CERAKEN.ID — Di dalam gelap yang tidak sepenuhnya gelap, pementasan Organic Mind bertajuk Unconscious Theory, yang digelar pada Jumat-Sabtu, 3–4 April 2026 di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, tidak serta-merta mengundang penonton untuk “menonton”.
Ia justru mengajak untuk memasuki. Kunci masuknya bukan pada visual, bukan pula pada bunyi, melainkan pada narasi pembuka yang perlahan membongkar cara kita memahami realitas.
“Tarik nafasmu. Hembuskan perlahan.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat sederhana itu bukan sekadar pengantar, melainkan semacam ritual transisi. Penonton tidak lagi ditempatkan sebagai pengamat pasif, tetapi sebagai subjek yang sedang ditarik masuk ke dalam medan kesadaran yang asing.
Narasi tersebut bekerja seperti pintu yang tidak terlihat, ia tidak terbuka ke ruang fisik, melainkan ke ruang batin yang selama ini jarang disentuh secara sadar.
Di titik inilah Unconscious Theory menemukan bentuknya yang paling fundamental: ia bukan pertunjukan tentang sesuatu, tetapi pengalaman tentang bagaimana sesuatu dipahami.
Dunia Penuh Koordinat
Narasi pembuka itu, jika dicermati, menyusun sebuah kerangka berpikir yang meruntuhkan fondasi paling dasar dari persepsi manusia: batas. Kita dibesarkan dalam dunia yang penuh dengan koordinat; ruang memiliki dinding, laut memiliki tepi, cahaya memiliki sumber. Namun di dalam pertunjukan ini, semua itu dipreteli.
“Otakmu mengharapkan batas.”
Kalimat ini menjadi semacam diagnosis. Ia mengungkap kebiasaan kognitif manusia yang selalu mencari ujung, mencari definisi, mencari kepastian. Tetapi Unconscious Theory justru berdiri di atas penolakan terhadap kebutuhan itu.
Ia mengajak kita untuk bertahan dalam ketidakpastian; sebuah kondisi yang, dalam kehidupan sehari-hari, justru dihindari.

Di sinilah ketidaknyamanan mulai bekerja. Penonton tidak hanya dihadapkan pada visual atau bunyi yang mungkin tidak lazim, tetapi juga pada kegagalan pikirannya sendiri untuk “mengukur” pengalaman yang sedang berlangsung.
Apa yang biasanya bisa dijelaskan, di sini menjadi kabur. Apa yang biasanya bisa dipetakan, di sini kehilangan arah.
Namun justru dalam kekaburan itulah kesadaran baru mulai terbentuk.
Narasi tersebut juga memperlihatkan sebuah pergeseran penting: dari pemahaman realitas sebagai benda, menuju realitas sebagai medan. Ketika disebutkan bahwa “kedua pertanyaan itu menganggap realitas harus bersikap seperti benda”, kita diajak menyadari bahwa cara berpikir kita selama ini terlalu terikat pada bentuk-bentuk yang bisa dilihat, disentuh, dan diukur.
Padahal, sebagaimana disiratkan dalam narasi itu, realitas tidak selalu tunduk pada logika benda. Ia bisa hadir sebagai sesuatu yang tidak memiliki tepi, tidak memiliki arah, bahkan tidak memiliki tujuan.
“Pengembangan tidak membutuhkan tujuan. Ruang tidak bergerak menuju sesuatu.”
Pernyataan ini terasa paradoksal dalam dunia yang selalu menuntut arah dan hasil. Tetapi justru di situlah letak kekuatan Unconscious Theory. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan membuka ruang bagi pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana jika realitas memang tidak dirancang untuk dipahami secara linear?
Dalam konteks ini, penonton tidak lagi mencari makna di luar dirinya, tetapi dipaksa untuk berhadapan dengan proses pencarian itu sendiri.
Bergerak Tanpa Titik Akhir
Menariknya, narasi tersebut tidak hanya bergerak di wilayah filosofis, tetapi juga menyentuh lapisan kosmologis. Penyebutan tentang energi gelap, galaksi yang saling menjauh, hingga radiasi latar kosmik, membuka perspektif bahwa pengalaman kesadaran manusia tidak terpisah dari dinamika semesta.
Namun alih-alih menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah, Unconscious Theory justru menggunakannya sebagai metafora. Bahwa sebagaimana alam semesta yang terus mengembang tanpa tujuan yang jelas, kesadaran manusia pun bergerak tanpa titik akhir.

“Sangkan paraning dumadi.”
Frasa ini menjadi jembatan antara sains dan kearifan lokal. Ia mengingatkan bahwa pertanyaan tentang asal dan tujuan tidak hanya milik ilmu pengetahuan modern, tetapi juga telah lama hidup dalam tradisi spiritual Nusantara.
Dalam konteks pertunjukan ini, asal dan tujuan tidak lagi dipandang sebagai dua titik yang terpisah, melainkan sebagai satu lingkaran yang sama.
Sebuah siklus yang tidak membutuhkan akhir untuk tetap bermakna.
Pada akhirnya, narasi pembuka Unconscious Theory bukan sekadar teks, melainkan pengalaman itu sendiri. Ia bekerja seperti gelombang yang perlahan mengikis batas antara penonton dan pertunjukan.
Ketika kalimat “aku masih di sini” berulang, ia tidak lagi terdengar sebagai pernyataan, tetapi sebagai penegasan eksistensi di tengah ruang yang kehilangan koordinat.
Penonton mungkin merasa goyah. Identitas yang selama ini bertumpu pada nama, tubuh, dan cerita, tiba-tiba terasa rapuh.
Namun justru dalam kegoyahan itu, ada kemungkinan untuk melihat diri secara berbeda; bukan sebagai bentuk yang tetap, tetapi sebagai bagian dari medan yang lebih luas.
“Kamu tidak hilang. Kamu sedang kembali.”
Kalimat ini menutup sekaligus membuka. Ia menandai bahwa perjalanan yang ditawarkan Unconscious Theory bukanlah perjalanan menuju sesuatu yang baru, melainkan perjalanan pulang; kembali pada kesadaran yang lebih purba, lebih luas, dan mungkin lebih jujur.
Di tengah dunia yang semakin padat dengan informasi dan kepastian semu, pertunjukan ini justru menawarkan sesuatu yang jarang: ruang untuk tidak tahu, ruang untuk tidak mengerti, dan ruang untuk sekadar ada.
Dan mungkin, di situlah letak maknanya. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































