Menembus Batas Kesadaran: “Unconscious Theory” dan Eksperimen Seni Media Baru Organic Mind

Sabtu, 4 April 2026 - 02:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Unconscious Theory menawarkan kemungkinan bahwa sangkan paraning dumadi adalah lingkaran yang sama (Foto: aks/ceraken/id)

Unconscious Theory menawarkan kemungkinan bahwa sangkan paraning dumadi adalah lingkaran yang sama (Foto: aks/ceraken/id)

CERAKEN.ID — Malam itu, Jumat, 3 April 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kota Mataram tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia berubah menjadi medan pengalaman, ruang yang menggoyahkan batas antara penonton dan karya, antara bunyi dan makna, antara tubuh dan kesadaran.

Komunitas Organic Mind, yang digagas oleh Mantra Ardhana, kembali menggelar “gawe” serius bertajuk Unconscious Theory, sebuah pertunjukan seni media baru yang melampaui definisi konser konvensional.

Selama dua hari berturut-turut, pertunjukan ini dihadirkan sebagai eksperimen lintas disiplin: musik mengambil porsi dominan sebesar 60 persen, vokal 30 persen, dan tari 10 persen. Namun angka-angka itu hanya kerangka kasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di dalamnya, terjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah proses crossing medium, persilangan medium seni, yang mengaburkan batas antara suara, visual, dan gerak.

Sejak awal pertunjukan, penonton tidak disambut dengan dentuman atau narasi linear. Sebaliknya, mereka diajak masuk ke dalam sebuah pengalaman kesadaran yang nyaris meditatif:

Selamat datang. Tarik napasmu. Hembuskan perlahan…

Narasi itu mengalun seperti bisikan dari dalam diri sendiri. Ia tidak memerintah, tidak menjelaskan, tetapi perlahan menggiring penonton untuk memasuki ruang yang tidak memiliki batas yang jelas.

Dalam ruang itu, konsep-konsep yang selama ini dianggap pasti; arah, jarak, bahkan identitas,mulai kehilangan relevansinya.

Pertunjukan ini seolah menantang struktur berpikir manusia yang terbiasa dengan batas. Ruangan punya dinding. Laut punya tepi. Cahaya punya sumber.

Namun dalam Unconscious Theory, semua asumsi itu runtuh. Tidak ada titik referensi. Tidak ada ujung. Tidak ada tempat untuk tiba.

Yang tersisa adalah pengalaman.

Lalu Suryadi Mulawarman. Taman Budaya adalah laboratorium. Tempat seniman berinovasi (Foto: aks/ceraken.id)
Kesadaran sebagai Ruang Tanpa Tepi

Narasi yang menjadi tulang punggung pertunjukan ini bergerak dalam wilayah filosofis dan kosmologis. Ia berbicara tentang kesadaran sebagai sesuatu yang tidak terikat pada bentuk.

Kesadaran bukan wadah, melainkan medan. Ia tidak bergerak menuju tujuan, melainkan terus mengembang tanpa arah.

Di titik inilah, Unconscious Theory menemukan kekuatannya: ia tidak berusaha menjelaskan, tetapi mengajak penonton mengalami. Ketidaknyamanan menjadi bagian dari proses.

Pikiran yang terbiasa mencari batas dipaksa berhadapan dengan kemungkinan bahwa realitas tidak harus “selesai”.

“Jika semuanya tak hingga, pikiranmu bertanya bagaimana sesuatu bisa ada tanpa akhir. Jika semuanya terbatas, pikiranmu bertanya apa yang ada di luarnya.”

Kontradiksi itu menjadi pusat kegelisahan manusia modern dan sekaligus bahan bakar artistik bagi Organic Mind. Dalam pertunjukan ini, kegelisahan tidak diselesaikan, melainkan dirayakan sebagai bagian dari perluasan kesadaran.

Baca Juga :  “Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama

Pertunjukan ini dibangun melalui tujuh komposisi yang masing-masing menghadirkan lanskap emosional dan konseptual yang berbeda:

  1. A Poem Made of Air
  2. Kaliyuga
  3. Menanam Rindu dalam Sungai Malam
  4. Contemplation Childhood
  5. Daun Djiwa
  6. Oxygen Poetry
  7. Cosmic

Ketujuh komposisi ini tidak disajikan sebagai nomor-nomor terpisah, melainkan sebagai aliran pengalaman yang saling terhubung. Setiap komposisi seperti gerbang yang membuka lapisan kesadaran baru.

Mereka tidak sekadar menyaksikan, tetapi masuk ke dalam ruang pengalaman (Foto: aks/ceraken.id)

Di baliknya, lima seniman bekerja sebagai satu organisme kreatif: Mantra Ardhana sebagai sutradara, didampingi Suradipa, serta Putu Sanjiwani dan Bustan Normagomedov sebagai penopang musikalitas. Vokal dihidupkan oleh Nyra Maulida, yang menghadirkan performa multidimensional sebagai pelaku teater.

Di atas panggung, visual bergerak menjadi elemen penting. Lukisan dan gambar diproyeksikan sebagai representasi dari komposisi, menciptakan dialog antara bunyi dan rupa.

Sementara itu, eksperimen suara berupa noise menghadirkan atmosfer yang tidak biasa; menggeser peran melodi, harmoni, dan ritme tradisional menjadi sesuatu yang lebih cair dan eksperimental.

Setiap musisi diberi kebebasan untuk merespons satu sama lain. Tidak ada struktur kaku. Yang ada adalah interaksi spontan—sebuah orkestrasi yang hidup.

Penonton sebagai Partisipan

Menurut Kongso Sukoco, sutradara Bengkel Aktor Mataram, kekuatan utama pertunjukan ini terletak pada cara ia mengubah posisi penonton.

Penonton tidak lagi duduk pasif. Mereka tidak sekadar menyaksikan, tetapi masuk ke dalam ruang pengalaman. Istilah yang tepat adalah immersive experience—pengalaman yang menyerap seluruh indera dan kesadaran.

“Karya seperti ini tidak mudah, bahkan bisa terasa membingungkan,” ujarnya. “Ia menolak bentuk yang rapi dan makna tunggal.”

Namun justru di situlah letak relevansinya. Dalam dunia yang semakin kompleks, seni tidak lagi cukup hanya menjadi representasi. Ia harus menjadi pengalaman.

Pendekatan ini membuka kemungkinan baru dalam seni pertunjukan: bagaimana tubuh, bunyi, dan makna dapat bekerja bersama tanpa harus tunduk pada narasi linear atau struktur dramatik konvensional.

Meski sarat konsep, Unconscious Theory tidak kehilangan sisi estetisnya. Di balik kompleksitas dan ketidakpastian, pertunjukan ini tetap menghadirkan keindahan; kemerduan vokal, harmoni musik, dan komposisi visual yang memikat.

Yatik Kahar (tengah) menyebut pertunjukan ini luar biasa; sederhana namun kompleks, memadukan seni kontemporer, etnik, dan balada secara mulus (Foto: ceraken.id)

Gaya artistik Mantra Ardhana yang cenderung surealis terasa kuat, tetapi ia tidak terjebak dalam abstraksi yang dingin. Sebaliknya, ia membingkai “kemolekan”—keindahan yang muncul dari ketidakteraturan.

Dua belas jam sebelum pertunjukan, sebuah percakapan sederhana menggambarkan filosofi di balik karya ini.

Ketika ditanya tentang kegugupan menghadapi “gelombang” pertunjukan, Mantra menjawab dengan analogi lampu pijar: energi positif dan negatif bertemu dalam ruang hampa, menghasilkan cahaya yang bermanfaat.

Baca Juga :  Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti

Jawaban itu bukan sekadar metafora, tetapi juga kunci untuk memahami Unconscious Theory: bahwa ketegangan, kontradiksi, dan ketidakpastian justru dapat melahirkan sesuatu yang bermakna.

Laboratorium Seni di NTB

Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menegaskan bahwa pertunjukan ini merupakan bagian dari agenda reguler tahun 2026. Ia melihat karya seperti ini sebagai jembatan antara tradisi dan kontemporer.

“Taman Budaya adalah laboratorium,” ujarnya. “Tempat seniman berinovasi.”

Sementara itu, I Nyoman Gde Adimusti menilai pertunjukan ini sebagai model baru dalam seni pertunjukan; menggabungkan alat musik modern, tradisi, dan video dalam satu kesatuan imajinatif.

Pandangan ini menegaskan bahwa Unconscious Theory bukan hanya karya artistik, tetapi juga bagian dari dinamika ekosistem seni di Nusa Tenggara Barat. Ia menunjukkan bahwa daerah memiliki potensi untuk menjadi pusat inovasi seni media baru, dengan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Respon penonton pun menunjukkan bahwa eksperimen ini tidak sia-sia. Yatik Kahar menyebut pertunjukan ini luar biasa; sederhana namun kompleks, memadukan seni kontemporer, etnik, dan balada secara mulus.

Ia menyoroti performa vokal Nyra Maulida yang multitasking, serta harmoni musik yang kuat. Bahkan, unsur kecerdasan buatan yang digunakan justru terasa natural, menyatu dengan konsep Organic Mind.

Gaya artistik Mantra Ardhana (depan kanan menunjuk) yang cenderung surealis terasa kuat, tetapi ia tidak terjebak dalam abstraksi yang dingin (Foto: aks/ceraken.id)

Dari luar daerah, Soni Hendrawan, perupa dan pemusik asal Sukabumi, menyebut karya ini sebagai alternatif yang menarik, inspiratif, dan kontemplatif.

Respon-respon ini menunjukkan bahwa meski tidak mudah dipahami, Unconscious Theory tetap mampu menyentuh, baik secara emosional maupun intelektual.

Kembali ke “Sangkan Paraning Dumadi”

Di penghujung pertunjukan, narasi kembali pada akar filosofis: sangkan paraning dumadi—asal dan tujuan kehidupan. Namun, alih-alih memisahkan keduanya sebagai dua titik berbeda, Unconscious Theory menawarkan kemungkinan bahwa keduanya adalah lingkaran yang sama.

Penonton tidak diberikan jawaban. Mereka justru diajak untuk menerima bahwa tidak semua hal harus memiliki jawaban.

“Kamu tidak hilang. Kamu sedang kembali.”

Kalimat itu menjadi penutup sekaligus pembuka; penutup dari pertunjukan, tetapi pembuka bagi perjalanan kesadaran yang baru.

Pada akhirnya, Unconscious Theory bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah pengalaman eksistensial. Ia mengajak kita untuk mempertanyakan kembali cara kita memahami realitas, identitas, dan kesadaran.

Dalam dunia yang serba terukur, karya ini hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua hal bisa atau perlu diukur.

Bahwa ada ruang-ruang di dalam diri yang tidak memiliki batas.

Dan mungkin, justru di sanalah kita benar-benar ada. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh
Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti
The Unsconcious Theory: Pertunjukan Imersif yang Menggugat Dominasi Mesin atas Kesadaran Manusia  
Memasuki Ruang Tanpa Tepi: Membaca “Unconscious Theory” sebagai Pengalaman Kesadaran
Menembus Batas Suara: Nyra Maulida dan Laku Ketidaksadaran di “Unconscious Theory”
Ampenan Groove, Ketika Puisi Menjadi Nada dan Kenangan

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 07:58 WITA

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Rabu, 15 April 2026 - 18:37 WITA

“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama

Selasa, 14 April 2026 - 13:09 WITA

Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Sabtu, 11 April 2026 - 00:44 WITA

Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti

Rabu, 8 April 2026 - 01:51 WITA

The Unsconcious Theory: Pertunjukan Imersif yang Menggugat Dominasi Mesin atas Kesadaran Manusia  

Berita Terbaru

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:20 WITA

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA