CERAKEN.ID — Di tengah geliat perkembangan ruang-ruang kreatif di Nusa Tenggara Barat, sebuah peristiwa seni rupa hadir menawarkan perenungan sekaligus perayaan atas kebebasan berekspresi. Komunitas Sekenem Art menggelar pameran seni rupa bertajuk “Gurat Mahardika” di Rplay Lombok Space Eum mulai 10 Juni hingga 10 Juli 2026.
Meski komunitas ini terbilang muda, para anggotanya merupakan perupa-perupa senior yang telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan seni rupa NTB.
Sebanyak 20 karya dipamerkan oleh enam seniman berpengalaman, yakni Nengah Kisid, Soewito Moekarni, M. Satarudin, I Gusti Bagus Lingsartha, Esti Ebhi Evolisa, dan Mahendra. Karya-karya tersebut menghadirkan beragam perspektif visual yang lahir dari pengalaman panjang para perupa dalam membaca ruang sosial, budaya, dan alam Lombok.
Sekenem, Filosofi Berugak dan Ruang Kebersamaan
Di balik nama komunitas ini tersimpan filosofi yang berakar kuat pada budaya lokal. Ketua Komunitas Sekenem Art, Esti Ebhi Evolisa, sebelum Acara Pembukaan Pameran, menjelaskan bahwa “Sekenem” merupakan sebutan untuk berugak khas Sasak yang memiliki enam tiang penyangga dan berfungsi sebagai ruang berkumpul, beristirahat, menerima tamu, sekaligus menjadi ruang sosial keluarga.
“Istilah Sekenem Art ini kami sunting namanya karena kelompok kami beranggotakan enam orang,” ujar Esti.
Namun bagi para perupa yang tergabung di dalamnya, Sekenem bukan sekadar penanda jumlah anggota. Nama itu menjadi simbol pertemuan gagasan, pengalaman, dan kreativitas yang saling menopang satu sama lain.
“Sekenem Art lebih dari sekadar nama. ‘Sekenem’ adalah sebuah simbol, sebuah identitas yang tidak hanya sekadar berkarya, namun kami sedang membangun narasi visual tentang Lombok masa kini,” kata Esti.
Menurutnya, kelompok ini berupaya menjembatani antara akar tradisi dan budaya lokal dengan eksplorasi seni rupa modern dan kontemporer. Setiap karya yang lahir menjadi medium untuk menerjemahkan wajah Lombok ke dalam bahasa visual yang universal.
“Melalui Sekenem Art, seni rupa bukan hanya menjadi pajangan dinding, melainkan sebuah dialog yang jujur antara seniman dan penikmat seni,” ungkapnya.
Gurat Mahardika dan Kebebasan Berkarya
Tema “Gurat Mahardika” dipilih bukan tanpa alasan. Kata “gurat” merujuk pada jejak garis, sapuan kuas, dan berbagai tanda visual yang ditinggalkan seniman dalam proses penciptaan karya. Sementara “mahardika” bermakna merdeka, bebas, dan berdaulat atas diri sendiri.
Melalui tema tersebut, para perupa ingin menegaskan pentingnya kemerdekaan dalam berkarya. Kebebasan yang dimaksud bukan hanya terbebas dari batasan teknis, melainkan keberanian untuk jujur terhadap gagasan, identitas, pengalaman personal, hingga realitas sosial yang melingkupi kehidupan mereka.
“Setiap karya dalam pameran ini menjadi bukti bahwa garis dan warna dapat menjadi ruang otonomi, tempat seniman merdeka dalam menyampaikan pikiran dan perasaan,” tutur Esti.
Keragaman medium dan gaya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa kebebasan artistik dapat hadir dalam berbagai bentuk. Namun di balik perbedaan karakter visual tersebut, terdapat satu benang merah yang menghubungkan seluruh karya, yakni keyakinan bahwa seni merupakan manifestasi kemerdekaan berpikir.
Kurator pameran, Sasih Gunalan, melihat tema tersebut sebagai wadah yang memungkinkan masing-masing seniman menampilkan kekuatan personalnya.
“Memilih tema ‘Gurat Mahardika’, pameran ini menghadirkan enam orang perupa yang jejak perjalanannya di Nusa Tenggara Barat cukup panjang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Sekenem Art lahir dari nostalgia kebersamaan para perupa senior yang telah lama berkarya di NTB. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi ruang untuk menguji dan menegaskan kembali karakter artistik masing-masing anggota.
“Kalau kita melihat karya-karya yang diajukan pada pameran ini, akan sangat jelas bahwa masing-masing perupa memiliki kekuatan yang berbeda-beda,” katanya.
Enam Perupa, Enam Karakter Visual

Menurut Sasih, kekuatan utama pameran ini justru terletak pada keberagaman karakter yang ditampilkan.
Nengah Kisid, misalnya, dikenal melalui karya-karya yang banyak berangkat dari teks dan simbol-simbol kitab, namun kali ini disajikan dalam berbagai ekspresi kebebasan visual. Ia menampilkan empat karya berjudul Kebinekaan dalam Kesatuan, The Shining Mandalika, Lidah-Lidah Api, dan Melangkah dari Kegelapan Menuju Terang.
Sementara Soewito Moekarni menghadirkan lanskap dan denyut kehidupan pesisir melalui karya Pemancingan di Loang Baloq, Pelabuhan Lembar, dan Pantai Nipah. Di tangan Soewito, ruang-ruang keseharian masyarakat pesisir berubah menjadi narasi visual yang ekspresif.
Satarudin menampilkan seri Praja I, Praja II, Praja III, dan Praja IV. Sasih menyebut Satarudin sebagai seniman yang memiliki kedekatan kuat dengan medium batu dan bahasa visual yang khas, sehingga karya-karyanya menghadirkan kesan kokoh sekaligus reflektif.
Karakter impresionistik tampak pada karya-karya I Gusti Bagus Lingsartha melalui Turun Minum, Lapak di Pelabuhan Nusa Penida, dan Jalan Pulang. Sapuan warna dan permainan cahaya menjadi kekuatan utama yang membangun suasana dalam karya-karyanya.
Sementara Esti Ebhi Evolisa menampilkan Sky of the Sea, Pohon Kehidupan, dan Simfoni Samudra. Menurut Sasih, perjalanan artistik Esti ditandai dengan eksplorasi medium yang luas dan keberanian bereksperimen dalam membangun bentuk visual.
Mahendra melengkapi pameran melalui karya Simfoni Senja di Tepi Aliran, Fragmentasi Memori, dan Gemericik di Balik Rimba, yang menghadirkan refleksi hubungan manusia dengan alam dan ingatan kolektif.
“Dengan tema ‘Gurat Mahardika’ ini saya rasa karakteristik masing-masing perupa dapat terwakili. Kebebasan berkarya, ekspresi, dan guratan-guratan visual yang mereka hadirkan menjadi sangat terasa,” ujar Sasih.
Membangun Ruang Publik dan Diplomasi Budaya
Pameran ini juga menandai kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam pengembangan ekosistem seni budaya di NTB. Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan PT Rplay Group of Indonesia untuk membuka ruang yang lebih luas bagi seniman daerah.

“Taman Budaya NTB telah mengadakan MoU dengan PT Rplay Group of Indonesia dengan maksud antara lain bisa menampilkan karya-karya seni dan budaya yang ada di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.
Menurutnya, Rplay Lombok Space Eum diharapkan berkembang menjadi ruang publik seni yang tidak hanya menghadirkan pameran seni rupa, tetapi juga berbagai pertunjukan budaya secara reguler.
“Harapannya ada pertunjukan reguler yang akan diselenggarakan minimal satu kali dalam sebulan. Jadi paling tidak Rplay Space ini menjadi ruang publik bagi seniman-seniman yang ada di Nusa Tenggara Barat,” kata Suryadi.
Lebih jauh, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang diplomasi budaya lintas negara, khususnya antara NTB dan Korea Selatan.
“Semoga tahun ini bisa terwujud kerja sama Korea Selatan dan NTB yang dapat membangkitkan semangat seniman-seniman berdiplomasi lintas etnis, lintas budaya, dan lintas negara,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan Wakil CEO PT Rplay Group of Indonesia, Ham Yongsang. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para perupa senior yang terlibat dalam pameran tersebut.
“Saya merasa sangat bangga karena dapat menyambut para tamu undangan mewakili CEO kami yang saat ini sedang berada di Korea Selatan,” katanya.
Menurut Ham, tema “Gurat Mahardika” memiliki makna yang mendalam karena menghadirkan karya-karya yang lahir dari pengalaman panjang para seniman Lombok.
“Marilah kita beri apresiasi yang tinggi kepada enam senior yang berpameran pada hari ini,” ujarnya.
Pameran “Gurat Mahardika” pada akhirnya bukan sekadar peristiwa seni rupa. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, kebebasan berekspresi, dan upaya membangun masa depan seni rupa NTB.
Melalui enam perupa yang menjadi “tiang penyangga” Sekenem Art, publik diajak melihat bagaimana garis, warna, dan bentuk dapat menjelma menjadi bahasa kemerdekaan yang melampaui batas ruang dan waktu. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































