































