Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

- Penulis

Rabu, 5 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

"Bebek Angsa" karya I Gusti Bagus Kebon, 85 x 95cm, cat minyak, 1997 (foto: aks / ceraken.id)

"Bebek Angsa" karya I Gusti Bagus Kebon, 85 x 95cm, cat minyak, 1997 (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di ruang kerja restorasi Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, sebuah kanvas berukuran 85 x 95 sentimeter kembali menyerap perhatian. Karya lukis “Bebek Angsa” dengan medium cat minyak, buah tangan maestro seni rupa NTB, I Gusti Bagus Kebon, kini memasuki hari ketiga proses restorasi pada Rabu (5/8/2026).

Bagi tim restorasi, pekerjaan ini bukan sekadar mengembalikan kondisi fisik lukisan, melainkan juga menghidupkan kembali jejak ingatan seorang pelopor seni rupa modern di Lombok yang menautkan alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari ke dalam bahasa visualnya.

Jejak Kehidupan yang Menjelma Menjadi Kanvas

Bagi anggota tim kerja restorasi, M. Satarudin, lukisan Bebek Angsa menyimpan kedekatan yang kuat dengan kehidupan pribadi sang pelukis. Ia meyakini bahwa lanskap dalam karya tersebut lahir dari pengalaman keseharian I Gusti Bagus Kebon.

“Setahu saya, dulu di lingkungan tempat tinggal beliau, di belakang rumahnya ada pekarangan. Kebetulan saya sempat melihat di sana ada pohon blimbing biluk sebagaimana tergambar di bagian depan lukisan. Di sampingnya juga tervisualkan kesukaan beliau memelihara bebek angsa. Suasana itulah yang coba beliau tuangkan ke dalam kanvas, yang kemungkinan dibuat sekitar tahun 1997,” ujar Satarudin kepada ceraken.id.

Menurutnya, I Gusti Bagus Kebon dikenal sebagai perupa yang sangat matang dalam membangun visual naturalis. Alam bukan hanya menjadi objek yang dilukis, tetapi juga ruang untuk menghadirkan pengalaman hidup dan kekayaan cerita.

“Kebanyakan karya beliau bercorak naturalis. Selain mengangkat alam, beliau juga melukiskan kisah-kisah seperti Rama Sinta, Rahwana, hingga legenda Mahabharata,” katanya.

Satarudin menilai kekuatan sang maestro terletak pada keberanian mengolah warna dan komposisi secara utuh.

Baca Juga :  Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

“Beliau sangat matang dalam mengungkapkan karya secara naturalis. Dari sisi warna maupun komposisi sangat kuat. Kami banyak belajar dari beliau. Untuk lukisan Bebek Angsa ini memang didominasi warna-warna gelap klasik, tetapi watak objek dan nuansa alaminya tetap sangat terasa. Pada masanya beliau termasuk perupa yang sangat produktif,” ungkapnya.

Pelopor Seni Rupa Modern dari Lombok

Ketua Tim Kerja Restorasi, Esti Ebhi Evolista, menuturkan bahwa I Gusti Bagus Kebon lahir di Cakranegara pada 15 September 1933 sebagai anak sulung pasangan I Gusti Lanang Patra dan Jero Wana. Masa kecilnya dihabiskan di Karang Jangu, Cakranegara, serta di kampung kakeknya di Babakan, Gerung, Lombok Barat.

Selepas pendidikan dasar, ia sempat bersekolah di Sekolah Tionghoa sebelum melanjutkan pendidikan menengah di Malang. Jalan keseniannya semakin terbentuk ketika menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1957. Selain melukis, ia juga menggeluti seni ukir, patung, dan tenun ikat.

Bagi Esti, warisan I Gusti Bagus Kebon tidak hanya hidup melalui catatan sejarah, tetapi juga melalui karya-karya yang masih tersimpan hingga kini.

“Kebetulan saya juga punya koleksi lukisan Pak I Gusti Bagus Kebon,” ujar Esti.

Ia pun mengenang pesan yang selalu melekat dalam ingatannya.

“Masih terngiang kata-kata beliau, ‘suatu saat hasil karya tangan manusia akan dicari dan diburu’,” katanya.

Pernyataan itu kini terasa semakin relevan. Restorasi yang sedang dilakukan menjadi bukti bahwa karya-karya seni memang memiliki usia yang melampaui penciptanya, bahkan terus dicari sebagai penanda sejarah dan identitas budaya.

Warisan Estetika dan Ingatan Budaya

Putra sang maestro, IGB Lingsartha Patra, melihat ayahnya sebagai seniman yang menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber utama penciptaan. Peristiwa-peristiwa sederhana di sekitar rumah, cerita rakyat, hingga dunia pewayangan menjadi bahan yang terus diolah menjadi karya.

Baca Juga :  Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

“Lebih dominan ke peristiwa kultur,” ujar Lingsartha.

Namun, ia memilih jalan artistiknya sendiri.

“Saya memilih ‘memberontak’ dari langgam ayah. Saya lebih banyak keluar rumah, lintas daerah, dan lintas komunitas agar bisa melepaskan diri dari stigma sebagai anak I Gusti Bagus Kebon,” tuturnya.

Pilihan itu justru memperlihatkan bahwa warisan artistik tidak selalu diwujudkan melalui peniruan, melainkan melalui keberanian membangun identitas baru.

Dalam catatan sejarah seni rupa NTB, I Gusti Bagus Kebon dikenal sebagai salah satu perintis seni rupa modern di Lombok bersama nama-nama seperti Abdullah Siddiq dan Abdurahman. Mereka menjadi generasi awal yang membawa seni lukis Lombok bergerak dari tradisi menuju eksplorasi visual modern tanpa meninggalkan akar budaya.

Keistimewaan karya-karyanya terletak pada kemampuannya mengolah tutur Sasak, mitologi lokal, legenda, serta ingatan kolektif masyarakat menjadi bahasa rupa yang personal. Tradisi lisan yang semula hidup dalam cerita berhasil diterjemahkan menjadi komposisi visual yang kaya makna.

Di tengah proses restorasi Bebek Angsa, yang sesungguhnya sedang dipulihkan bukan hanya lapisan cat minyak yang mulai menua. Yang ikut dirawat adalah memori tentang seorang maestro yang menjadikan alam, kultur, dan kehidupan sehari-hari sebagai fondasi penciptaan.

Dengan demikian, setiap sapuan kuas yang kembali dipertegas hari ini menjadi upaya menjaga kesinambungan sejarah seni rupa Nusa Tenggara Barat agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA