CERAKEN.ID — Suasana hangat menyelimuti ruang pertemuan Aston Inn, Mataram, pada Minggu, 19 April 2026. Halalbihalal Kerukunan Pensiunan Pegadaian (KPP) Koordinator Wilayah Nusa Tenggara Barat bukan sekadar ajang temu kangen para purnabakti, melainkan juga ruang refleksi yang menghadirkan makna lebih dalam tentang keberlanjutan nilai-nilai spiritual pasca-Ramadan.
Di tengah kebersamaan itu, Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Ampenan, Muhammad Efendi, yang mewakili Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Denpasar, Edy Purwanto, menyampaikan pesan yang menautkan antara ritual ibadah dan realitas kehidupan.
Pertemuan tersebut, menurutnya, bukan hanya kebetulan, melainkan bagian dari harapan yang terwujud; sebuah mimpi tentang kebersamaan yang tetap terjaga, meski waktu telah memisahkan peran dan jabatan. Dalam wajah-wajah yang hadir, ia melihat semangat yang tidak lekang oleh usia: semangat persaudaraan, kesehatan, dan kebahagiaan yang terus dipelihara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Halalbihalal, dalam pandangannya, tidak bisa dilepaskan dari rangkaian panjang proses spiritual selama Ramadan. Ia bukan sekadar tradisi sosial yang berulang setiap tahun, tetapi momentum untuk mengafirmasi kembali nilai-nilai yang telah ditempa selama sebulan penuh.
Ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” yang kerap terdengar, sejatinya bukan formalitas basa-basi, melainkan doa yang sarat harapan: agar setiap amal ibadah diterima oleh Allah SWT.
Namun, di balik ungkapan itu, tersimpan pertanyaan mendasar yang jarang benar-benar dijawab secara jujur: sejauh mana Ramadan benar-benar mengubah diri seseorang?
Dari Ritual ke Etika Sosial
Muhammad Efendi mengajak hadirin untuk tidak berhenti pada simbol dan seremonial. Ia menggarisbawahi bahwa tujuan utama Ramadan adalah mencapai derajat takwa—tattaqun. Sebuah capaian spiritual yang tidak hanya diukur dari seberapa banyak ibadah dilakukan, tetapi dari seberapa jauh nilai-nilai itu menjelma dalam perilaku sehari-hari.
Ia mengilustrasikan dengan contoh sederhana namun mengena: kejujuran dalam salat. Tidak ada seorang pun yang dengan sengaja mengurangi jumlah rakaat dalam salatnya, meskipun tidak ada manusia lain yang melihat. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi menjadi benteng yang menjaga integritas ibadah tersebut.
Logika ini, menurutnya, seharusnya tidak berhenti di ruang salat. Ketika nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesadaran akan pengawasan Ilahi itu dibawa ke luar, maka ia akan menjadi fondasi moral yang kokoh dalam kehidupan sosial. Di sinilah letak esensi ajaran: bahwa ibadah tidak berhenti sebagai ritual, melainkan bertransformasi menjadi etika.
“Jika apa yang ada dalam salat itu kita bawa ke luar salat,” ujarnya, “maka itulah yang bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap realitas yang sering dijumpai: orang yang tampak taat secara ritual, namun belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan. Kontradiksi ini menunjukkan bahwa ibadah belum sepenuhnya menembus kesadaran terdalam.
Padahal, Ramadan sejatinya adalah proses pelatihan. Ia melatih kesabaran melalui puasa, menumbuhkan empati melalui rasa lapar, serta mengasah keikhlasan melalui berbagai amal kebaikan. Semua itu dirancang untuk membentuk pribadi yang utuh, bukan hanya saleh secara individu, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan.
Memantaskan Diri Sebelum Mencapai Tujuan
Dalam refleksi yang lebih luas, Muhammad Efendi juga mengutip pandangan ulama tentang pentingnya memantaskan diri sebelum mencapai tujuan. Ia mencontohkan ibadah haji sebagai analogi yang relevan.
Banyak orang memahami haji sebagai persoalan kemampuan finansial, namun sesungguhnya, menurut para ulama, haji adalah panggilan, undangan dari Allah SWT.
Dengan perspektif ini, capaian haji mabrur tidak semata ditentukan oleh keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi oleh kesiapan batin yang menyertainya. Ciri-ciri haji mabrur, sebagaimana ia kutip, antara lain adalah sikap gemar berbagi, mampu menghadirkan kedamaian, serta menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain.
Nilai-nilai tersebut, sesungguhnya, tidak menunggu momentum haji untuk dipraktikkan. Ia bisa, dan seharusnya, mulai dihidupkan dalam keseharian. Memberi makan, menjaga hubungan baik, serta menciptakan suasana yang menenangkan adalah bentuk konkret dari spiritualitas yang hidup.
Pandangan ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan Ramadan. Jika selama bulan suci seseorang telah banyak belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan empati, maka seharusnya nilai-nilai itu tidak berhenti ketika Ramadan berakhir. Justru, di situlah ujian sesungguhnya dimulai: bagaimana menjaga konsistensi di luar suasana yang kondusif.
Halalbihalal, dalam konteks ini, menjadi semacam jembatan. Ia menghubungkan pengalaman spiritual Ramadan dengan realitas sosial pasca-Ramadan. Dalam tradisi saling memaafkan, tersimpan pesan tentang pentingnya merawat hubungan, memperbaiki diri, dan membuka lembaran baru dengan niat yang lebih baik.
Pertemuan KPP NTB di Aston Inn itu pun menjadi lebih dari sekadar reuni. Ia menjelma ruang kontemplasi bersama, di mana pengalaman hidup para pensiunan bertemu dengan refleksi spiritual yang mendalam.
Di tengah percakapan yang hangat, tersirat kesadaran bahwa perjalanan hidup tidak berhenti pada pencapaian duniawi, tetapi terus berlanjut dalam upaya menjadi manusia yang lebih baik.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan sederhana namun mendasar: Ramadan adalah awal, bukan akhir. Ia adalah proses pembelajaran yang harus terus dilanjutkan. Perubahan yang diharapkan tidak datang secara instan, melainkan melalui komitmen untuk membawa nilai-nilai ibadah ke dalam setiap aspek kehidupan.
“Setelah Ramadan ini kita bisa berubah dan merubah,” ujarnya penuh harap.
Sebuah ajakan yang tidak hanya relevan bagi mereka yang hadir di ruangan itu, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menjaga api Ramadan tetap menyala, tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam tindakan nyata sehari-hari. (aks)


























































