CERAKEN.ID — Ada masa ketika sebuah lukisan tidak lagi hanya menampilkan warna dan bentuk. Ia berubah menjadi arsip perjalanan zaman, menyimpan jejak tangan seniman, ingatan sebuah peristiwa, sekaligus denyut kebudayaan yang pernah hidup.
Karena itu, ketika cat mulai mengelupas, kanvas robek, atau bingkai lapuk dimakan usia, yang sesungguhnya terancam bukan hanya sebuah benda seni, melainkan juga memori kolektif yang dikandungnya.
Selasa, 4 Agustus 2026, halaman belakang Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat dipenuhi aroma minyak lukis, lem, dan kayu yang baru dibersihkan. Di salah satu ruang kerja, Tim Pemeliharaan/Restorasi Karya Lukis memasuki hari kedua pekerjaannya.
Sedikitnya 20 karya koleksi Taman Budaya NTB sedang menjalani proses penyelamatan, mulai dari karya A. Gani, I Wayan Teko, Nanang Husen, IGB Lingsartha Patra, I Nengah Kisid, Esti Ebhi Evolista, Artha Kusuma, Tarfi Abdullah, Tonie Moersajid, M. Satarudin, Abdullah Sidik, Ismiadi, I Gusti Bagus Kebon, Soewito Moekarni, hingga Najamudin. Sebagian di antaranya telah berusia lebih dari empat dekade.
Bukan Sekadar Memperbaiki, Melainkan Menyelamatkan Sejarah
Bagi Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, pekerjaan restorasi bukan sekadar mempercantik karya yang kusam, melainkan tindakan ilmiah sekaligus tanggung jawab kebudayaan.
“Restorasi lukisan adalah upaya teknis dan ilmiah untuk menyelamatkan, memperbaiki, dan meremajakan karya seni yang mengalami kerusakan atau penurunan kualitas akibat usia, pelapukan maupun faktor lingkungan. Tujuannya mengembalikan integritas fisik dan nilai estetika karya agar sedekat mungkin dengan kondisi aslinya tanpa menghilangkan keaslian karya seniman tersebut.”
“Dengan kata lain, restorasi itu memulihkan kembali karya yang sudah lapuk menjadi karya utuh,” ujarnya.
Pandangan itu menjadi dasar seluruh pekerjaan yang berlangsung di ruang restorasi. Tidak ada bagian yang boleh diubah sesuka hati. Setiap goresan baru harus menghormati jejak lama, sehingga identitas karya tetap terjaga.
Program ini juga menjadi langkah penting setelah Taman Budaya NTB memiliki Standar Satuan Harga (SSH) khusus restorasi lukisan. Penanggung jawab tim kerja, Jaelani, menjelaskan bahwa pemeliharaan koleksi merupakan agenda yang telah lama direncanakan.

“Restorasi karya lukis merupakan program Taman Budaya NTB untuk memelihara karya lukisan supaya awet, karena ini termasuk benda-benda koleksi Taman Budaya. Tahun ini baru bisa dilaksanakan setelah kita mengetahui dan membuat Standar Satuan Harga untuk satu lukisan.”
“Semoga setelah direstorasi bisa dipamerkan, setidaknya dipajang sehingga setiap pengunjung Taman Budaya dapat melihat karya-karya tersebut,” katanya.
Ketelitian Menjaga Keaslian Warna dan Tekstur
Di lantai kerja, kuas-kuas besar, roti tawar, minyak lukis, kanvas, hingga cat prada tersusun rapi. Semuanya memiliki fungsi berbeda sesuai kebutuhan setiap karya.
Ketua tim restorasi, Esti Ebhi Evolista, menunjukkan salah satu koleksi berjudul Pohon Putih karya A. Gani. Beberapa bagian cat tampak mengelupas akibat usia yang telah melampaui empat puluh tahun.
“Karya yang direstorasi ada yang dari tahun 1993, 1995, bahkan karya Abdullah Sidik berasal dari tahun 1980. Karya A. Gani ini tahun 1985. Karena sudah lama tidak pernah dipelihara, ada bagian yang terkelupas sehingga perlu direstorasi.”
“Tahap awalnya kami pisahkan bingkai dengan lukisan, kemudian dibersihkan menggunakan kuas. Setelah debunya terangkat, kami olesi minyak agar permukaan lukisan kembali mengilap,” jelasnya.
Menurut Esti, koleksi Taman Budaya tidak hanya berupa lukisan, tetapi juga wastra, keramik, gerabah, patung, karya berbahan kayu, hingga kuningan. Seluruhnya memerlukan program pemeliharaan yang berkelanjutan agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari Roti Tawar hingga Cat Prada
Setiap karya memiliki tingkat kerusakan yang berbeda. Karena itu, proses restorasi tidak dapat dilakukan secara seragam.
Anggota tim, M. Satarudin, menjelaskan bahwa tahapan pertama adalah mengidentifikasi tingkat keparahan kerusakan sebelum menentukan metode penanganannya.
Proses restorasi tidak dapat dilakukan secara seragam (av: tambud / ceraken.id)
“Tahapan awal restorasi adalah mengidentifikasi karya dari segi keparahan kerusakannya, kemudian menyiapkan alat dan bahan. Kami membersihkan lukisan dengan kuas, lalu mengangkat debunya menggunakan roti tawar. Jika ada bagian yang sobek, kami sesuaikan dulu teksturnya, baru kemudian warnanya.”
“Di situlah letak kesulitannya, karena kami harus menyesuaikan warna yang sudah tua, antik, dan klasik. Merestorasi berarti menjaga agar keaslian karya tidak hilang,” tuturnya.
Menurutnya, sekitar separuh dari dua puluh koleksi yang ditangani mengalami kerusakan cukup berat akibat bertahun-tahun tersimpan tanpa perawatan kuratif maupun preventif.
“Tingkat keparahannya sekitar lima puluh banding lima puluh. Ada yang rusaknya cukup parah karena sudah lama tidak pernah dirawat dan hanya disimpan di gudang. Melihat kondisinya, target pekerjaan yang semula seminggu kemungkinan bisa bertambah menjadi dua minggu,” katanya.
Rangkaian pekerjaan yang dilakukan meliputi penggantian spanram dan bingkai yang rusak, pengecatan ulang bingkai, pembersihan debu menggunakan kuas besar dan roti tawar, pemberian minyak lukis, pelapisan kanvas pada bagian robek, retouching warna menggunakan cat minyak, pemberian cat prada pada bagian tertentu, penggantian pinggiran karya cetak dengan kertas linen, hingga tahap finishing.
Seluruh proses dikerjakan menggunakan bahan-bahan seperti cat minyak, minyak lukis, minyak tanah, minyak sereh, kanvas, kertas linen, kuas, lem, sarung tangan, masker, dan berbagai perlengkapan konservasi lainnya.
Ketika Seniman Menyaksikan Karyanya Mendapat Umur Baru
Kabar restorasi ternyata sampai kepada para perupa yang karyanya menjadi bagian koleksi Taman Budaya NTB. Dari Kendari, Sulawesi Tenggara, Najamudin menyampaikan rasa syukurnya setelah mengetahui karya berjudul Lukisan Telur turut mendapatkan perawatan.
“Karya itu, seingat saya disertakan dalam pameran seni rupa dalam rangka Temu Karya Taman Budaya Se-Indonesia pada 2005. Harapan saya, karya tersebut bertambah umur hidupnya dan bisa menjadi bahan pelajaran bagi generasi muda sekarang. Terima kasih tim kerja restorasi Taman Budaya NTB,” ujarnya melalui saluran komunikasi kepada ceraken.id
Ucapan itu menjadi penutup yang mengingatkan bahwa restorasi bukan semata pekerjaan teknis. Di balik setiap lapisan cat yang dipulihkan, terdapat penghormatan terhadap perjalanan para seniman dan sejarah seni rupa Indonesia.
Ketika sebuah lukisan kembali utuh, yang sesungguhnya dipanjangkan bukan hanya usia kanvasnya, melainkan juga kesempatan bagi generasi mendatang untuk membaca kembali jejak budaya yang pernah dilukiskan para perupa. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































