Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

- Penulis

Selasa, 14 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sangga Boemi.  Pertanyaan itu membuka ruang pemahaman bahwa karya dalam album ini memang berangkat dari teks sastra yang dialihwahanakan menjadi komposisi musik (Foto: ist/ ceraken.id)

Sangga Boemi. Pertanyaan itu membuka ruang pemahaman bahwa karya dalam album ini memang berangkat dari teks sastra yang dialihwahanakan menjadi komposisi musik (Foto: ist/ ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah geliat musik independen yang semakin dinamis, kemunculan karya-karya berbasis eksplorasi rasa dan sastra menjadi angin segar bagi lanskap musik lokal. Salah satu yang mencuri perhatian adalah rilisan terbaru bertajuk Ampenan Groove, sebuah mini album dari Pipiet Tripitaka, yang baru saja meluncur pada 27 Maret 2026 di berbagai platform streaming seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

Mini album ini tak hanya menghadirkan komposisi musikal, tetapi juga merangkum pertemuan antara puisi, kenangan, dan musikalitas yang padu. Hal tersebut tercermin dari respons vokalis Nusaria, Sangga Boemi, yang memberikan ulasan personal usai mendengarkan keseluruhan karya tersebut.

Perspektifnya menjadi menarik karena datang dari sesama pelaku seni yang juga baru merilis karya visual untuk single “Tanpa Nama”.

“Baru selesai saya dengarkan ini, bagus semua lagunya. Ada nuansa jazzy-jazzynya,” ujar Sangga Boemi, Senin malam (13/04) lalu.

Ia menilai, karakter musikal dalam Ampenan Groove sangat lekat dengan identitas Pipiet, baik dari sisi aransemen maupun pembawaan vokal. Kesan tersebut mengingatkannya pada warna suara Vina Panduwinata, penyanyi legendaris era 1980-an yang dikenal dengan karakter vokal lembut namun tegas.

Menurut Sangga, kekuatan utama album ini terletak pada keseimbangan antara eksplorasi musikal dan kedalaman emosi. Ia mengaku memulai pengalaman mendengarnya dari lagu “Terkoyak Ujung Mimpi” dan “Puspa”, dua komposisi dengan energi aransemen yang terasa hidup.

Perjalanan musikal itu kemudian berlanjut ke “Kutulis Kata Maaf”, “Kereta Langit Sudah Datang”, hingga ditutup oleh “Selamat Jalan Kawan”.

Dari keseluruhan trek, dua lagu menjadi titik paling membekas baginya: “Kutulis Kata Maaf” dan “Kereta Langit Sudah Datang”. “Saya seperti terbawa saja dengan nuansa lagu dan aransemennya,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana musik dalam Ampenan Groove tidak sekadar didengar, tetapi juga dirasakan secara personal oleh pendengarnya.

Ini Semua Puisi, Kan?

Menariknya, Sangga sempat mempertanyakan satu hal mendasar: “Ini semua puisi, kan?” Pertanyaan itu membuka ruang pemahaman bahwa karya dalam album ini memang berangkat dari teks sastra yang dialihwahanakan menjadi komposisi musik.

Baca Juga :  Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Di sinilah kekuatan Pipiet Tripitaka sebagai musisi sekaligus pengolah puisi menjadi musikalitas menemukan bentuknya.

Pendekatan ini semakin terasa kuat dalam lagu “Kereta Langit Sudah Datang”, yang diketahui merupakan adaptasi dari cerita pendek karya almarhum Imtihan Taufan. Bagi Sangga Boemi, kedekatan emosional dengan sosok tersebut menjadi dimensi tambahan dalam proses menikmati lagu.

Ia bahkan mengenang pertemuannya dengan almarhum saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sekitar tahun 2007–2008.

“Alhamdulillah, jadi satu kebanggaan sendiri pernah berjumpa almarhum meskipun tidak mengenal secara jauh,” tuturnya. Kenangan personal ini kemudian bertaut dengan pengalaman musikal yang ia rasakan, menciptakan ruang refleksi yang lebih dalam.

Dalam unggahan statusnya, Sangga juga menuliskan bahwa mendengarkan karya yang terhubung dengan sosok yang telah tiada memberikan makna berbeda.

“Selain menjadi refleksi diri, juga sebagai pengingat sebuah perjalanan. Karena sejatinya kita hanya akan dikenang sebagai simbol dalam memaknai hidup,” tulisnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Ampenan Groove tidak hanya bekerja sebagai karya seni, tetapi juga sebagai medium kontemplasi.

Memiliki Alur Kuat

Lebih jauh, Sangga menilai bahwa susunan lagu dalam mini album ini memiliki alur yang kuat. Ia menggambarkannya sebagai perjalanan yang berdinamika, layaknya fase-fase kehidupan sehari-hari.

Struktur naratif tersebut memperkuat kesan bahwa album ini disusun dengan konsep yang matang, bukan sekadar kumpulan lagu.

Di balik produksi Ampenan Groove, terdapat kolaborasi yang solid. Selain Pipiet Tripitaka sebagai penggagas utama, peran kriszappa sebagai produser sekaligus art director turut memberikan warna tersendiri.

Proses kreatif yang dilalui pun tidak sederhana, mengingat karya ini harus melewati kurasi ketat sebelum akhirnya dirilis ke publik.

Dalam konteks industri musik, rilisan seperti Ampenan Groove masuk dalam kategori Extended Play (EP), atau yang lebih dikenal sebagai mini album. Format ini umumnya terdiri dari tiga hingga enam lagu dengan durasi di bawah 30 menit.

Baca Juga :  Rock ’n' Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

EP menjadi pilihan strategis bagi banyak musisi, terutama dalam menghadirkan karya yang lebih fokus dan eksperimental tanpa beban produksi sebesar album penuh.

Fungsi EP sendiri cukup beragam, mulai dari sebagai jembatan menuju album penuh, ruang eksplorasi genre, hingga strategi rilisan yang lebih efisien. Dalam kasus Ampenan Groove, format ini tampaknya dimanfaatkan untuk menghadirkan konsep musikal yang utuh namun tetap ringkas, dengan penekanan pada kualitas dan kedalaman isi.

Perbedaan antara EP, single, dan album penuh juga menjadi penting untuk dipahami dalam membaca konteks rilisan ini.

Jika single biasanya hanya berisi satu hingga tiga lagu, dan album penuh mencakup lebih dari tujuh lagu dengan durasi panjang, maka EP berada di tengah sebagai format yang fleksibel. Ia memungkinkan musisi menyampaikan narasi tanpa harus terikat pada struktur album konvensional.

Kehadiran Ampenan Groove sekaligus menegaskan bahwa musik lokal terus berkembang dengan pendekatan yang semakin beragam.

Integrasi antara puisi dan musik, seperti yang dilakukan Pipiet Tripitaka, menunjukkan bahwa batas-batas antar medium seni semakin cair. Hal ini membuka peluang bagi eksplorasi kreatif yang lebih luas di masa depan.

Bagi pendengar seperti Sangga Boemi, pengalaman menikmati album ini bukan sekadar aktivitas estetis, melainkan perjalanan emosional yang menyentuh memori, refleksi, dan pemaknaan hidup. Dari sanalah kekuatan sejati Ampenan Groove terletak, bukan hanya pada bunyi, tetapi pada makna yang beresonansi jauh melampaui nada.

Di tengah arus industri musik yang sering kali bergerak cepat dan instan, karya seperti ini hadir sebagai pengingat bahwa seni masih memiliki ruang untuk hening, merenung, dan meresapi. Sebuah ruang di mana puisi, musik, dan kenangan bertemu; dan dari sanalah lahir pengalaman yang tak mudah dilupakan. (aks)

 

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA