Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Kamis, 23 April 2026 - 10:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dialog ini menegaskan bahwa komunitas adalah aktor utama dalam pemajuan kebudayaan (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

Dialog ini menegaskan bahwa komunitas adalah aktor utama dalam pemajuan kebudayaan (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah dinamika global yang terus berubah, upaya menjaga dan mengembangkan kebudayaan nasional kembali ditegaskan sebagai agenda strategis. Dalam rangkaian peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, Minggu (19/4/2026), Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menekankan bahwa pemajuan kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri.

Ia membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan -dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta- untuk memastikan keberlanjutan nilai-nilai budaya di tengah arus modernitas.

Dialog bersama sesepuh, budayawan, dan komunitas budaya Jawa Barat menjadi ruang penting untuk merumuskan arah tersebut. Dalam forum ini, kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai warisan statis, melainkan sebagai kekuatan hidup yang terus berkembang dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebudayaan sebagai Instrumen Bersama

Fadli Zon menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan hadir sebagai instrumen yang terbuka bagi semua pihak. “Kementerian Kebudayaan adalah alat. Instrumen ini harus dimanfaatkan bersama,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan perubahan pendekatan, dari yang sebelumnya terpusat menjadi lebih partisipatif.

Di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi, pemerintah tetap berupaya menjaga kesinambungan program kebudayaan. Fokus diarahkan pada tiga pilar utama: pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.

Ketiganya menjadi kerangka kerja yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Baca Juga :  Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya

Pendekatan gotong royong menjadi kunci. Pelibatan sektor swasta dan filantropi dalam pengelolaan museum dan cagar budaya membuka peluang baru, sekaligus mengurangi ketergantungan pada anggaran negara. Dengan demikian, kebudayaan dapat tumbuh sebagai ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan.

Dari Pendanaan hingga Revitalisasi

Salah satu terobosan yang diperkenalkan adalah program Dana IndonesiaRaya, sebuah skema pendanaan kebudayaan yang dirancang lebih sederhana dan mudah diakses. Program ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak komunitas, individu, dan lembaga budaya, sekaligus memperluas dampak pemajuan kebudayaan secara nyata.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong revitalisasi fisik berbagai institusi budaya, mulai dari museum hingga situs bersejarah. Langkah ini tidak hanya bertujuan menjaga keberadaan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi ruang-ruang tersebut sebagai pusat edukasi dan pengembangan ekonomi berbasis budaya.

Gagasan ini memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki dimensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Ketika dikelola dengan baik, ia dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat, tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Menjaga Akar, Menguatkan Masa Depan

Dalam dialog tersebut, berbagai suara dari komunitas budaya memperkaya perspektif yang ada. Ketua Persatuan Pencak Silat Indonesia Jawa Barat, Dadang Hermansyah, menyoroti pentingnya pengembangan pariwisata berbasis budaya yang inklusif.

Baca Juga :  Dari Indonesiana ke IndonesiaRaya: Menata Ulang Ekosistem Pendanaan Kebudayaan

Pendekatan ini dinilai mampu membuka ruang partisipasi masyarakat lokal sekaligus menjaga identitas budaya di tengah pembangunan.

Sementara itu, Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda, Eni Sumarni, menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai budaya. Ia mengusulkan agar nilai-nilai kearifan lokal Sunda diadopsi menjadi bagian dari program strategis nasional.

Usulan ini menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada fondasi nilai yang kuat.

Pandangan lain datang dari Iman Soleh, maestro teater dan pendiri Centre Culture of Ledeng. Ia menekankan pentingnya penghargaan bagi tokoh budaya serta penguatan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Jawa Barat. Menurutnya, pengakuan terhadap pelaku budaya menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem kebudayaan tetap hidup.

Pada akhirnya, dialog ini menegaskan bahwa komunitas adalah aktor utama dalam pemajuan kebudayaan. Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang, sementara masyarakat menjadi penggerak yang menjaga denyut kebudayaan tetap hidup.

Dari Bandung, pesan itu kembali ditegaskan: bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh inovasi, tetapi juga oleh kemampuan merawat akar budaya yang menjadi jati dirinya. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: kemenbud go.id

Berita Terkait

Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah
Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB
Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya
Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB
Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menjaga Ruh Bayan di Tengah Arus Modernitas
Dari Indonesiana ke IndonesiaRaya: Menata Ulang Ekosistem Pendanaan Kebudayaan
Menjaga Arah, Mempercepat Langkah: Pelantikan Pejabat Kebudayaan di Tengah Tuntutan Zaman
Karang Taliwang: Jejak Sejarah, Aroma Kuliner, dan Ikhtiar Menjadi Museum Desa

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 10:28 WITA

Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Kamis, 23 April 2026 - 09:51 WITA

Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Selasa, 21 April 2026 - 20:15 WITA

Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB

Senin, 13 April 2026 - 13:15 WITA

Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya

Jumat, 10 April 2026 - 19:32 WITA

Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA